Rabu, 01 Juli 2009

Suasana Pagi yang Rusak

Suasana pagi ini pun sedikit rusak oleh sikap bapakku yang terlalu galak sama Yayan. Gak tahu kenapa, bapakku sepertinya tidak terlalu welcome sama sepupuku yang satu itu. Mungkin karena Yayan terlalu hiperaktif menurut bapakku kali ya. Atau mungkin karena ada semacam disfungsi dalam keluarga masing-masing. Coba aku analisis. Bapakku yang lahir dalam keluarga tentara di mana beliau harus kehilangan figur seorang ayah pada usia yang masih sangat muda (kelas 5 sd, kakekku mati dibunuh oleh what so called G30S/PKI), dan beliau harus mengasuh adik2nya yang waktu itu masih kecil2. Gak terbayang deh bagaimana repot dan susahnya... aku seharusnya kagum dan salut sama beliau. Tapi mungkin ada sesuatu yang bapakku belum pelajari yaitu tentang kelembutan hati seorang bapak yang meskipun dari luar kelihatan sangar. Kelembutan hati yang seharusnya gak salah jika diperlihatkan. Seorang pria sejati tidaklah salah menunjukkan sisi lembutnya apalagi di hadapan anak2nya sendiri. Mungkin itu yang belum diperoleh bapakku dari kakekku.

Kemudian di sisi lain, Yayan yang lahir dalam keluarga yang bisa dikatakan disfungsional juga (maaf, istilahnya terlalu kasar). Setiap hari mendapat kata-kata yang keras dan cenderung meredahkan harkat dan martabatnya sebagai seorang anak yang seharusnya layak untuk dikasihi, dibimbing, dan dibombong dengan kata2 yang lembut. Sudah mulai terlihat efek perlakuan negatif terhadap Yayan yaitu dengan adanya rasa minder dan rendah diri yang kronis. Ini menurut pengamatanku sih, gak terlalu valid.

Yang bikin aku malu terhadap diriku sendiri adalah waktu tadi Yayan dihardik sama bapakku secara tiba-tiba tanpa ada angin maupun hujan. Aku sendiri sampai kaget. Padahal masalahnya cuma sepele, hanya karena bola kaki yang ada di rumahku hilang entah ke mana. Kebetulan yang sering makai itu bola adalah Yayan (dan Veno, kakak Yayan). Tapi yang kena semprot secara tidak hormat adalah Yayan. Dan parahnya, aku cuma diam saja dan tidak membantu apa2, karena aku juga kaget, kok tiba2 bapakku membentak Yayan tanpa tedeng aling-aling. Sebenarnya ini ada apa?

Masalahnya sebenarnya sepele, tapi yang bikin tampak parah adalah sikap bapakku itu. Sepertinya ada sesuatu yang menyebabkannya jadi seperti itu. Mungkin nanti aku bisa ngomong ke bapakku secara empat mata, dari hati ke hati. Supaya tidak menimbulkan gosip atau fitnah yang keji (pinjam istilah tetangga). Aku mau coba ah menyelesaikan masalah tanpa masalah. Aku mau menjadi jawaban dan nggak hanya diam. Ya, aku mau.

God, help me please...

Tidak ada komentar: