Sabtu, 16 Oktober 2010

Panggil aku Mbak atau Bu, hehe... ^^


Aku lebih suka dipanggil dengan sebutan "mbak" daripada "dok", demikian juga sebaliknya, aku lebih suka memanggil "bu" atau "pak" daripada "dok"... dok is singkatan dari dokter, saudara-saudara... Ya, begitulah... sejak koas sampai sekarang, aku merasa risi dan canggung kalau harus memanggil senior dengan sebutan "dok" atau dipanggil orang lain dengan sebutan "dok"... rasanya ada semacam sekat pemisah antara aku dan mereka saat sebutan "dok" itu terucap... ada semacam perbedaan kasta yang membuat seseorang yang memanggil "dok" itu lebih rendah daripada seseorang yang dipanggil "dok"... hehe... bingung? Mungkin bahasaku terlalu mbulet... bertele-tele kalau orang Jawa bilang... ^^ Intinya adalah aku nggak gitu suka dengan sebut-menyebut "dok" kepada sesama rekan sejawat baik itu senior maupun junior... Aku lebih suka memanggil mereka "mbak", "mas", "pak", atau "bu"... kesannya lebih akrab dan lebih familier, lebih membumi... kalau "dok" itu kesannya lebih dingin, formal, dan kaku... makanya, waktu dr Meryl mulai manggil aku dengan sebutan "mbak" instead of "dok", aku senang sekali... rasanya seperti punya adik baru, punya anggota keluarga baru... hilang sudah sekat junior senior yang membatasi ruang pergaulan... ^^ Dan sejak kemarin sore, tepatnya waktu jaga, aku mulai membiasakan diri memanggil dokter2 senior dengan sebutan "bu"... rasanya lebih enak dan lebih alami, lebih nyaman di lidah dan di hati... ^^

Kenapa bisa begitu ya? Hmmm... mungkin karena kultur di negeriku yang lebih mengutamakan nilai2 kekeluargaan di atas nilai2 pekerjaan formal... beda dengan budaya barat... istilah "dokter" kan bukan asli dari negeriku... istilah itu berasal dari budaya barat untuk (doctor) untuk menyebut orang2 yang kompeten di bidangnya... dan mereka memang terbiasa dengan budaya kerja yang profesional... bukan berarti orang2 negeriku nggak pofesional, bukan... melainkan adanya semacam skala prioritas hidup yang berbeda... di sini, nilai2 kekeluargaan demikian kentalnya sekental darah yang mengalir di pembuluh darah (hehe)... saking kentalnya, jadi ada ekses negatif yang menyertai yaitu munculnya praktek2 nepotisme yang tidak sehat bin tidak adil... nggak terkecuali di tempat di mana aku berada sekarang ini... apakah ini salah? Dosa? mungkin iya, mungkin juga tidak... susah kalau harus menghitam putihkan semuanya... mungkin ini masuk daerah abu-abu... sebab, kalau nggak ada nepotisme sama sekali, juga repot... karena kita akan bekerja dengan orang2 yang sama sekali tidak kita kenal dan hanya mengedepankan aspek prestasi tanpa ada aspek hubungan yang bersifat manusiawi... padahal kan kita masih hidup sebagai manusia yang mau nggak mau pasti membutuhkan relasi yang nggak sekedar formlitas kaku... hehe... bingung gak? Semoga tidak... ^^

Salahkah memanggil senior sejawat dengan sebutan "pak" atau "bu"? Menurutku nggak salah sih, sejauh kita melakukannya dengan hati yang tulus dan ada ras hormat di dalamnya... dan memanggil dengan sebutan "dok" pun sah-sah saja selama hati kita tidak merasa canggung... pokoknya yang fleksibel saja... kapan mau manggil "dok", kapan mau manggil "pak" atau "bu", itu nggak ada aturan yang baku... yang penting kaidah kasih tetap terpelihara... ^^

So, silakan panggil aku sesukamu, mau "dok" atau "bu" atau "mbak" terserah... yang penting nyaman di hati... betul? ^^


Tidak ada komentar: