Selasa, 30 November 2010

Perjalanan Jogja Nanggulan yang Menyenangkan

Hari ini aku mencetak satu prestasi. Nggak terlalu spektakuler sih. Cuma bisa bertahan nggak ketiduran di mobil sewaktu perjalanan pulang pergi Jogja Nanggulan-Nanggulan Jogja. Perjalanan dari Jogja ke Nanggulan, tepatnya ke BP Maranatha, diiringi oleh alunan rancak musik pujian yang diputer di Sasando 90.3 fm, thanks to Pak Sopir yang mohon maaf aku lupa namanya. Nggak ada yang terlalu menarik untuk diceritakan di sini. Perjalanan pulangnyalah yang lebih menarik. Dijemput tepat jam 13.00 WIB di BP, oleh pak supir yang lain yang sekali lagi mohon maaf aku lupa namanya, aku menghabiskan perjalanan pulang dengan melek semelek-meleknya. Thanks to pak sopir yang mengajakku ngobrol. Bisa-bisanya aku ngobrol ngalor ngidul tentang kecerdasan, kesuksesan, minat bakat, dan seputar kepuasan hidup. Pak sopir itu awal mulanya nanya gimana caranya supaya bisa pinter, karena dia punya anak yang masih duduk di bangku SMA. Dia prihatin dengan nilai bahasa Indonesia anaknya yang dikatakan cukup njomplang jika dibandingkan dengan nilai mata pelajaran eksakta. Yah, aku katakan saja berdasarkan keyakinanku, bahwa nilai-nilai akademis itu hanyalah sebatas di atas kertas. Dan kecerdasan itu ada macam-macam. Sebaiknya pusatkan saja pada kelebihan dan bukan kelemahan si anak. Justru, dengan nilai yang njomplang itu, semakin ketahuan minat dan bakat si anak sehingga ke depannya malah semakin mudah untuk menentukan jurusan apa yang dapat diambilnya. Kemudian aku juga menceritakan bahwa kesuksesan itu nggak bisa diukur semata-mata dengan nilai rupiah yang dihasilkan, tetapi bagaimana seseorang memperoleh kepuasan dalan bekerja. Yang kutekankan adalah: lakukan apa yang disukai, sukai apa yang dilakukan, maka uang akan mengejar kita, bukan kita yang mengejar uang. Aku membandingkan diriku dengan kakakku dalam hal pekerjaan di mana aku sangat menilai positif apa yang dilakukan oleh kakakku. Meskipun banyak yang tidak paham dengan yang dilakukannya, dia tetap berpegang teguh pada impiannya dan berani bayar harga untuk itu. Kulihat hidupnya pun sangatlah menyenangkan dan memuaskan sehingga dapat dikategorikan sebagai hidup yang sukses. Sedangkan aku masih mencari minat sejatiku sampai detik ini, sambil jalan dan kerja serabutan di rumah sakit.

Sepanjang perjalanan itu, dengan kalimat yang simpang siur dan terbata-bata, aku mencoba menjelaskan apa yang menjadi pandanganku tentang hidup dan pekerjaan. Yah, hitung2 sebagai latihan ngomong. Thank God, buat waktu yang luar biasa ini.

Tidak ada komentar: