Sabtu, 04 Juli 2009

Pasto Sahabatku

Kumainkan musik yang indah melalui tarian jari jemariku di atas tuts hitam dan putih. Kutumpahkan semua perasaan yang ada. Tidak kupedulikan lagi kiri kananku. Yang ada hanyalah antara aku dan Dia. Aku tidak tahu sejak kapan kumulai rutinitas ini. Setiap pagi kubuka hariku dengan memainkan musik yang indah untukNya. Aku tidak tahu lagu apa yang sedang kumainkan, hanya mengalir begitu saja dari hatiku. Mumpung tidak ada orang lain di sekitarku, sehingga aku benar2 leluasa bermain hanya untukNya.

*******
Hari itu sungguh istimewa bagiku. Seorang sahabatku akan main ke rumahku. Sahabatku itu seorang cowok yang tampan dan baik. Baru setahun kami kenal karena kami sama-sama masuk dalam kelompok belajar yang sama. O iya, aku lupa memberi tahu, aku ini seorang koas atau calon dokter. Dan aku baru setahun mengikuti kesibukan menjadi koasisten di Rumah Sakit besar di kotaku. Benar-benar sibuk sehingga aku kekurangan waktu untuk bermain dan menikmati waktu-waktu santai. Untunglah Tuhan baik padaku sehingga di tengah-tengah kesibukan itu, aku berkenalan dengan seorang teman cowok yang sangat baik. Tampan pula. Dan baiknya lagi Tuhan, kami pun resmi menjadi sahabat. Hehe, seperti apa saja ya, pakai resmi2an segala. Anyway, aku sungguh bersyukur dengan hubungan persahabatan itu karena dapat menjadi oase di tengah padang gurung yang gersang. Kehidupan koas memang seperti padang gurun yang tandus, tiada berair...

Sahabatku itu bernama Pasto. Lengkapnya Akhmad Pastori. Nama yang unik ya... Seperti campuran antara dua kebudayaan, dua keyakinan yang berbeda. Maklum saja, ayah Pasto seorang Muslim dan ibunya seorang Katholik. Pasto sendiri sebenarnya masih belum menentukan pilihan, mau memeluk keyakinan yang mana. Meskipun demikian, demi kelancaran administrasi, Pasto selalu menuliskan "Islam" di kolom "agama". Tidak mengapa. Yang penting adalah Pasto itu seorang yang baik dan ramah, rajin, dan sangat menghormati orang tuanya. Aku sangat kagum dengan Pasto.

Hari itu Pasto datang ke rumahku dengan membawa laptop dan setumpuk buku referensi. Kami memang sudah berencana untuk mengerjakan suatu tugas bersama. Tugas presentasi yang harus kami selesaikan hari itu juga. Aku yang hanya memahami materi presentasi setengahnya saja dengan senang hati membantu Pasto menyusun slide-slide dan menggali materi dari referensi yang dibawanya. Pasto memang orang yang rajin dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas. Beda denganku yang sering hanya mengandalkan teman yang lain.

"Jadi, kesimpulannya begini... bla bla bla bla..." kata Pasto panjang lebar menjelaskan slide yang sedang disusunnya. Aku cuma mengangguk mengiyakan karena sejujurnya aku hanya memahami sebagian kecil yang Pasto katakan.
"Oke, aku setuju saja," kataku.
"Tidak ada tambahan atau sanggahan?" tanya Pasto sambil mengangkat alisnya.
"Ngggg... nggak deh... hehe...," duh, mulai ketahuan nih kalau aku sebenarnya tidak tahu apa-apa.
"Baiklah. Dengan demikian, tugas kita selesai!!!" seru Pasto dengan senyum kepuasan.
"Horeeee!!!" seruku menimpalinya.
"Wah, sudah jam berapa ini? Sepertinya sudah siang..."
"Mau ke mana, Pasto?"
"Belum tahu juga, aku masih punya banyak waktu luang."
"Mau makan?"
"Boleh juga"
"Tuh di atas meja ada makanan, ambil aja sendiri ya. Swalayan, hehe..."
"Oke"
Pasto pun menuju meja makan dan mengambil nasi serta lauk pauk untuk makan siang. Sudah jadi kebiasaan di rumahku, jika melewati jam makan siang, maka tamu yang ada harus diajak makan. Itu untuk menunjukkan penghormatan.

Sembari Pasto makan, aku menyalakan piano elektrikku dan mulai memainkan musik seperti yang biasa kumainkan setiap pagi. AKu mulai memainkan lagu pujian untuk Tuhan dan menyanyikan liriknya dalam hati. Tanpa sadar aku terhanyut di dalam suasana penyembahan sehinggaa sejenak melupakan Pasto yang masih makan di dekatku. Dan tanpa sadar pula, lirik pujian yang kunyanyikan dalam hati pun terucapkan melalui mulutku.

"Ku mau spertiMu Yesus... disempurnakan slalu... dalam segnap jalanku... memuliakan namaMu..."

"Jesus I belive in You... Jesus I belong to You... You're the reason that I live, the reason that I sing, with all I am..."

Tanpa terasa, aku sudah menyanyikan beberapa buah lagu pujian untuk Tuhan. Dan ketika aku sadar bahwa aku tidak sendirian di ruangan itu, aku pun menghentikan sejenak permainan musikku. Aku menoleh ke arah Pasto. Dan apa yang kulihat sungguh mengejutkanku. Pasto tidak lagi makan. Rupanya dia sudah selesai makan. Yang bikin aku terkejut, Pasto seperti habis menangis. Ada bekas air mata yang meleleh di pipinya.

"Pasto, kamu menangis ya?" tanyaku.
Pasto hanya mengangguk. Aku pun beranjak mendekatinya dan memberikan tisu.
"Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa kok," Pasto menggeleng," Aku hanya terharu saja"
"Terharu? Kenapa bisa?"
"Aku tidak tahu... waktu aku mendengar kamu main piano, apalagi waktu mendengar kamu menyanyi, aku seperti merasa ingin menangis... "
Aku pun terdiam. Tersadar. Mungkin ini saatnya Roh Kudus bekerja. Ya Tuhan, apa yang bisa kukatakan pada Pasto? Apa yang ingin Engkau sampaikan secara pribadi pada sahabatku ini?

Kami pun terdiam dalam keheningan yang kudus. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.

"Jeane..." Pasto tiba-tiba memanggilku.
"Ya?"
"Emmm... bisakah kau ceritakan padaku... mengenai Tuhan YEsus?"
"Apa?"
"Ya, aku rasanya ingin sekali mengenalNya... sudah lama aku mendengar ibuku berdoa sendiri di kamarnya, kadang hanya berbisik, kadang agak keras, beliau selalu menyebut nama Yesus... "
"Oh.... baiklah... tunggu sebentar ya..." aku segera berlari ke kamarku mengambil alkitab dan satu traktat kecil. Kemudian aku kembali dengan hati yang masih berdebar-debar. Ini pengalaman pertamaku memberitakan Tuhan Yesus pada seseorang, bukan sembarang ornag, melainkan sahabatku yang sangat kukasihi.

Dan hari itu pun aku menceritakan segala hal tentang Tuhan Yesus kepada Pasto. Aku buka kembali alkitabku dan kuberikan traktat kecil untuk Pasto sambil berdoa dalam hati supaya Roh Kudus bekerja membuka hati Pasto. Hari itu juga Pasto menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya pribadi dengan berdoa mengikuti doa yang aku ucapkan. Ya, hari itu menjadi hari yang istimewa bagiku dan bagi Pasto. Kami bukan hanya menjadi sahabat sekarang, tetapi lebih lagi, kami telah menjadi saudara dalam Tuhan Yesus. Dan entah apa lagi yang akan kami lalui bersama nantinya. Sekali lagi, Tuhan Yesus telah memberikan hadiah yang teramat indah dalam perjalananku melaui lembah kekelaman, yaitu kehidupan koas yang penuh liku-liku.

Tidak ada komentar: