Jumat, 26 Februari 2010

Isadora

Bu Isadora hari Minggu setahun yang lalu bangun pagi dengan perasaan kaget dan tidak tenang. Bagaimana tidak, berita hilangnya Grace telah sampai ke telinganya dengan begitu cepat. Om Sammy rupanya telah menghubunginya juga. Berita itu mengatakan bahwa Grace telah kabur dari rumah tanpa membawa apa-apa, hanya membawa baju yang dipakainya saja dan sandal jepit. Tidak tahu ke mana Grace hendak pergi, tak ada yang tahu. Memang hanya Grace dan Tuhan saja yang tahu. Oleh karena hanya Tuhan yang tahu, Ibu Isadora segera memakai cara Tuhan untuk membantu mencari Grace. Yaitu dengan berdoa.
“Allah Bapa kami yang berkuasa di bumi dan di surga, kembali kami datang ke hadiratMu untuk memohonkan sesuatu. Anak kami Grace, hari ini, pergi entah ke mana. Tolong temukan Grace, ya Allah, dan bawa Grace kembali pulang dengan selamat kepada keluarganya di rumah. Dalam nama Yesus, kami berdoa dan mengucap syukur. Amin.” Demikian doa Ibu Isadora yang penuh dengan kasih dan rasa prihatin atas hilangnya salah satu anak murid kesayangannya.
Bu Isadora adalah guru agama Grace waktu SMP. Meskipun Grace waktu itu sudah masuk kuliah semester pertama, hubungannya dengan Bu Isadora tetap terjaga baik. Bu Isadora selalu menganggap semua muridnya seperti anaknya sendiri. Semua itu karena Bu Isadora sangat mengasihi Tuhan dan bertekad untuk menjadi guru yang lebih dari sekedar mengajar. Bu Isadora ingin menjadi seorang guru yang membimbing dan membombong anak muridnya untuk lebih mengenal dan mengasihi Tuhan. Salah satu muridnya yang paling dekat hubungannya dengan Bu Isadora adalah Grace.
Sewaktu SMP, Grace terkenal sebagai seorang murid yang rajin dan pandai. Ia sering mendapatkan gelar juara kelas. Selain pandai, Grace juga sangat senang berdoa kepada Tuhan. Setiap jam pelajaran kosong, jam istirahat, dan jam pulang sekolah, Grace selalu menyempatkan diri untuk datang ke ruang agama Kristen di sekolahnya untuk berdoa kepada Tuhan. Entah apa yang selalu disampaikannya kepada Tuhan. Ibu Isadora senang sekali melihat Grace setiap kali Grace berdoa karena Grace terlihat sangat khusuk dan serius, sangat jauh berbeda dengan rata-rata teman-temannya yang lain. Grace juga sering menulis surat untuk Tuhan dan Bu Isadora tentang banyak hal. Dari hal-hal kecil sampai besar dituliskannya di surat yang kadang pendek kadang panjang. Namun hanya satu masalah yang tidak pernah diungkit Grace kepada Bu Isadora. Dan Bu Isadora tahu itu. Setiap kali berdoa, Bu Isadora selalu ingat akan masalah ini dan membawanya dalam pokok-pokok doa hariannya. Masalah yang sangat pelik untuk anak remaja seusia Grace. Tidak heran Grace terlihat lebih banyak berdoa dan sering sekali terlihat menangis dalam doa-doanya. Tapi Ibu Isadora tahu bahwa nanti akan ada saatnya pemulihan datang dan benarlah itu. Tiga tahun kemudian, saat Grace kelas tiga, Tuhan menjawab masalahnya dengan cara yang ajaib. Benar-benar indah cara kerja Tuhan, pikir Bu Isadora. Masalah itu jugalah yang mendekatkan Grace dengan Bu Isadora. Hubungan mereka lebih dari sekedar guru dan murid. Grace telah menganggap Bu Isadora seperti ibunya sendiri dan demikian juga dengan Bu Isadora.
Setelah berdoa dan bersaat teduh sejenak, tiba-tiba pintu rumah Bu Isadora diketuk. Segera Bu Isadora membuka pintu rumahnya, dan tampaklah di depan rumahnya, Grace yang baru saja didoakannya. Grace tampak mengenakan pakaian rumah dan tanpa membawa apa-apa.
“Astaga, Grace… Puji Tuhan!!! Ayo, masuk…” sambut Ibu Isadora sambil memeluk Grace dengan erat.
Tanpa mengucapkan kata-kata, Grace pun masuk. Dia disambut dengan hangat oleh Bu Isadora dan keluarganya yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Tanpa basa-basi Grace langsung duduk di ruang tamu. Mulutnya sedikit komat-kamit seperti orang yang sedang berbicara sendiri. Bu Isadora menyajikan teh hangat dan sedikit makanan ringan kesukaan Grace. Grace masih belum bisa diajak komunikasi. Masih sibuk dengan angan-angannya sendiri. Sementara itu, Bu Isadora segera menelepon rumah Grace dan berbicara dengan orang tua Grace serta Om Sammy yang segera mengabarkan kepada Martin dan Melody perihal keberadaan Grace, sahabat mereka.
“Grace, apapun yang terjadi, kamu tetaplah anakku yang kusayangi,” batin Bu Isadora sambil memandang Grace dengan perasaan yang penuh belas kasihan.
“Grace, mau mandi?” tanya Bu Isadora dengan lembut. Grace hanya menganggukkan kepala saja dan Bu Isadora segera menyiapkan handuk dan pakaian ganti yang cocok untuk Grace. Grace pun mandi. Sementara itu, Bu Isadora menanti-nanti kedatangan keluarga Grace yang baru saja diteleponnya tadi.

Tidak ada komentar: