Selasa, 24 Juli 2012

Mimpi yang Absurd


Aku pernah punya impian yang besar. Impian yang absurd dan gila. Impian yang begitu dahsyat sehingga tidak mungkin terwujud kalau bukan Tuhan yang mewujudkannya. Salah satu impianku adalah berdoa di depan banyak orang, orang-orang generasiku, di mana aku melepaskan iman dan kuasa Roh Kudus sehingga banyak mukjizat yang terjadi. Absurd kan? Tapi sampai sekarang aku belum mendapati impian tersebut menjadi kenyataan. Mungkin karena aku terlalu asyik bermimpi sehingga lupa untuk bangun dan mewujudkannya.
                Ya. Mimpi sebesar apa pun tidak akan terwujud kalau aku tidak segera bangun untuk mewujudkannya di dunia nyata. Bukan berarti bermimpi itu tidak penting. Penting sekali malah. Bahkan aku sering bermimpi bersama Tuhan, maksudnya adalah aku mengajak Tuhan untuk ikut terlibat dalam mimpi-mimpiku. Sehingga, aku tidak pernah sendirian. Dalam bermimpi pun aku tidak pernah sendirian.
                Mimpi itu penting bagiku. Tanpa mimpi, hidupku akan biasa-biasa saja dan membosankan. Mimpi akan menggugah imajinasiku sehingga aku dapat bersemangat dan bergairah menjalani hidup. Dengan mimpi, aku tahu apa yang harus kutuju sehingga aku tidak sembarang bertindak, semua ada tujuannya. Semua ada fokusnya. Energiku pun tidak terbuang sia-sia.
                Bagaimana jika mimpi sudah terwujud? Selesaikah semuanya? Tidak. Belum. Hidup akan kembali menjadi hambar jika kita tidak lagi bermimpi. Lalu bagaimana? Satu-satunya cara adalah dengan bermimpi yang lebih besar lagi. Lebih besar dan dahsyat daripada mimpi yang sebelumnya. Karena itu, jangan takut untuk bermimpi besar. Aku selalu meminta agar Tuhan Yesus memberkati mimpi-mimpiku.
                Sekarang aku punya mimpi yang lebih absurd lagi yaitu bertemu Tuhan Yesus muka dengan muka. Walaupun aku harus melewati kematian, aku akan tetap bermimpi sampai mimpiku yang absurd itu terwujud. Amin.

(ditulis oleh Mimi Imut di Pelem Kecut pada hari Senin, tanggal 2 Februari 2009, di buku Kiky krem kotak-kotak ^^)

Tidak ada komentar: