Rabu, 21 Mei 2014

Persahabatan yang Membangun

Salah satu hal yang termanis dan terindah dalam hidup ini adalah persahabatan. Persahabatan adalah hubungan yang terjadi antara dua atau lebih pribadi di mana terjadi saling memberi dan menerima yang dilandasi kasih yang tulus dan sejati. Persahabatan tidak terbatas pada usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, agama, suku, bangsa, bahkan spesies. Banyak kisah atau cerita yang telah dibukukan dan difilmkan yang terinspirasi dari hubungan perahabatan yang sejati. Bahkan, kisah penebusan dan karya keselamatan manusia oleh Tuhan Yesus Kristus itu adalah wujud dari persahabatan yang sejati dan abadi antara Tuhan dan manusia. Tuhan yang baik telah menawarkan hubungan persahabatan dengan umat ciptaan-Nya yang dinyatakan dengan amat dramatisnya di peristiwa salib itu.
                Bagiku, persahabatan adalah hal yang sangat penting. Aku bertekad menjadi seorang sahabat yang sejati bagi mereka-mereka yang memang telah ditentukan untuk menjadi sahabatku. Di rumah, aku mengembangkan hubungan persahabatan dengan suami dan anakku. Maksudnya, aku tidak melulu berkutat pada tugas dan kewajibanku saja sebagai istri dan ibu yang baik tetapi bagaimana aku bisa membangun hubungan persekutuan yang akrab dan karib dengan mereka. Bukan hanya melayani saja melainkan juga bermain dan bercanda tawa dengan suami dan anak. Di tempat kerja pun juga demikian adanya. Bukan hanya berkutat pada urusan pekerjaan yang kadang terasa menjemukan dan meletihkan melainkan juga berinteraksi dengan hangat seperti layaknya teman dengan mereka-mereka yang kutemui di tempat kerja. Sekedar menyapa, mengobrol, atau bersenda gurau itu penting untuk mencairkan suasana dan membangun suasana tempat kerja menjadi nyaman.
                Dalam persahabatan itu, kita dapat saling membangun karakter satu sama lain. Dengan berbicara dan mendengarkan, kita dapat saling memahami dan dipahami. Komunikasi yang baik terjadi manakala dua orang yang sudah berada pada frekuensi persahabatan tengah berinteraksi dengan baik entah itu untuk urusan kerja ataupun urusan di luar kerja. Banyak pengalaman yang berkesan selama aku bekerja di ladang TUHAN di Yogyakarta ini. Suatu ketika, seorang rekan kerjaku memintaku untuk mendukungnya dalam doa perihal masalah yang dihadapi keluarga besarnya. Dengan sigap aku pun mendengarkannya. Dalam hati kudoakan supaya masalahnya terselesaikan dengan cara TUHAN. Tanpa menunggu berlama-lama, keesokan harinya, jawaban TUHAN sudah terjadi. Rekan kerjaku menceritakan bagaimana sedikit demi sedikit, masalah itu terselesaikan meskipun harus menembakkan banyak amunisi yang  makan hati. Sebagai teman dan rekan yang baik, aku ikut bersyukur. Lain waktu, seorang rekan kerja yang lain bertanya padaku perihal obat yang penting pada saat darurat. Aku pun dengan santai memberikan nama obat itu dan dia pun mencatatnya. Tidak disangka, besoknya dia bercerita bahwa apa yang kusampaikan itu telah menolong dia menyelamatkan ibunya yang terkena serangan jantung. Sebelum dibawa ke IGD rumah sakit, temanku berinisiatif membeli dan memberikan jenis obat itu sehingga pertolongan pertama dapat dilakukan dengan tepat. Aku terheran-heran. Ternyarta, hal kecil yang aku lakukan sangat besar dampaknya.
                Nyata benarlah apa yang tertulis dalam Alkitab yaitu bahwa seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17). Seorang sahabat sejati bukan hanya hadir saat senang melainkan juga saat susah. Kualitas seorang sahabat akan teruji saat sahabatnya sedang jatuh. Sahabat yang baik akan tetap berada di sisi sahabatnya yang sedang jatuh, tidak ikut menimpakan tangga ataupun menusuknya, apalagi menusuk dari belakang.


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Selasa 14 Mei 2013)

Tidak ada komentar: