Kamis, 01 November 2007

4 Januari 2007

Good morning, Father...

Pagi ini masih dingin. Mungkin karena siklus cuaca yang kacau balau akibat musim dingin yang telat datang, ya. Akibatnya juga jadi banyak angin ribut. Banyak angin ribut jadi banyak bencana. Salah satunya adalah hilangnya pesawat Adam Air jurusan Jakarta-Surabaya-Manado beberapa hari yang lalu, diduga akibat turbulensi udara atau faktor cuaca yang buruk. Sampai sekarang keberadaan itu pesawat masih belum diketahui. Kira2 di mana ya, God, pesawat Adam Air itu sekarang? Banyak kemungkinannya sih, ada yang bilang mungkin jatuh di laut, di gunung, dll. Apa mungkin meledak akibat bom, ya, sehingga hancur berkeping-keping & sulit ditemukan? Katanya lagi, ada yang sempet denger ledakan gitu deh... Lagian banyak penumpangnya yang orang Kristen, God... (Njuk ngapa?). Yah, mungkin aja ada yang senewen atau sentimen sama orang Kristen trus ngisengin seperti masang bom atau mbajak pesawat sekalian. Tapi kemarin kok bisa2nya ya muncul barita yang simpang siur kaya' gitu? Sumbernya dari mana tuh? Bikin orang lain jadi ketar-ketir aja. Gimana ya kalo seandainya keluargaku ada yang jadi korban, katakanlah Yoyo atau orang tuaku? What would I do then? Yang jelas, kayaknya aku nggak bakalan terlalu histeris deh. Paling juga bengong dan membiarkan orang lain aja yang bingung. Tapi habis itu ngapain ya? Aku tiba2 ingin bertanya, gimana seandainya aku ditinggalkan keluargtaku sebelum aku sempet mandiri terutama dalam hal keuangan? Pertanyaan itu nggak perlu dijawab dengan kejadian yang beneran, God,soale aku juga belum siap apa2 nih. Jadi, tolong untuk waktu2 sekarang ini, sebelum aku bener2 mandiri dalam segala hal, jangan ambil dulu keluargaku, Bapa... supaya aku nggak jadi orang paling malang sedunia.

Terus pertanyaanku semalam yang aku akhiri dengan doa singkat: "beri aku iman seperti yang dimiliki Abraham saat dia pergi ke tempat yang tidak ia ketahui" kok bisa2nya nyambung sama topik Renungan Harian pagi ini sih! Wah, pasti bukan kebetulan t7uh! Perlu dicermati. Kenapa aku bisa doa demikian? Asal mulanya karena akhir2 ini sering muncul kekuatiran akan hari depan, khususnya dalam hal ekonomi & finansial. Seandainya aku dah lulus (itu dah pasti) besok trus nggak jadi dokter, aku masih belum jelas mau ke mana. Apa harus ngelanjut ke S2? Kalo iya, ke mana? Kalo enggak, mau ngapain? Aku emang dah mutusin tahun ini aku mau off dulu dari dunia akademik, mau nyari inspirasi dulu n netapin hati mau ke mana. Jadi bener2 blank, nggak tahu tujuannya secara pasti. Bener2 mirip Abraham, kan. Makanya aku butuh banget pertolongan, penyertaan, & petunjuk dari TUHAN entah gimana bentuknya. Kalo serius mau jadi penulis, mau mjadi penulis yang gimana? Banyak banget deh pertanyaan yang muncul yang belum bisa aku jawab. Mungkin dibutuhkan lebih dari satu kepala untuk nemuin jawabannya ato kalo belum ketemu juga, minimal ikut nemenin & bantuin aja mikirnya.So, mungkin yang aku butuhkan sekarang lebih berupa companionship atau temen yang bener2 baik & peduli. But who? Sekali lagi, aku serahin sama Engkau sajalah, supaya aku nggak salah langkah lagi.

Pokoknya, Bapa, setelah selesai pendadaran besok, aku akan segera mulai proyek kita bersama yaitu mulai nulis cerita The True Love Story of Nevaeh sama living historynya ibuku. Mungkin sebagai selingannya, aku akan nulis cerita2 pendek yang aku senangi, nggak tahu segmentasinya buat siapa. Intinya, aku cuma mau menjalani apa yang selama ini aku percayai sebagai panggilan utamaMu dalam hidupku, Bapa. Itu aja dulu... Urusan lainnya itu belakangan (pinjem mottonya RS Bethesda). We'll see the difference.
So, sebagai reward setelah pendadaran, aku mau beliin diriku sendiri 2 buku tulis tebel. Yang satu untuk nulis cerita kita, yang satu lagi untuk nulis cerita ibuku. Ini rencananya, Bapa. Sederhana banget, ya? Tolong berkati rencanaku ini, Bapa, supaya apa yang kulakukan itu beneran karena inspirasi dariMu sehingga aku nggak melakukan pekerjaan yang sia2. Dan, bukan juga pelarian dari panggilan yang sebenarnya (seperti Yunus) melainkan sungguh2 melakukan apa yang sudah seharusnya kulakukan. Because I love writing & I long to be a creative writer, Your creative writer.This is my deliference. Jika menulis adalah hidupku, duniaku, & (salah satu) caraku untuk ketemu Tuhan, maka tanpa menulis, aku akan kehilangan identitasku. Hal ini akan kita buktikan sebentar lagi, Bapa. Ya, sebentar lagi menjelang the momet of truth. Bless me, Father! Amen!

Hm... Bapa...
hari ini aku nggak ke mana2 padahal seharusnya ketemu Pak TB buat ngelanjutin konsultasi naspubnya. Semoga besok cukup banyak waktunya sehingga cepet selesai revisinya. Sekalian ngurus administrasi2 yang lumayan ribet itu. Hmm... tumben kan, aku ngomongin masalah kuliahku yang menyebalkan itu sama Engkau, Bapa? Nggak pa2 deh, mumpung dah hampir selesai. Tapi proses hidupku masih terus berlanjut tuh... nggak tahu sampai kapan. Aku nggak mau menjalani hidup sendirian, Bapa, meskipun kepribadianku cenderung suka menyendiri. Hmm... nanti aku sambung lagi ngobrolin masalah kepribadianku.

Tidak ada komentar: