Rabu, 21 Mei 2014

Mengiringi dan Ngesound

Dalam ibadah atau kebaktian di gereja, selain kotbah dan doa, pelayanan musik memegang peranan yang tidak kalah penting. Rasanya ada yang kurang jika ibadah tanpa ada nyanyian atau musiknya. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa gereja itu adalah jemaat yang bernyanyi. Kualitas musik dan nyanyian jemaat sangat menentukan kualitas ibadah atau kebaktian yang diselenggarakan. Jika jemaat menyanyikan dengan baik dan sesuai dengan tujuan, maka sebenarnya kotbah dan doa sudah termasuk di dalamnya. Unsur yang membuat kualitas musik dan nyanyian jemaat menjadi baik adalah pelayanan musik yang ditunjang oleh pelayanan sound system. Kedua hal ini saling menopang dan melengkapi. Tanpa musik, jemaat kadang kurang semangat untuk menyanyikan lagu-lagu pujian. Tempo kadang melambat, jemaat pun takut salah. Tanpa sound system, musik yang dimainkan pun tidak maksimal karena jemaat kadang terganggu oleh volume suara yang mungkin terlalu keras atau lemah. Di sinilah diperlukan kerja sama antara pemain musik dan petugas sound system.
                Setiap Minggu, aku dan Mas Cah biasanya dijadwalkan melayani di kebaktian. Aku dijadwalkan memainkan musik di GKJ Gondokusuman, sedangkan Mas Cah dijadwalkan mengatur sound system di GKJ Ambarrukmo. Kami memang belum mengurus untuk bisa tercatat di satu administrasi gereja pada saat tulisan ini dibuat. Aku bersyukur karena proses belajar musik dari sejak kecil sampai sekarang, meskipun sempat berhenti karena fokus sekolah, dapat berguna untuk memuliakan Tuhan di gereja. Mas Cah pun demikian. Hasil belajar formalnya di bidang elektronika sekaligus merupakan hobbynya itu sungguh berguna juga bagi pelayanan ibadah di gereja. Aku dan Mas Cah sama-sama menerapkan prinsip totalitas setiap kali melayani kebaktian. Aku minimal harus latihan terlebih dahulu satu hari sebelum kebaktian. Kemudian, aku harus sudah siap paling tidak setengah jam sebelum kebaktian dimulai. Yang kulakukan adalah memainkan lagu-lagu pujian secara lembut untuk menciptakan suasana hening sebelum kebaktian dimulai. Biasanya ada jemaat yang datang awal untuk berdoa sebelum kebaktian. Di sinilah aku berperan membantu mereka memasuki suasana hening dan syahdu dalam menikmati hadirat Tuhan melalui doa-doa pribadi mereka. Untuk bisa mengiringi dengan baik dan penuh penghayatan, selain teknis latihan, aku perlu mempersiapkan juga hati dan jiwaku. Aku perlu berdoa dan menenangkan hatiku supaya aku bisa konsentrasi dan fokus pada saat bertugas mengiringi. Kadang saat bermain musik, Tuhan mengalirkan ide-ide kreatif sehingga aku bisa memainkan improvisasi cantik yang menambah meriah ataupun syahdu lagu pujian yang dinyanyikan.
                Dalam bertugas mengatur sound system pun, Mas Cah juga bersikap profesional. Mas Cah selalu datang awal jauh sebelum kebaktian dimulai. Ia selalu mengecek semua mikrofon yang akan digunakan beserta spiker-spiker alat musiknya. Setelah semua beres, diputarnya lagu-lagu instrumentalia lembut untuk menciptakan suasana indah dalam gedung gereja. Sama seperti yang kulakukan dengan alat musik, demikian juga yang dilakukan Mas Cah dengan peralatan sound systemnya. Ketika kebaktian berlangsung, Mas Cah selalu siaga di tempatnya, mengatur volume di sana sini dan sigap manakala ada feedback yang mengganggu. Pekerjaan pelayanan Mas Cah selalu beres dan tidak pernah setengah-setengah. Aku sungguh kagum dan bangga akan sikap Mas Cah itu.
                Kami sering mendiskusikan kebaktian yang kami layani masing-masing. Kami saling mencurahkan gagasan mengenai musik dan sound system. Harapan kami, gereja di mana kami berjemaat pun dapat bertumbuh dan berkembang dalam hal pelayanan musik dan sound system di setiap kebaktiannya. Kami masih belum puas dengan kondisi yang ada saat ini. Karena itu, kami senantiasa setia mengerjakan tugas panggilan kami sebagai pemusik dan petugas sound system meskipun tidak banyak diperhatikan orang.


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Kamis 16 Mei 2013)

Tidak ada komentar: