Rabu, 21 Mei 2014

Petualangan Naik Bus

Naik bus keliling kota. Siapa yang pernah melakukannya? Saya pernah, entah sendiri entah bersama-sama. Pengalaman naik bus kota satu putaran sendirian pernah saya lakoni sekali dua kali dulu ketika masih bujangan. Motivasinya hanya sekedar melepas kejenuhan dan melihat-lihat suasana kota sepintas lalu. Sedangkan naik bus bersama Mas Cah pernah saya lakukan satu dua tahun yang lalu. Waktu itu kami naik bus Trans Jogja jurusan RS Bethesda-Prambanan-RS Bethesda. Waktu itu bus Trans Jogja masih adem dan nyaman sekali. Waktu itu pula saya pertama kali naik bus Trans Jogja. Beberapa menit perjalanan saya sempat jatuh tertidur karena begitu nyamannya. Mas Cah berhasil mengambil gambar saya sewaktu tertidur dengan kamera ponselnya. Sungguh bukan hasil yang fotogenik tentunya. Pengalaman kedua kali naik bus Trans Jogja jurusan yang sama, RS Bethesda-Prambanan-RS Bethesda, mempunyai kenangan tersendiri. Kenyamanan sudah agak berkurang, penumpang pun banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Selama perjalanan itu, saya mengajak ngobrol seorang bapak yang lanjut usia namun masih tampak segar bugar. Saya ngobrol ngalor ngidul dan iseng-iseng menanyakan kepadanya perbedaan situasi sewaktu G 30 S dengan sewaktu awal-awal reformasi dulu. Menurut penuturan beliau, suasana waktu G 30 S jauh lebih mencekam. Saya pun hanya manggut-manggut sambil membayangkan.
                Perjalanan naik bus itu menurut saya sangatlah menyenangkan. Banyak hal yang bisa saya dapatkan selama duduk diam menikmati perjalanan. Saya bisa memperhatikan aneka rupa penumpang yang sama-sama duduk atau berdiri selama perjalanan. Ada yang sendiri, berdua-dua, sampai berombongan. Ada yang diam, tidur, membaca, mendengarkan musik, dan ada pula yang mengobrol. Dari obrolan yang secara otomatis saya dengar, saya menebak-nebak berbagai macam hal seperti latar belakang, pekerjaan, kesibukan, keluarga, dsb dari para penumpang tersebut. Diam-diam saya mencoba menempatkan diri pada posisi mereka. Melatih empati, mungkin itulah yang sedang saya lakukan. Ada kalanya, saya terdorong untuk berdoa dalam hati bagi penumpang, sopir, atau kota yang sedang saya jelajahi. Dalam berdoa itu, saya melatih kepedulian dan kepekaan akan kebutuhan mereka yang sedang saya doakan. Namun, lebih sering saya hanya duduk diam dan beristirahat tanpa ada keinginan untuk mendengarkan ataupun berdoa macam-macam. Saya mengistirahatkan badan dan pikiran sejenak sebelum kemudian aktif lagi setelah sampai di tempat tujuan. Dalam beristirahat itu, saya tetap waspada dan berjaga-jaga terhadap berbagai kemungkinan. Saya selalu awas terhadap posisi pintu atau jendela darurat dan siap kalau-kalau terjadi peristiwa yang tidak diinginkan semisal kecelakaan. Saya juga selalu siaga kalau-kalau ada tangan usil atau jahil yang berniat mengganggu keamanan dan kenyamanan. Di atas semua itu, saya selalu berserah kepada TUHAN sepanjang perjalanan.
                Dari pengalaman naik bus yang belumlah seberapa itu, saya memperoleh beberapa manfaat bagi diri saya maupun bagi orang lain. Bagi diri saya, saya memperoleh kepuasan dari kegiatan duduk diam, mendengarkan, kadang berdoa, dan beristirahat sambil melihat-lihat dan menikmati pemandangan kota sepintas lalu. Saya puas melihat situasi dunia sekeliling saya pada saat itu untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanan hidup saya yang entah sampai kapan. Selain itu, saya juga menambah pengetahuan dan pengalaman dari apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan selama perjalanan naik bus. Pengetahuan itu bisa menjadi bekal saya dalam melanjutkan petualangan kehidupan bersama TUHAN. bagi orang lain, saya menganggap bahwa orang yang naik bus itu termasuk pahlawan lingkungan. Mereka membantu mengurangi kepadatan lalu lintas dan polusi. Dengan semakin banyak orang yang naik bus atau kendaraan umum massal lainnya, semakin sedikitlah jumlah pengendara kendaraan pribadi sehingga berkuranglah kemacetan. Di samping itu, kita dapat belajar untuk sungguh-sungguh hidup merakyat, berdampingan dengan sesama, dan tidak mengagung-agungkan ego berkedok privasi.
                Semoga ke depannya pelayanan bus kota dan angkutan umum dapat semakin baik lagi sehingga kesempatan untuk mengalami perjumpaan yang bermakna dengan sesama dapat semakin sering terjadi. Dan, dari perjumpaan dengan sesama itu, kita dapat belajar mengenali perjumpaan dengan TUHAN yang kadang menyamar di keseharian kita.

(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 7 November 2013)

Tidak ada komentar: