Rabu, 21 Mei 2014

Bermain dengan Asa

Asa suka sekali bermain dan bereksplorasi. Dalam usianya yang masih terhitung bayi saat tulisan ini dibuat, tampak bahwa pertumbuhan dan perkembangan Asa begitu luar biasa. Bisa dikatakan bahwa Asa adalah bayi yang sempurna. Pertumbuhan fisiknya di atas rata-rata anak bayi pada umumnya. Perkembangannya juga aku lihat cukup optimal. Setiap hari, Asa selalu bermain. Dalam bermain itu terlihat betul bagaimana jiwa petualangannya. Tidak terlihat rasa takut atau ragu dalam setiap gerak-geriknya. Seperti layaknya bayi yang sedang dalam masa emas pertumbuhannya, Asa pun sangat peka terhadap berbagai stimulasi. Terhadap bunyi-bunyian, Asa sangatlah responsif. Apalagi jika diperdengarkan bunyi musik dan nyanyian. Kecerdasan musikal Asa tampaknya cukup tinggi. Ini mungkin karena sejak dalam kandungan, aku suka memainkan musik-musik piano baik itu klasik maupun pop rohani.
                Asa tampak memiliki beberapa mainan favorit. Yang paling sering disentuhnya adalah boneka-boneka beruang mungil berwarna putih. Ada tiga buah boneka beruang. Masing-masing kami beri nama unik dan lucu. Yang pertama kami namai Kumbro, kependekan dari Kumbokarno. Asa paling sering memasukkan hidung Kumbro ke dalam mulutnya. Mungkin enak rasanya. Yang kedua kami beri nama Sisri, kependekan dari Srimanganti. Asa kurang begitu suka bermain dengan Sisri, mungkin karena bulunya yang lebat atau dhiwut-dhiwut kalau orang Jawa bilang. Maka, kami gantung Sisri ini di atas box tempat tidur Asa bersama dengan alat yang bisa mengeluarkan bunyi musik pengantar tidur. Yang ketiga kami namai sebagai Juno, kependekan dari Arjuno. Asa suka sekali mengenyot telinga Juno yang berwarna merah biru.
                Benda favorit lain yang melebihi boneka bagi Asa adalah buku atau literatur. Asa suka sekali melihat dan memegang buku atau majalah atau apapun yang ada tulisannya. Pernah aku melakukan percobaan kecil. Aku tempatkan boneka di sisi yang satu dan sebuah buku di sisi yang lain. Ternyata, Asa lebih memilih buku daripada boneka. Berkali-kali aku ubah posisinya, tetap saja Asa memilih buku. Meskipun belum bisa membaca, Asa suka sekali melihat tulisan-tulisan yang ada. Asa suka pura-pura membaca dengan bersuara. Suaranya hanya berupa gumaman tidak jelas dan terdengar sangat lucu. Kemungkinan besar Asa mempunyai kecerdasan verbal di atas rata-rata.
                Untuk psikomotoriknya, Asa juga tidak mau ketinggalan. Saat tulisan ini dibuat, Asa sudah bisa berdiri sendiri di boxnya meskipun susah untuk balik kembali. Jika merangkak di lantai, cepatnya bukan main. Kami harus mengawasinya dengan penuh perhatian supaya Asa tidak terbentur-bentur ataupun jatuh terjelungup. Satu kebiasaan lucu Asa adalah “linjo-linjo”, demikian kami istilahkan. Linjo-linjo ini adalah gerakan menyendal-nyendal seluruh tubuh naik turun. Jika Asa sedang sangat euforia atau bersemangat, ia suka sekali linjo-linjo, apalagi jika sedang digendong. Sehingga, semakin beratlah beban si penggendong Asa. Berat badan Asa saat tulisan ini dibuat kemungkinan sudah sekitar sebelas kilogram, padahal usianya masih sepuluh bulan. Tidak heran jika teman TPA-nya ada yang menjuluki Asa sebagai bayi jumbo. Untuk ukuran bayi Indonesia memang besarnya Asa tidak umum. Tapi mungkin ini umum bagi bayi bule. Mungkinkah ada gen bule dalam diri Asa?
                Sebagai seseorang yang sedang belajar menjadi ibu yang baik, aku berusaha hadir 100% bagi Asa. Ketika Asa sedang terjaga atau asyik bermain, maka aku singkirkan semua buku maupun catatanku untuk sementara waktu. Aku berketetapan untuk tidak meninggalkan Asa dengan membaca buku atau majalah apalagi menulis-nulis. Karena, waktu untuk bermain bersama bayi itu terhitung cukup singkat. Tidak dapat diulang kembali. Aku bisa membaca atau menulis kapan saja tetapi waktu bermain bersama Asa tidak dapat digantikan dengan apa pun juga. Jika aku kehiangan waktu yang sangat berharga ini, tidak ada gunanya segala macam buku dan tulisan yang aku buat itu. Mario Teguh pernah mengatakan bahwa dalam cinta, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah kebahagiaan. Maka, kuatur pola pikirku untuk memandang waktu bermain bersama Asa ini sebagai bentuk kebahagiaan, bukan pengorbanan, karena aku mengasihi Asa. Tulisan ini sendiri pun aku tulis setelah Asa tidur dengan nyenyaknya. Maka, ayo kita bermain, Asa! Nanti, kalau kamu sudah bangun!


(Rumah Cahaya, Rabu 15 Mei 2013)

Tidak ada komentar: