Senin, 26 Mei 2014

Wajah Bangsa: "Syukur dan Terima Kasih"

Siang tadi, Pak Ias melontarkan bahan perbincangan menarik. Berdasarkan apa yang disampaikan pengkotbah dari Korea yang mengisi firman di gereja tempat Pak Ias berjemaat, ada fakta menarik yang membedakan bangsa Korea dengan bangsa Indonesia. Dikatakan bahwa bangsa Korea adalah bangsa yang sangat berterima kasih atas pengaruh misionari Injil yang masuk selama seratusan tahun di Korea. Hal ini tampak dari begitu banyaknya misi penginjilan modern Korea dari berbagai profesi ke seluruh dunia. Bandingkan dengan Indonesia. Indonesia dapat dikatakan lebih lama 'dipengaruhi' oleh misionari Injil, namun apa yang dihasilkan? Adakah Indonesia pun mempunyai wujud 'rasa terima kasih' atau syukur yang nyata atas pengaruh Injil tersebut? Jika ada, apakah itu? Jika tidak, mengapa bisa demikian?

Dari sekilas obrolan yang tiba-tiba kuingat itu, aku jadi mikir. Apakah bangsaku ini sedemikian parah mentalnya sehingga tidak punya rasa terima kasih? Apakah sedemikian sukarnya bangsa Indonesia ini untuk bersyukur? Ah, apa iya? Mau buktinya? Coba perhatikan sehari-hari di sekitar kita. Dalam setiap obrolan yang terjadi, adakah celetukan bernada miris, menghujat, dan menyesali nasib bangsa ini? Entah karena pemimpinnya, korupsinya, keamanannya, kesemrawutannya, dan berbagai hal negatif lainnya? Dan, adakah seruan bernada optimis dan positif bagi bangsa ini? Kalau ada, berapa banyak perbandingannya dengan yang pesimis dan negatif? Nah, setelah menghitung dengan jujur, bagaimana kesimpulannya? Sederhana saja. Semakin besar kadar positif dan optimis dalam seruan yang kita dengar sehari-hari, semakin besarlah rasa syukur dan terima kasih kita sebagai bangsa Indonesia. Sebaliknya, semakin besar kadar negatif dan pesimis dalam seruan dan ucapan sehari-hari, semakin kecillah rasa syukur dan terima kasih yang ditunjukkan oleh bangsa ini.

Mari kita asumsikan kondisi di atas sebagai kondisi di luar kita, di mana kita belumlah terlibat. Selanjutnya, mari kita mawas diri terlebih dahulu. Apakah kita adalah orang yang tahu bersyukur dan berterima kasih? Apakah kita mau menjadi orang yang tahu bersyukur dan berterima kasih? Mari kita pilih yang benar dan terbaik, yang sudah cetha wela-wela itu!

Bagaimana? Sudah memilih? Kalau sudah, mari kita warnai keseharian kita dengan ucapan dan seruan yang lahir dari kemantapan hati yang sudah memilih itu. Maka, (mungkin) wajah bangsa kita akan lain dari sebelumnya. Setuju?!?

Tidak ada komentar: