Minggu, 14 November 2010

Chatting

Mengapa aku suka chatting? Meskipun kelihatannya gak berguna dan gak produktif... Karena dengan chatting, aku bisa mengaktualisasikan diriku sedemikian rupa sehingga aku merasa berarti. Aku bisa menyampaikan isi hati dan isi pikiran dengan lebih leluasa. Memang sih minus ekspresi wajah. Kata orang, ekspresi wajah dan bahasa tubuh itu berbicara lebih keras daripada kata-kata. Hm hm... Sungguhkah demikian? Masih belum tahu jawabannya... mungkin karena aku lebih mengandalkan pendengaran daripada penglihatan sehingga kata-kata dan intonasi suara jauh lebih berpengaruh bagiku daripada gerak gerik atau ekspresi wajah. Aku mungkin lebih ke tipe audio person. Beda dengan para visual atau audio visual person. Yang lucu lagi, aku sering bingung kalo bercakap-cakap face to face dengan orang lain. Aku bingung mau lihat apanya, matanya atau mulutnya. Kata orang lagi, kalo bercakap-cakap itu perhatikan matanya. Itu menunjukkan respek atau perhatian yang penuh. Tapi aku malah tambah bingung kalau harus lihat mata. Mau lihat mata kanan apa mata kiri? Kalau lihat mulutnya, itu lebih enak menurutku. Karena kalau telinga sulit mendengar ucapan yang pelan, aku masih bisa membaca gerakan mulutnya. Tapi kata orang lagi, orang yang suka memperhatikan mulut orang lain saat berbicara dan bukannya memperhatikan mata itu memiliki kecenderungan untuk autis. Doh, berarti aku ini cenderung autis ya? Hehe... Puji Tuhan! Lho kok? Lha iya, soalnya rata-rata orang autis itu punya kelebihan yang ornag lain nggak punya. Mereka dianugerahi Tuhan kecerdasan khusus di atas rata-rata. Ah, masa iya sih? Aku mungkin cenderung autis... tapi cerdas di atas rata-rata? Hehe... pingin banget sih, tapi kita tidak boleh sombong, kata mas Bernard (teman dewasa muda). wkwkwk...

Tidak ada komentar: