Minggu, 14 November 2010

BP Maranatha

Sekarang gantian donk BP Maranatha unjuk gigi. Di sini jauh lebih tenang dan tenteram dibandingkan dengan BP Wonosari (untuk mengatakan lebih sepi ^^). Bayangkan, sehari di sini bisa cuma dapat satu saja pasien. Rekor tersedikit!!! Bravoo!!! Tapi ya konsekuensinya, penghasilan yang kudapatkan pun jauh lebih kecil dibandingkan yang lain. Satu pasien di sini dihargai lima ribu rupiah. Maka, aku yang kemarin dihitung menangani 8 orang pasien, hanya berhak mendapatkan 40 ribu rupiah. Hehe... tetap puji Tuhan!!! Jangan sampai aku jadi hamba uang. Nilai nominal itu bukanlah ukuran utama keberhasilan. Aku lebih mengutamakan kepuasan dan kenikmatan dalam bekerja. Sehingga, pekerjaan yang membosankan ini dapat kupandang sebagai permainan yang menyenangkan. Betul?

Kembali ke BP Maranatha. Meskipun sepi, aku mendapati bahwa suasana di BP ini cukup menyenangkan. Pegawak-pegawainya sejauh ini sangat baik dan ramah. Cewek semua!!! Maklum, BP ini juga merupakan Rumah Bersalin (RB). Jadi, gak ada perawat apalagi perawat cowok di sini. Yang ada adalah ibu dan mbak bidan. Bidan paling senior adalah Bu Deka, panggilannya. Beliau sudah puluhan tahun di sini. Sempat mengalami 'masa jaya' BP Maranatha waktu masih ada om Fifi di sini. Sekarang jadi sepi karena kalah saing sama RS di dekatnya. Hmmm... jangan menyalahkan siapa2... tetap bersyukur dan berpikiran positif aja. Yang penting masyarakat tertolong dan nama Tuhan tetap dimuliakan dengan hati yang tulus. Ada amen?

BP Maranatha... dari namanya sendiri saja, sudah menunjukkan adanya pengharapan besar akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Apalagi masa-masa sekarang yang musim bencana dan musibah. Tanda-tanda kedatanganNya semakin nyata terlihat dan terdengar. Di mana-mana ada banjir, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, tsunami, dll. Dalam masa-masa yang kata orang tak menentu ini, pengharapan akan kedatangan Tuhan Yesus merupakan berita kesukaan yang wajib disebarkan. Bagaimana caranya? Ya, bermacam-macam. Jangan berkecil hati. Tuhan pasti punya cara. Tuhan pasti buka jalan. Yang penting, saat Tuhan Yesus datang, kita sudah siap. Dan bukan hanya kita sendiri saja yang siap, melainkan juga saudara-saudara kita yang saat ini masih dirundun kegelapan dan membutuhkan juru selamat.

"Siapa mau Kuutus?" tanya Tuhan Yesus...

Ini aku Tuhan, utuslah aku...

Maranatha!!!

Tidak ada komentar: