Rabu, 21 Mei 2014

Mbak Ami Sang Pekerja

PRT atau pekerja rumah tangga menjadi fenomena tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya dalam lingkup keluarga. Karena pada zaman sekarang, di Indonesia, sudah umum jika laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja di luar rumah, kebutuhan akan PRT menjadi tak terelakkan. Memang ada juga keluarga yang mandiri dan modern yang tidak mempekerjakan PRT dalam rumah tangga mereka. Tapi, bagi sebagian besar keluarga yang mampu secara ekonomi, sepertinya sudah menjadi hal wajib untuk mempekerjakan PRT. Bermula atas dasar kebutuhan itulah, maka beberapa waktu yang lalu, kami mepekerjakan seorang PRT yang tugas utamanya adalah membantu menjaga Asa yang masih bayi sementara aku dan Mas Cah bekerja di luar rumah.
                Namanya Aminah. Aku memanggilnya Mbak Ami. Mbak Ami adalah PRT yang direkrut bekerja di rumah tangga kami di Rumah Cahaya selama beberapa waktu yang lalu. Pekerjaan utamanya adalah membantuku menjaga Asa terutama saat aku harus pergi bekerja di ladang TUHAN di Yogyakarta. Mbak Ami berasal dari Wonosari, sebuah kota kecil di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Memang, banyak sekali perempuan-perempuan muda dari Gunung Kidul yang merantau ke kota menjadi PRT dengan berbagai motivasi. Mbak Ami sendiri ketika kami tanya-tanyai mengatakan bahwa motivasinya adalah untuk belajar menjadi ibu rumah tangga kelak saat sudah menikah, di samping tentu saja mencari penghasilan yang halal. Pendidikan terakhirnya SMP. Mbak Ami tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena alasan biaya dan memang sudah umum bagi perempuan muda di daerahnya untuk tidak melanjutkan pendidikan lebih tinggi.
                Sejak awal kerja sampai keluarnya Mbak Ami, aku belajar banyak hal berharga. Aku belajar bagaimana menilai seseorang dari kinerjanya. Selama ini, aku menganggap Mbak Ami sebagai bagian dari keluarga sendiri tanpa perlu menilai apakah pekerjaannya beres atau tidak. Ternyata, sebagai ibu rumah tangga, sangatlah perlu bagiku untuk mengecek dan mengevaluasi kinerja PRT dengan objektif. Aku yang cenderung cuek ini belajar dari Mas Cah dan keluarganya bagaimana bersikap tegas sekaligus lemah lembut dalam mengarahkan PRT. Dari ibu mertua, aku belajar bagaimana bersikap benar dan pada tempatnya jika berhubungan dengan PRT. Ibu mertua banyak sekali memberikan wejangan untuk Mbak Ami yang intinya mengajari Mbak Ami bagaimana bersikap yang baik dan benar. Mbak Ami pun aku beri dorongan untuk terus belajar. Karena keluarga dari Solo sudah biasa melakukan segala sesuatu secara mandiri, maka mereka bisa menilai dengan lebih cermat kinerja Mbak Ami. Ternyata, apa yang kuanggap wajar dan bukan masalah merupakan hal yang kurang baik dan menjadi ganjalan bagi ayah ibu mertua dan Mas Cah. Memang kesan yang kudapat dari sikap ayah ibu mertua terhadap Mbak Ami pada awalnya terlalu keras dan kaku. Tapi setelah dipikir dan direnungkan, aku mendapati ada benarnya juga pendapat mereka. Bahkan, aku merasa TUHAN menegurku melalui nasihat ibu mertua perihal kedekatan Asa yang lebih lengket kepada Mbak Ami daripada kepadaku. Aku mengambil hikmah pada saat yang tepat. Aku sadar sebelum semuanya terlambat. Aku mengambil kembali tugas, tanggung jawab, dan posisiku sebagai ibu yang baik tepat sebelum Mbak Ami berpamitan untuk berhenti bekerja. Rasanya semuanya begitu tepat waktu. TUHAN terasa betul sudah mengatur semuanya sehingga aku secara pribadi sudah siap dengan berbagai bentuk perubahan dalam kehidupan keluargaku.
                Setelah Mbak Ami berhenti, aku dan Mas Cah bersama-sama bekerja mengatur kembali kebiasaan rutin dalam keluarga. Aku harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan, memandikan Asa, bersiap-siap untuk kerja, dan lain sebagainya. Aku juga harus belajar kembali untuk menata prioritas kegiatan-kegiatan dalam rumah tangga supaya tidak ada yang terabaikan. Prioritas utama adalah kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Aku perlu belajar untuk mengatur makanan, pakaian, dan tetek bengek rumah secara mandiri. Apa yang selama ini menjadi tugas rutin Mbak Ami kini menjadi tugas rutin aku dan Mas Cah. Aku tidak menyesalkan Mbak Ami berhenti jadi PRT di rumah kami. Aku berharap Mbak Ami dapat memetik pelajaran yang berharga dari pengalamannya bekerja di keluarga kami meskipun cuma sebentar. Lebih dari itu, aku berdoa supaya dalam perjalanan hidupnya kemudian, Mbak Ami pun beroleh pengenalan yang benar akan Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya pribadi. Aku bersyukur karena setidaknya aku pernah sekali dua kali menyampaikan kabar baik keselamatan secara halus kepada Mbak Ami. Kiranya apa yang aku sampaikan itu menjadi benih yang tumbuh dalam hati Mbak Ami sehingga saatnya nanti dapat dituai. Selamat tinggal, Mbak Ami! Sampai ketemu lagi!


(Rumah Cahaya, Rabu 15 Mei 2013)

Tidak ada komentar: