Minggu, 13 Februari 2011

Seni Menjadi Pasien

Bukan hanya dokter saja yang perlu belajar "seni menjadi dokter"... Menjadi pasien pun ada seninya... Lho, seni menjadi pasien? Seperti apa ya itu? Hehe... meskipun aku bukan pakar ilmu seni atau psikologi, aku mau mencoba mengutarakan pandanganku tentang ini... jadi, mohon maaf kalau apa yang aku tuliskan ini banyak ngawurnya ^^. Menjadi pasien tentu bukanlah keinginan dari manusia pada umumnya. Karena menjadi pasien itu berarti menjadi sakit atau tidak berdaya. Dalam kondisi sakit dan tidak berdaya itu, orang mendapat status sebagai "pasien" manakala dia meminta pertolongan profesional dokter atau ahli penyembuhan lainnya. Dan sebagai pasien, seringkali mereka yang sakit itu berada atau ditempatkan di posisi yang lebih rendah daripada dokter atau ahli penyembuhannya. Meskipun sekarang orientasi pelayanan kesehatan sudah beralih ke pasient safety dan sejenisnya, tetap saja posisi pasien masih di bawah posisi dokter atau ahli penyembuhan berdasarkan pengetahuan dalam bidang kesehatan yang dimiliki. Ya wajar saja... yang tidak tahu berguru pada yang lebih tahu, demikian pula pasien "berguru" pada dokter atau ahli penyembuhan.

Yang seringkali kuamati meskipun akurasinya patut dipertanyakan ^^, ternyata sikap sebagai seorang pasien pun turut mempengaruhi proses komunikasi dengan sang dokter/ahli penyembuhan yang nantinya juga mempengaruhi proses kesembuhan penyakitnya. Ada pasien yang bersikap positif optimistik dan kooperatif, namun ada juga yang bersikap negatif pesimistik dan tidak kooperatif. Sikap positif pasien ditunjukkan dengan menyapa dokter/ahli penyembuhan dengan ramah, rendah hati, mau bekerja sama, terbuka terhadap masukan, mau belajar, dan punya harapan serta semangat meskipun mungkin penyakit yang dideritanya sukar disembuhkan atau bahkan tidak dapat disembuhkan sama sekali. Dokter/ahli penyembuhan yang menghadapi pasien seperti ini akan terbantu juga dalam melayani, minimal merasa simpati terhadap pasiennya sehingga kalaupun toh tidak bisa memberi jaminan kesembuhan 100%, dokter tetap bisa memberikan pelayanan terbaik dengan hati yang penuh sukacita dan semangat. Sebagai timbal balik, pasien akan mendapat kepuasan entah dia sembuh sempurna atau tidak... Sikap optimis yang menyertai sikap positif itu akan mendorong kemajuan terapi juga. Sudah banyak kasus yang menunjukkan bahwa efek placebo atau sugesti yang timbul dari sikap optimis ternyata berpengaruh banyak terhadap kesembuhan suatu penyakit yang sukar dijelaskan secara ilmiah. Apalagi jika ditambah faktor eks yaitu faktor Tuhan, maka tidak mustahil yang namanya mukjizat itu dapat terjadi.

Sebaliknya, sikap negatif yang ditunjukkan pasien dapat berupa sikap antipati, bermusuhan, meremehkan, tidak percaya, senang membantah, dan hanya mencari gara-gara. Sikap ini dapat menghambat hubungan komunikasi dengan dokter/ahli penyembuhan sehingga menghambat pula proses kesembuhan yang dapat berlangsung. Apalagi jika ditambah dengan sikap pesimistik. Penyakit seringan apa pun bahkan tidak akan tersembuhkan apabila pasien itu sendiri sudah tidak punya harapan dan semangat di dalam dirinya. Dalam hal ini, tugas pasien adalah mengaktifkan kembali sikap positif dan optimisme dalam dirinya. Tidak mudah memang, apalagi jika si pasien dalam kondisi yang depresi. Dibutuhkan dukungan yang kuat dari dokter/ahli penyembuhan, keluarga, teman2, dan lingkungan sekitar pasien untuk membangun semangat dan harapan yang positif itu.

Membangun sikap yang positif, optimis, dan kooperatif itulah yang aku sebut sebagai "seni menjadi pasien". Bukan hal yang mudah memang, sebab sikap yang positif itu bukanlah sikap alamiah dari manusia yang hidup di dunia yang tidak abadi ini. Tetapi bagaiamanapun juga, sikap positif itu perlu dan harus terus menerus ditumbuhkan apalagi jika sedang berada di posisi sebagai pasien. Kemenangan yang sejati dari seorang pasien bukanlah semata-mata sembuh dari penyakit fisiknya melainkan bagaimana menumbuhkan dan mempertahankan sikap hati dan jiwanya tetap hidup. Sehingga, meskipun pada akhirnya harus menghadapi kematian akibat penyakit yang diderita, si pasien tetaplah tergolong sebagai pemenang.

Siap menjadi pasien yang menang? Hehe... ^^

Tidak ada komentar: