Minggu, 12 Juli 2009

Tentang Lik Sar

Aku sampai sekarang masih belum bisa mengasihi pekerja rumah tangga (PRT) di rumahku, Lik Sar dengan sepenuh hati... Entah kenapa sulit sekali untuk menghargai dan menyukainya... yang ada hanya rasa sebel dan gemes yang selalu muncul saat melihat sosoknya dan mendengar suaranya yang cempreng... Padahal Lik Sar nggak salah apa2 sama aku... penyakit lamaku ini memang sedang kumat.... apa itu? Yaitu penyakit membenci orang lain yang lebih rendah kedudukannya daripada aku tanpa sebab yang jelas... aku selalu "niteni" bahwa di antara orang2 sekitarku, pasti ada satu orang yang paling kubenci... pasti ada satu orang yang jadi objek kebencianku... sudah dari dulu penyakit ini ada dalamku dan aku sulit untuk mengenyahkannya...

Dari sejak kecil, keluargaku selalu mempunyai PRT (supaya lebih sopan daripada menyebutnya pembantu). Keberadaan mereka banyak sekali membantu keluargaku karena bapak ibuku orang yang sangat sibuk sehingga urusan tetek bengek rumah tangga sering terabaikan... Mempunyai PRT memang sangat menguntungkan, karena dengan begitu aku bisa leluasa belajar dan bermain tanpa harus direpotkan dengan urusan rumah tangga... Tapi kerugiannya pun juga ada... aku jadi tidak terbiasa hidup mandiri dan melayani orang lain... Sense of servingku jadi tidak terasah dan aku jadi nggak punya sense of belonging yang cukup... Akibatnya, aku jadi kaku dan nggak luwes di manapun, kapan pun, dan dengan siapa pun aku berada...

Kembali ke Lik Sar... berbeda denganku yang tampak dingin dan nggak grapyak, LIk Sar ini orangnya rame, ramah, dan supel... Meskipun dia orang desa yang nggak bertitel, aku menyadari bahwa dia jauh lebih kaya daripada keluargaku dalam hal keramahan dan sense of humanity... Dari kebiasaan sehari-harinya aja sudah kelihatan... LIk Sar selalu menyapa ramah tetangga2 sekitar rumahku, menyapa terlebih dahulu sebelum mereka menyapa... Beda dengan ibuku yang meskipun bertitel dokter bedah terkenal, ibuku jarang bahkan nggak pernah menyapa orang lain terlebih dahulu... Beda pula dengan bapakku yang kalo di rumah entah kenapa auranya bete terus, Lik Sar selalu tampak ceria meskipun kena marah atau omel dari seisi rumah... Mungkin ini yang dimaksudkan oleh firman Tuhan di mana "yang bodoh dari Allah dipakai untuk memalukan yang berhikmat dari dunia".

Berkaca dari kehidupan Lik Sar yang sederhana dan apa adanya itu, seharusnya aku introspeksi diri dan bukannya menumpuk kebencian tanpa alasan terhadap Lik Sar... Aku perlu berdoa lebih banyak meminta Tuhan untuk memampukanku mengasihi Lik Sar dengan segenap hati... Dan aku perlu memacu diriku sendiri untuk mulai bersikap baik sejak dari pikiran terhadap Lik Sar supaya aku nggak selamanya jadi orang yang munafik... Malu kan, anak Tuhan kok seperti ini? Hehe... Yosh!!! God help me!!!

Tidak ada komentar: