Rabu, 21 Mei 2014

Menjadi Juru Semangat

Kegiatanku sehari-hari diwarnai dengan banyak mendengarkan celotehan menarik dari sesamaku manusia. Baik itu di lingkungan keluarga, tempat kerja, dan persekutuan, aku sering mendengarkan mereka bercerita tentang kehidupannya masing-masing. Ada yang menceritakan tentang kegelisahan, kegaduhan, kegalauan, kesedihan, dan penderitaan yang dialaminya. Ada pula yang menceritakan tentang pergumulan iman dan bagaimana solusi atau jawaban Tuhan yang diperolehnya. Begitu penuh variasi isi pembicaraan yang berseliweran di sekitarku membentuk mozaik kehidupan yang penuh dinamika.
                Kecenderungan alami manusia adalah membicarakan keburukan situasi atau sesamanya dalam percakapan ringan di mana pun mereka berada. Tidak terasa sudah sedemikian banyak energi negatif yang dihasilkan akibat pembicaraan yang juga bernada negatif itu. Tanpa terasa pula, semangat hidup yang ada menjadi negatif dipenuhi kemarahan, pesimisme, dan apatisme. Di situlah diperlukan peran ‘juru semangat’. Apa itu juru semangat? Ia adalah orang yang senantiasa mengobarkan semangat positif dan optimisime di manapun dia berada, kapan pun, dan dengan siapa pun. Di lingkungan keluarga, ia dapat berupa seorang ayah, ibu, anak, atau kerabat yang lebih banyak mendengar tanpa ikut nimbrung membunuh karakter anggota keluarga yang lain dalam perbincangan ringan manakala sedang ada perkumpulan. Di tempat kerja, ia dapat berupa seorang pemimpin, manajer, atau karyawan yang fokus pada pekerjaan sembari terbuka terhadap berbagai informasi yang ada tanpa harus hanyut larut dalam berbagai isu yang menggembosi semangat kerja. Di persekutuan, ia dapat berupa seorang gembala, guru, pemimpin kelompok, atau anggota yang ikut senang ketika saudaranya senang dan ikut sedih ketika saudaranya sedih. Pendek kata, juru semangat adalah seorang yang sungguh-sungguh hadir dan ada, di mana kehadirannya itu berdampak positif sehingga mempengaruhi atmosfer lingkungan sekitarnya yang cenderung negatif.
                Menjadi juru semangat dapat dilakukan oleh siapapun juga tanpa mengenal pangkat dan kedudukan. Yang dibutuhkan adalah hati yang mau memberi dan berbagi dengan tujuan menjadikan dunia menjadi lebih baik lagi. Dibutuhkan konsistensi dan disiplin yang terus-menerus untuk menjadi seorang juru semangat yang benar-benar berdampak. Syarat utamanya adalah menjadi pribadi yang bisa dipercaya. Pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatannya tidak boleh ada yang saling bertentangan. Tidak perlu muluk-muluk, cukup dengan melakukan hal-hal kecil dan sederhana setiap hari secara konsisten dan sepenuh hati. Misalnya, datang dan pergi sesuai jam kerja. Kemudian, bekerja dengan sepenuh hati, segenap pikiran, dan sekuat tenaga tanpa terjebak pada rutinitas. Selanjutnya, bersikap ramah, sopan, dan hormat dengan kadang disertai humor sehat terhadap sesama manusia di sekeliling kita. Jika ada masalah, jadilah bagian dari solusi, jangan menambah masalah.
                Jika ada satu atau dua saja juru semangat di suatu tempat, maka atmosfer tempat tersebut akan terpengaruh oleh keberadaan mereka. Sikap mereka yang positif sedikit banyak akan menular kepada sekelilingnya. Dengan semakin banyak orang yang tertular sikap positif, lahirlah juru semangat-juru semangat yang baru. Mereka pun semakin banyak menularkan energi positif. Ada di manakah mereka? Mereka bukanlah siapa-siapa. Mereka adalah kita yang mau dan bersedia menjadi juru semangat itu. Mari!


(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 24 Oktober 2013)

Tidak ada komentar: