Minggu, 27 Februari 2011

Once Upon A Time In My Life... About Dikte...

Ada satu kejadian yang masih aku ingat waktu aku kelas satu SD. Kejadian itu adalah ketika guruku, Bu Kapti namanya, sedang mengajari kami siswa-siswa kelas satu SDN Ungaran I Teladan Yogyakarta (hehe, ngujub... ^^) pelajaran "dikte". Maksudnya, Bu Kapti membacakan suatu kalimat sederhana, kemudian kami para murid yang masih lugu dan polos ini diwajibkan menuliskan kalimat tersebut dengan baik dan benar. Hadiahnya adalah mendapat nilai bagus. Benar-benar sistem pembelajaran yang menurutku kurang mendidik (maaf, Bu Kapti). Karena, kami dibentuk untuk begitu saja menuruti apa kata orang tanpa diperbolehkan membantah atau bertanya, hanya demi nilai bagus. Ke depannya, nggak heran kalau mentalitas bangsa ini pada umumnya hanya bersikap "Yes Mam, Yes Sir" tanpa pernah mempertanyakan suatu perintah dengan kritis, sekali lagi hanya demi penilaian atau upah semata. Kembali ke kelas Bu Kapti waktu itu. Yang bikin aku terheran-heran, aku ingat pernah dua kali tidak melakukan apa yang seharusnya diakukan oleh murid-murid pada umumnya. Kali yang pertama, aku iseng-iseng mengosongi lima kalimat yang diucapkan oleh Bu Kapti. Padahal, total kalimatnya hanya sepuluh buah. Maka, otomatis aku hanya mendapat nilai lima. Wew... Bayangkan!!! Herannya, aku nggak merasa sedih atau frustrasi. Aku malah senang mendapat nilai lima karena bosan dapat nilai sepuluh terus. ^^ Kali yang kedua, aku 'hanya' mengosongi empat kalimat sehingga nilaiku pun 'cuma' dapat enam. Kali ini, Bu Kapti mulai menaruh perhatian padaku. Di samping angka enam, Bu Kapti menulis pesan yang intinya menanyaiku mengapa aku banyak kosongnya. Beliau pikir mungkin aku mengalami keterbelakangan atau gangguan dalam menangkap pelajaran... mungkin... ^^. Bukannya sedih atau malu atau 'sadar', aku malah bangga mendapat 'surat' dari Bu Kapti itu. Angka enam aku lukis menjadi wajah orang, dan tulisan Bu Kapti aku bingkai indah2. Hehe... Aneh kah? Jujur, waktu kelas satu SD itu aku nggak punya beban untuk mengumpulkan nilai sebagus-bagusnya. Aku ke sekolah karena aku suka sekolah. Aku nggak ada ambisi atau niatan untuk jadi juara atau jadi pengoleksi nilai bagus. Bisa dikatakan, jiwaku masih murni dan polos, belum tercemar racun2 pendidikan yang membodohi. Maaf, maaf kalau ungkapanku ini terlalu kasar...

Saat ini aku tidak sepolos dulu. Aku sekarang tidak seberani dan semurni dulu. Sekarang aku mudah terpengaruh oleh apa kata orang yang kemungkinan timbul di belakangku. Aku semakin takut dengan penilaian2 orang lain. Aku heran, ke manakah aku yang waktu kelas satu itu? Ke manakah aku yang nggak ambil pusing dengan penilaian orang lain itu? Rasanya aku sungguh rindu kepadanya. Heran. Aku dulu begitu kreatif ya... ternyata aku ini pernah sekreatif itu rupanya. Hmmm... kenapa sekarang aku bisa gak kreatif lagi ya? Bahkan, aku sekarang jarang banget bertanya. Mungkin karena aku nggak tahu lagi apa yang harus ditanyakan. Aku jarang mempertanyakan sesuatu. Mentalku terlalu dimanjakan dengan didikte oleh orang lain. Aku terlalu asyik tinggal di zona nyaman 'didikte' orang lain. Lihat saja contohnya. Setiap kali jaga di IGD, aku masih belum bisa berpikir secara mandiri 100%. Masih menggantungkan diri pada senior. Sungguh memprihatinkan.

Aku nggak mau terjebak di sini untuk selamanya. Aku nggak mau terjebak dalam 'zona dikte' ini. Aku mau bangkit. Aku mau kembali menjadi diriku seperti waktu kelas satu dulu. Aku yang bebas dari ikatan nilai-nilai dunia. Aku yang berani tampil beda. Aku yang unik dan sukar diprediksi. Ya... aku... Bisakah? Mampukah? Sanggupkah?

Tuhan, tolong aku ya... aku mau menghayati kembali semangatku seperti waktu dulu... sucikan hatiku dan pikiranku, Tuhan... aku mau bersinar lagi bagiMu... bukan klise bukan teori... ini nyata... tolong aku, Tuhan... demi nama Tuhan Yesus... amin...

DIKTE??? NO MORE!!! ^^

Tidak ada komentar: