Rabu, 21 Mei 2014

Jiwa Korsa

Beberapa waktu yang lalu, kota Yogyakarta dikejutkan oleh peristiwa berdarah yang melibatkan aksi premanisme. Dimulai dari peristiwa tewasnya seorang anggota Kopasus di tangan empat preman yang katanya adalah mantan anggota kepolisian, dilanjutkan dengan drama aksi penembakan para tersangka di LP Cebongan oleh para anggota Kopasus. Ternyata, masyarakat Yogya lebih banyak bersimpati kepada tindakan Kopasus itu karena selama ini sudah merasa sangat dirugikan oleh premanisme. Maka, menjadi sangat populerlah istilah jiwa korsa. Jiwa korsa adalah semangat solidaritas yang ditumbuhkan dalam diri para prajurit TNI. Dengan jiwa korsa ini, para prajurit TNI menjadi sangat kuat dalam kesatuan. Jika ada satu yang dilukai, yang lain turut merasakan.
                Semangat jiwa korsa yang ditunjukkan oleh oknum Kopasus itu telah memberikan inspirasi yang luar biasa. Kopasus adalah pasukan elit TNI Angkatan Darat yang dilatih secara khusus untuk melindungi negara. Dalam latihan yang berat, mereka dikondisikan untuk senantiasa siaga karena taruhannya adalah nyawa. Mereka terlatih untuk melakukan suatu misi sampai berhasil. Keluarga mereka pun harus siap sewaktu-waktu terhadap kemungkinan terburuk yaitu berpisah selamanya dengan anggota keluarga yang menjadi Kopasus. Maka, dapatlah dimaklumi apabila dalam keseharian mereka dipandang sebagai orang-orang yang melebihi masyarakat sipil. Itu sebabnya pula orang-orang tidak boleh bersikap sembarangan terhadap tentara.
                Belajar dari semangat kesetiakawanan ala jiwa korsa itu, kita dapat sedikit meniru dan menerapkannya di keluarga, tempat kerja, dan persekutuan gereja. Manakala satu anggota tersakiti atau menderita, anggota-anggota lain pun turut merasakannya. Ada rasa kepedulian yang tulus dan murni. Rasa kepedulian itu dapat diekspresikan dengan bermacam-macam cara. Tidak cukup hanya dengan berdoa atau mendukung secara tidak langsung. Diperlukan sumbangan daya dan kalau perlu dana juga. Misalnya, ketika salah seorang anggota keluarga atau rekan kerja dan persekutuan sedang sakit atau tertimpa musibah, sudah selayaknyalah kita sebagai bagian dari orang-orang terdekatnya untuk berbela rasa dengan cara menjenguk, mendoakan, dan kalau perlu membantu biaya sekedarnya. Semua itu akan menambahkan daya juang dan semangat hidup dari si sakit atau orang yang menderita. Misalnya lagi, ketika ada yang kesusahan dalam hal keuangan dan dalam kondisi terjepit, maka sudah selayaknya bagi kita sebagai orang terdekat untuk membantu semampu kita. Semua ini semata-mata karena rasa solidaritas antar teman dan saudara yang murni seperti jiwa korsa para tentara.
                Sebaliknya, ketika seseorang sedang mujur atau mendapat kelimpahan berkat berupa harta yang bertambah, kenaikan pangkat, atau bertambahnya jumlah anggota keluarga, maka kita sebagai orang-orang terdekat hendaknya ikut pula merasa senang dan bangga. Jika yang satu dimuliakan, semua anggota pun ikut merasa senang, bukannya iri hati dan dengki. Memang lebih mudah untuk ikut merasakan penderitaan orang lain dibandingkan dengan ikut merasakan kesenangannya. Kita pada umumnya lebih suka melihat wajah yang memelas dan menderita daripada wajah yang senang atas keberhasilan. Tapi Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk bisa bersikap benar, yaitu menangis bersama dengan orang yang menangis dan tertawa bersama dengan orang yang tertawa. Selain itu, kita sebagai anggota persekutuan orang percaya digambarkan juga sebagai satu anggota tubuh Kristus. Meskipun berbeda-beda bentuk dan fungsinya, kita diikat dan disatukan oleh kepala yaitu Yesus Kristus sendiri. Seperti layaknya satu tubuh, maka kesatuan tujuan dan kebersamaan itu penting. Pertanyaannya, sudahkan semangat kesatuan itu ada terwujud?
                Marilah kita kobarkan semangat kesatuan hati layaknya jiwa korsa itu di manapun TUHAN telah menempatkan kita. Di keluarga, di tempat kerja, di persekutuan, di mana pun. Salam komando!


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Rabu 15 Mei 2013)

Tidak ada komentar: