Rabu, 21 Mei 2014

Komodo Hijau Tosca

Komodo adalah julukan yang kuberikan bagi mobil Escudo dengan cat hijau tosca metalic atas nama ibuku yang diwariskannya kepadaku. Saat ini si Komodo ini menjadi pusaka keluarga di Rumah Cahaya, alias tidak pernah dioperasikan sebagaimana tugas panggilannya, sebagai kendaraan keluarga. Dulu, ketika masih jaya-jayanya, si Komodo pernah dikendarai kami sekeluarga sampai ke Bali, bahkan sampai mendaki ke Bromo. Bannya yang kuat dan kokoh mampu memanjat trotoar, meskipun itu bukanlah bagian dari tugas wajibnya. Bodinya yang imut dan lucu itu sering terbentur-bentur entah itu pagar, tembok, maupun kendaraan lain. Dengan Komodo inilah aku pertama kali belajar mengendarai mobil. Komodo ini pulalah yang setia kuajak ke sekolah dan kuliah. Hiasannya yang awet dan paling khas adalah gantungan berbentuk tulang paha mini di spion tengah depan. Di kaca belakang, tertempel stiker-stiker lucu dengan satu yang paling keren yaitu tulisan “Holy Spirit Team”. Yang paling penting dari si Komodo ini adalah pemutar kaset musik dan radio yang selalu setia mengisi udara dengan nyanyian-nyanyian surgawi. Maka, bolehlah dikatakan bahwa Komodo hijau tosca ini adalah kendaraan jurusan surga. Aku dulu pernah mendedikasikan si Komodo ini untuk melayani TUHAN, apapun itu bentuknya. Dulu, sering aku melakukan doa keliling kota dengan mengendarai Komodo ini, entah sendiri ataupun bersama-sama teman. Rasanya seru dan menyenangkan sekali bertualang bersama Komodo!
                Naik mobil seperti Komodo hijau tosca itu ada keuntungannya. Selain nyaman dan relatif lebih aman jika dibandingkan dengan naik sepeda motor, dengan naik Komodo aku bisa menikmati keliling-keliling kota bahkan luar kota jarak jauh sambil mendengarkan musik sesuka hati. Selain itu, kalau tidak mengemudi, aku bisa duduk sampai jatuh tertidur selama perjalanan. Hal seperti ini tidak bisa kulakukan jika aku membonceng sepeda motor. Namun di samping keuntungan, ada pula kerugian dari naik Komodo atau mobil pada umunya. Aku jadi tidak bisa menikimati semilir angin dan suasana riuh rendah lalu lintas di sekitarku karena terhalang bodi mobil yang rapat. Kesannya jadi seperti menonton film di layar lebar tiga dimensi saja. Sedangkan jika naik sepeda atau sepeda motor itu bagaikan bertualang dalam kondisi alam yang sesugguhnya. Yang paling tidak menyenangkan, dengan naik Komodo, aku turut menyumbang kemacetan dan polusi di jalan raya. Mungkin aku merasa nyaman-nyaman saja, tapi bagaimana dengan lingkungan dan orang-orang yang tidak seberuntung aku? Hal inilah yang patut kupikirkan.
                Dari uraian di atas, aku berkesimpulan bahwa memiliki mobil semacam Komodo hijau tosca ada nilai plus maupun minusnya. Nilai plusnya mungkin hanya sebatas meningkatkan gengsi dan demi kepraktisan perjalanan. Nilai minusnya adalah dampak jangka panjang bagi lingkungan dan budaya. Bagi lingkungan, terlalu banyak orang yang menggunakan mobil pribadi di jalan raya dapat menambah kemacetan, aneka polusi, dan meningkatkan stres. Bagi budaya, dalam jangka panjang, orang semakin malas menggerakkan otot-otot kaki mereka untuk berjalan meskipun jarak tempuh hanya pendek. Orang hanya mengejar segi kepraktisannya saja tanpa memikirkan dampaknya bagi diri dan lingkungan. Dari segi kesehatan, tubuh manusia semakin lama semakin penuh dengan faktor risiko akibat kurang bergerak. Oleh karena itu, aku berketetapan dalam hati untuk membatasi diri tidak naik Komodo hijau tosca itu kalau tidak terlalu kepepet. Selama masih bisa berjalan, bersepeda, atau membonceng sepeda motor, aku akan mengisitirahatan si Komodo di rumah Cahaya. Mungkin yang kupilih ini terbilang bodoh menurut anggapan umum, tapi aku tahu bahwa aku telah berkontribusi untuk kebaikan diri, sesama, dan lingkungan dalam jangka panjang. Maka, biarlah Komodo hijau tosca itu berdiri tenang sebagai pusaka yang agung di tempatnya, tak perlu mengejar gengsi atau hormat dari orang lain.


(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 8 November 2013)

Tidak ada komentar: