Senin, 29 Oktober 2007

Curhat Sehabis Mati

28 Desember 2006



Bapaa...

Terlalui juga tahap seminar hasil yang acak adut & kacau abis ini. Aku merasa seperti menjadi orang paling bodoh sedunia. Rasa malunya masih belum hilang, nih... plus rasa nggak layak yang nggak enak banget itu. Tinggal satu tahap lagi yang nggak kalah menjemukan dan membosankan yaitu konsultasi, revisi, & pendadaran. Rasanya mau muntah... huek!

Rasanya seperti pahlawan bertopeng yang harus melepaskan topengnya... aku jadi nggak bisa mikir banyak nih! I know, I know that You still love me, Father. Aku juga tahu kalau Engkau nggak meninggalkanku, Bapa... tapi sekarang rasanya seperti membuat seluruh dunia berpaling menonton kebodohanku yang memalukan... duh, malunya! Huhu...

Mana Bu Tari tahu lagi kalo bukan aku yang bikin itu skripsi & ketidakmauanku untuk koas... Kalo bukan karena faktor keluargaku, pasti aku nggak akan diperhatikan atau diistimewakan kayak gini. Harus bersyukur atau malah malu nih, Bapa?



Hmm... sedikit berpikir & merenung untuk menghibur diri nih... bicara masalah status,Bapa... statusku sebagai anak bapak & ibuku yang mempunyai reputasi sebagai dokter itulah yang membuatku seperti mendapat "hak istimewa" atau "perhatian khusus". Apalagi ibuku yang bela-belain repot cuma demi kelulusanku yang tinggal selangkah lagi sementara aku dah nggak minat. Jadi, semua ini bukan karena usahaku, Bapa... sama sekali bukan! Mirip2 dengan kesalematan & kasih karuniaMu, ya? Bedanya cuma ini bikin aku nggak bangga & nggak merasa layak sedangkan kasih karunia & keselamatan itu bikin aku bangga & melayakkanku untuk menjadi anakMu & memandang wajahMu.



Hmm lagi... ketoke ironis ya, Bapa... dulu aku berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan status & identitasku sebagai anak dokter yang cukup dikenal di lingkungan kampus FK UGM dengan alasan "keadilan". Tapi sekarang justru sebaliknya yang terjadi. Usahaku itu malah menghancurkanku & menjadi bumerang buatku sendiri (ceritanya panjang). Malah, keuntungan & kelebihan yang berusaha aku tutupi itulah yang sekarang "menyelamatkan" (muka)ku. Sekarang malah aku dikenal banget sebagai anak bapak ibuku yang hebat2 (jadi yang hebat bukan aku, hiks...). Ini gimana sih? Adil gak sih? Hmm... Pokoke, Bapa, aku dah wegah banget jadi dokter! Dah kepalang basah malunya! Wagu banget...



Tadi sepulang dari "pelucutan topeng", aku disapa 3 orang temenku dengan nggak disangka-sangka. Apakah ini yang namanya kasih karunia? Aku masih mendapatkan kebaikan2Mu meskipun sebenarnya dah nggak layak banget? Wah, Bapa... rasane aku masih perlu belajar lagi akan kasih karuniaMu nih, bukan secara konsep2 abstrak melainkan yang bener2 nyata di kehidupan sehari-hari. Aku bener2 anak yang bikin malu, bukan kepasa siapa2 melainkan kepada diriku sendiri... Apakah ini yang namanya "mati", Bapa? Kalo gitu, "bangkit"nya seperti apa, Bapa?



"Dah puas Mi, menghukum diri sendiri?"



Hmm... baik nggak sih, Bapa, menghukum diriku sendiri? Menyiksa diri kaya' gini ini berguna gak sih? Yang jelas bukan Engkau, Bapa, yang menghukum diriku bahkan bukan juga si Iblis melainkan diriku sendiri... Bener2 konyol. Aku harus mengampuni diriku sendiri nih, Bapa, biar nggak keterusan makin parah menyiksa diri... So, dengan ini, aku nyatakan: Mimi nggak bersalah & nggak boleh disalahkan lagi oleh siapa pun, terutama oleh Mimi sendiri!

TOK... TOK... TOK...

Hehe... jadi nget film2 China klasik seperti Puteri Huan Zhu dulu, di mana para kasim & pelayan yang bikin kesalahan harus menampar dirinya berkali-kali & bilang "Hamba pantas mati!" berulang-ulang. Bener2 bego & konyol ngeliatnya... Ya, mungkin mirip2 kaya' gitu kalo aku menyiksa diriku terus sementara Bapa sendiri nggak menyalahkan/menghukum aku. Wah, hujan nih, Bapa... deres keliatannya... Jadi inget, hujan itu sama seperti Bapa setuju denganku... hehe, ya gak sih?


So, Bapa... aku menyimpulkan bahwa pepatah "Allah akan menolong orang yang menolong dirinya sendiri" itu nggak berlaku untukku... buktinya ya aku ini, Bapa... Pokoke nggak ada deh alasan buatku meninggikan diri lagi setelah ini karena aku dah ngerasain sendiri sakitnya... Aku bener2 dah "mati" ya, Bapa? Sakit & nggak enak ya, rasanya... Yang penting, yang terbaik aja deh yang terjadi... Ayo, Bapa, kita main bola lagi! Hehe...


TUHAN, Bapa, aku mau curhat dikit... ("Banyak juga boleh kok!") Bapa, kalo aku ketemu Nelly, aku mau ngomong apa ya? Nggak tahu deh... Dah, cuma itu yang pingin aku curhatin sama Engkau, Bapa... hehe...


Aku janji sama Bapa, aku nggak akan menyalahkan atau menghukum diriku sendiri setelah lulus nanti.

Tidak ada komentar: