Rabu, 21 Mei 2014

Ritual Jalan-Jalan

Sebelum membangun keluarga sendiri, aku dan keluarga intiku (bapak, ibu, dan kakak) punya ritual untuk melepas penat dan sekaligus mempererat hubungan antaranggota keluarga. Ritual itu adalah ‘berjalan-jalan’ naik mobil. Biasanya kami melakukan ritual itu setelah menghadiri kebaktian hari Minggu, entah siang atau sore. Rute yang ditempuh bervariasi, tergantung selera sang pengemudi, yaitu bapak. Jarak yang ditempuh bisa mencapai berpuluh-puluh kilo meter. Perjalanan pergi pulang dari Jogja dapat memakan waktu sampai larut malam. Capek atau lelah tidak terasa karena tertutup oleh kepuasan batin yang diperoleh. Masing-masing kami mempunyai kesenangan sendiri-sendiri. Bapak senang mengemudi dengan penuh konsentrasi, tanpa banyak omong, mungkin sambil mendengarkan obrolan atau celetukan para penumpang dengan latar belakang musik dari audio mobil. Ibu lebih senang tertidur menjelang pertengahan perjalanan sampai ke tujuan perjalanan. Aku dan kakakku cenderung suka mengamati sekeliling, mendengarkan musik, atau membaca, sebelum pada akhirnya pun tidur juga karena getaran mobil yang monoton.
                Setelah berkeluarga, aku seperti ‘kehilangan’ ritual jalan-jalan naik mobil sampai tertidur itu. Maklum, sampai tulisan ini dibuat, Mas Cah belum punya SIM A sehingga belum berani membawa mobil ke mana-mana. Walhasil, aku pun menjadi terbiasa melek atau terjaga terus sepanjang perjalanan membonceng sepeda motor. Jarak tempuh ‘berjalan-jalan’ dengan sepeda motor tidak sejauh dengan mobil. Sehingga, aku belajar untuk mencukupkan diriku dengan apa yang ada. Tidak ada lagi mendengarkan musik sepanjang perjalanan apalagi sampai tertidur. Namun akhir-akhir ini, muncullah kebiasaan baru yang terbilang cukup menyenangkan. Ini semua berkat Asa, sang putri kerajaan surga. Setelah mandi sore dan makan, biasanya Asa rewel karena menjelang waktu tidur. Untuk mengatasi rewelnya, aku dan Mas Cah mengajak Asa ‘berjalan-jalan’ naik motor menjelajah kampung sekitar rumah. Biasanya kami pergi sekitar jam lima sampai jam enam sore. Asa yang digendong dengan ransel itu pun terlihat sangat menikmati waktu-waktu kebersamaan ini. Biasanya dia akan tertidur menjelang berakhirnya ‘jalan-jalan’. Sepanjang perjalanan naik motor itu, aku menikmati pemandangan kanan kiri jalan sambil mengajak ngobrol Mas Cah. Aku jadi terbiasa dengan perjalanan tanpa mendengarkan musik di tape. Aku bisa menikmati musik jalan raya berupa deru kendaraan bermotor dan bunyi klakson yang bertalu-talu. Rasanya begitu kaya dan merakyat sekali.
                Ada beberapa manfaat yang bisa diambil dari ritual ‘berjalan-jalan’ naik motor atau mobil itu. Yang pertama adalah melepas penat terutama akibat kebosanan atau lelah berpikir. Pikiran yang jenuh akibat rutinitas baik itu di rumah maupun di kantor dapat terjernihkan dengan selingan berupa menikmati ritual jalan-jalan. Kedua, dapat mempererat tali kasih. Dengan mengobrol sepanjang perjalanan, entah topik apa yang diangkat, pikiran menjadi santai dan hati menjadi lebih hangat. Ketiga, dan ini yang paling penting, adalah adanya kesempatan untuk mengadakan kontemplasi terselubung. Pikiran yang mengembara ke mana-mana dapat tersalurkan pengembaraannya sepanjang perjalanan. Tubuh yang tidak banyak bergerak namun sudah mengalami perpindahan ruang dan waktu berkat kendaraan yang dinaiki itu cukup membantu menyantaikan arus pikiran sehingga sering muncul gagasan-gagasan yang inspiratif dari hasil kontemplasi terselubung. Sering pula waktu-waktu itu aku manfaatkan untuk berseru atau ngobrol dalam hati dengan TUHAN. Mungkin di perjalanan aku melihat suatu pemandangan menarik kemudian aku serukan gagasan yang timbul darinya kepada Tuhan. Waktu yang kumanfaatkan dengan ‘jalan-jalan’ naik motor itu sungguh tidaklah sia-sia karena selain berhasil menidurkan Asa, aku memperoleh penyegaran roh dan jiwa yang murah dan meriah.
(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, 25 Oktober 2013)


Tidak ada komentar: