Rabu, 21 Mei 2014

Sepanjang Lorong Rumah Sakit

Rumah sakit ladang anggur TUHAN di Yogyakarta ini sungguh menarik dan mengesankan. Bangunannya kuno, termasuk cagar budaya. Di situ banyak peninggalan sejarah dan kenangan-kenangan yang bernilai tinggi. Yang paling menunjukkan ciri khas adalah lorong-lorongnya yang panjang itu. Katanya, tidak boleh diubah bentuknya. Itu adalah penanda bahwa rumah sakit ini berdiri di atas tanah milik Kesultanan Yogyakarta. Lihat saja tiang-tiangnya yang bercat hijau tua khas keraton itu! Lorong rumah sakit ini panjangnya terhitung cukup lumayan untuk meningkatikan aktivitas fisik berjalan kaki kita. Dari kelurahan Klitren sampai Kotabaru ia membentang, sekitar setengah kilometer panjangnya. Jika kita kekurangan tempat untuk berjalan kaki, maka manfaatkanlah lorong rumah sakit ini dari ujung timur ke ujung barat. Cukup dua puluh menit sehari berjalan kaki untuk menambah kualitas dan kuantitas aktivitas fisik kita.
                Selain lorongnya yang bersejarah, tentu saja di rumah sakit ini terdapat banyak ruangan atau bangsal. Ada yang sudah kuno sekali, setengah kuno, dan baru. Yang kuno sekali tidak boleh dirombak karena merupakan cagar budaya juga. Kalau toh mau merombak, tidak boleh mengubah bentuk aslinya. Itu sudah ketentuan undang-undang. Konon, di bagian bangsal yang kuno itu terdapat banyak kejadian irasional yang melibatkan makhluk-makhluk gaib alias hantu. Sudah banyak orang yang mengalami sendiri interaksi dengan para hantu, baik itu yang bersifat sekedar gangguan iseng sampai gangguan yang mengerikan. Tapi sejauh ini, tidak sampai terjadi gangguan yang mengancam nyawa.
                Sebagai seorang karyawannya, aku juga suka berjalan-jalan menjelajah lorong-lorong rumah sakit ini. Biasanya aku ambil waktu pagi hari sekitar jam sembilan untuk melakukan ekspedisiku. Sambil melakukan tugasku, aku berjalan dari ujung timur sampai ke ujung barat mengunjungi bangsal-bangsal. Sambil berjalan, aku menyapa dan menebar senyum kepada sesama karyawan rumah sakit. Kalau ada yang kenal, aku sempatkan untuk berhenti sebentar sekedar berbasa-basi dengannya. Sungguh menyenangkan berbagi senyum, sapa, dan salam itu. Aku jadi ingat cerita yang berjudul “pay it forward”, yaitu tentang berbuat kebaikan kepada orang lain yang berefek berantai menimbulkan mata rantai kebaikan lainnya. Aku percaya secercah senyumku dapat mencerahkan hari orang-orang yang kusapa itu. Dan mereka yang terkena efek senyum dan sapa itu pun akan melanjutkan energi positif yang mereka terima ke siapa pun yang mereka jumpai berikutnya. Luar biasa!
                Banyak hal yang kuperoleh dari kegemaranku berjalan-jalan di lorong rumah sakit ini. Yang pertama adalah badan menjadi segar dan bugar. Tidak terasa aku sudah berjalan sekitar satu kilometer setiap harinya. Aku tidak merasa capek atau bosan karena ada interaksi yang hangat dan menyenangkan dengan sesama yang kutemui sepanjang perjalanan. Tugas-tugas pun dapat kulakukan tanpa rasa terbebani yang amat sangat. Selain itu, banyak hal inspiratif yang kudapatkan. Salah satu hak inspiratif itu adalah merasakan kasih, sukacita, dan kebaikan dari orang-orang yang kutemui di sana. Tidak peduli masalah apa yang sedang menggelayuti hati mereka, saat mereka tersenyum itu seolah-olah ada beban yang terangkat yang membuat mereka beroleh tambahan kekuatan untuk melanjutkan hidup. Sukacita dan pengharapan seperti inilah yang kurasakan menjadi jiwa dan semangat segenap civitas hospitalia rumah sakit ini. Kiranya dengan blusukan dan penjelajahanku ini aku pun dapat menebarkan atmosfer pengharapan bagi setiap orang yang melihatku. Shalom alaehim!


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Rabu 15 Mei 2013)

Tidak ada komentar: