Senin, 21 Februari 2011

Holistik dalam Pelayanan Kesehatan... Sekedar Uneg-uneg... ^^

Holistik. Kata yang cukup akrab di telinga kita. Mendengar kata ini, dalam bayangan saya selalu muncul gambaran tentang pelayanan yang holistik. Pelayanan dalam bidang apa saja, entah itu keagamaan, kesehatan, pendidikan, saat ini sedang gencar-gencarnya mencanangkan kata "holistik". Bukan sekedar kata. Holistik mengandung makna menyeluruh, mencakup semua aspek, baik itu jasmani maupun rohani. Dalam bidang kesehatan, pelayanan yang holistik tentu saja mencakup pelayanan dari segi fisik, sosial, maupun spiritual. Pelayanan yang holistik ini mencoba menjawab kekurangan atau kelemahan dari bentuk pelayanan kesehatan ala barat yang lebih mementingkan sisi jasmaniahnya saja. Kebudayaan dan pola pikir mayoritas masyarakat dunia barat terlalu condong ke segi fisik material saja sehingga tidak dapat mengakui adanya realitas spiritual yang mempengaruhi hidup manusia. Manusia hanya dipandang sebagai makhluk jasmaniah saja. Sisi rohaniah tidak diperhatikan karena dianggap tidak logis dan tidak dapat dibuktikan keberadaannya. Akibatnya, dalam pelayanan kesehatan ala barat, yang dikedepankan adalah teknologi terkini dalam bentuk terapi obat-obatan kimiawi maupun teknik-teknik pengobatan mutakhir seperti operasi, khemoterapi, radioterapi, dsb. Tidak salah memang, tetapi kurang lengkap. Jika manusia hanya dipandang sebagai makhluk fisik/jasmaniah belaka, maka segi rohaniah/batiniahnya tidak pernah diperhatikan dengan selayaknya. Akibatnya, manusia hanya dipandang seperti layaknya mesin saja lengkap dengan onderdil2 yang dapat rusak. Pelayanan kesehatan ala barat pun terkesan kering akan sentuhan personal dari para pelayannya.

Di sisi sebaliknya, pelayanan kesehatan ala timur lebih mengedepankan sisi spiritual dibandingkan sisi jasmaniah. Orang-orang yang mendalami mistik ala timur memandang badan atau jasmani manusia itu hanyalah ilusi belaka. Yang paling utama dan merupakan kenyataan yang sebenarnya adalah spiritualitas. Untuk mencapai kondisi yang sempurna, termasuk kesehatan, manusia harus meleburkan dirinya ke dalam dimensi spiritual. Pribadi manusia harus melebur dalam semesta yang impersonal. Menurut tradisi mistik ala timur, keadaan impersonal atau tanpa kepribadian itulah yang paling ideal. Berdasarkan keyakinan ini, maka berkembanglah suatu sistem pelayanan kesehatan holistik ala timur yang mengedepankan usaha-usaha menyatukan/meleburkan pribadi manusia dalam ketiadaan pribadi semesta melalui meditasi-meditasi, penyeimbangan energi, dsb. Dalam perkembanagn zaman dan budaya yang makin materialistik dan kosong secara spiritual, konsep-konsep mistik ala timur itu begitu cepatnya menarik perhatian mereka-mereka yang sudah jenuh dengan buaian materialsme. Maka, tidak jarang orang-orang zaman sekarang pun ikut ambil bagian dalam pengobatan-pengobatan alternatif yang menyebut diri sebagai "holistik" karena sudah frustrasi dengan "kegagalan" pengobatan/pelayanan kesehatan ala barat.

Lalu, di manakah posisi kita sebagai orang percaya (kepada Tuhan Yesus sebagai TUHAN) seharusnya? Terlalu ekstrim dengan mengedepankan salah satu sisi kemanusiaan entah itu jasmani maupun rohani tentu tidaklah tepat. Kita perlu mengingat kembali kebenaran TUHAN yang berdasarkan sumber yang dapat dipercaya, yaitu Kitab Suci (Alkitab). Berdasarkan kesaksian Alkitab, manusia terdiri dari roh, jiwa, dan tubuh di mana ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ketiga bagian itu dapat dibedakan tetapi jika dipisahkan maka mereduksi hakikat kita sebagai manusia yang hidup di dunia. Ketiganya penting. Manusia berada dalam kondisi yang sehat dan sempurna apabila terdapat hubungan yang selaras dan harmonis dengan TUHAN sang Pencipta. TUHAN adalah Pencipta yang memiliki kepribadian. Manusia tidak dapat melebur menjadi tuhan, tetapi TUHAN melalui Roh Kudus dapat tinggal dalam manusia. Kemanunggalan TUHAN melalui RohNya dalam manusia itulah yang menciptakan kondisi sehat seutuhnya yang disebut sebagai Shalom. Jadi, holistik dalam perspektif iman kita sebagai orang yang percaya kepada TUHAN adalah sempurna sama seperti TUHAN adalah sempurna. Jika TUHAN itu baik, maka kita pun harus menjadi baik. Jika TUHAN itu kasih, maka kita pun harus hidup dalam kasih. Pelayanan kesehatan yang holistik pun demikian. Tidak hanya mengedepankan sisi teknologi semata, tetapi juga menunjukkan kasih yang diwujudnyatakan dan dirasakan melalui perbuatan manusiawi.

Sebagai kesimpulan, holistik harus diterapkan dalam berbagai bidang pelayanan. Holistik yang sesungguhnya adalah holistik yang melibatkan TUHAN sebagaimana Dia adanya. Pelayanan kesehatan, pendidikan, keagamaan, dll yang holistik mencakup pelayanan dalam bidang fisik seimbang dengan pelayanan dalam bidang spiritual. Tanpa keseimbangan yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka holistik hanya tinggal sebagai jargon tanpa arti yang sesungguhnya. Marilah kita menerapkan prinsip holistik tersebut dalam bidang kita masing-masing di mana Tuhan telah menempatkan kita.


Tidak ada komentar: