Minggu, 10 April 2011

Curhat Tentang Ibadah T_T

Tinggikanlah diriMu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaanMu mengatasi seluruh bumi!
Mazmur 57:12

Selamat pagi, Bapa...

Segala kemuliaan hanya bagiMu, Bapa. Hanya Engkau yang layak dipuji dan disembah.

Bapa, bangkitkan satu atau dua orang yang rindu dan hancur hati demi melihat kemuliaanMu dinyatakan kembali di gerejaMu di Sawokembar. Kiranya roh pujian dan penyembahan kembali berkobar di sana, Bapa. Kiranya api kudusMu menyambar persembahan hati yang hancur. Kiranya awan kemuliaanMu turun memenuhi bait kudusMu.

Bapa...
Hatiku kembali terusik. Jiwaku kembali gelisah. Apa sebab? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena pujian dan penyembahan di GKJ Sawokembar yang sepertinya mulai mengering kembali. Kok bisa ya, Bapa? Padahal dulu kira-kira 10 tahun yang lalu, begitu berapi-api. Begitu menyala-nyala. Begitu bergairah dan dinamis. Bukan masalah pada liturgi atau caranya. Ini masalah hati, masalah yang lebih dalam dan prinsipil. Rasanya gemes, prihatin, dan bikin meradang, Bapa. Bagaimana bisa apa yang sudah dimulai dengan sedemikian luar biasa itu bisa merosot sedemikian rupa? Bagaimana menyalakan dan membangkitkan kembali, Bapa?

Doh, kepalaku pusing dan hatiku meradang karena geram dan gemes, Bapa. Bagaimana aku bisa menyalaka kembali api yang membakar gairah dan semangat untuk memuji dan menyembahMu dengan lebih leluasa lagi? Sebenarnya apa sih masalahnya, Bapa? Di mana letak perbedaannya? Apa yang membedakan antara gerejaMu yang kharismatik dengan yang mainstream/tradisional? Bukankah kami menyembah Tuhan Yesus yang sama dan digerakkan oleh Roh Kudus yang sama? Tapi kenapa dalam ekspresi pujian dan penyembahan Kharismatik begitu berapi-api dan bisa terus demikian?

Pusing, Bapa... Bagaimana caranya supaya bisa menggerakkan hati saudara-saudaraku di GKJ untuk mau lebih terbuka dan ekspresif lagi dalam memuji dan menyembahMU secara korporat? Bagaimana caranya supaya kami orang-orang Jawa ini bisa memuji dan menyembahMu tanpa rasa canggung dan malu lagi, Bapa? Bagaimana caranya supaya kami terbebas dari belenggu agamawi dan legalistik yang kaku saat kami menghadap di tahtaMu yang kudus? Bagaimana caranya supaya ibadah penyembahan di GKJ bisa hidup dan tidak membosankan? Bagaimana caranya, Bapa? Apa yang harus kami lakukan? Apa yang harus aku lakukan secara pribadi? Apa yang harus kuusahakan secara bersama-sama?

Bapa, kegelisahan ini kembali mengusikku. Setelah sekian lama mengikuti perkembangan kebaktian Sabtu sore GKJ Sawokembar, aku mengamati dan merasakan kok semakin merosot. Ada sesuatu yang kurang. Ada yang kurang. Doh, Bapa...

Bapa, yang kutahu adalah ini... yaitu bahwa musuhku bukanlah darah dan daging melainkan roh-roh jahat di udara. Dalam hal ini, roh-roh yang mengikat, membelenggu, dan mengejek jemaatMu di GKJ sehingga belum bisa menyembah dan memujiMu dengan bebas dan ekspresif. Aku marah terhadap roh-roh tersebut, Bapa... bukan kepada pribadi-pribadi manusianya... Bukan kepada majelis dan pendeta. Bukan kepada jemaat. Aku mengasihi jemaatMu di GKJ, sesamaku manusia, yang aku percaya punya kerinduan yang besar pula untuk bisa mendekat padaMu tanpa dihantui rasa tertuduh, tertolak, dan terintimidasi.

Tolong, Bapa... Aku baru bisa berdoa secara pribadi dan menulis secara amburadul di sini... Pimpin aku, Roh Kudus, supaya aku benar-benar bertindak seperti yang Kau kehendaki...

Tidak ada komentar: