Selasa, 30 Oktober 2007

Kisah Seorang Anak Kecil

29 Desember 2006

Bapa...
met pagi & pakabar? Habis njemput Yoyo nih di bandara... perasaannya? Seneng tapi juga agak kagok dikit... aneh ya? Aku lagi mikir tentang sesuatu nih, Bap... yaitu tentang "mencintai bayangan" atau perasaan cinta terhadap sesuatu yang kita pikirkan. Saat aku memikirkan sesuatu atau seseorang yang aku (pikir) sangat sukai, biasanya aku merasa amat sangat yakin bahwa aku telah mengenalnya dengan baik. Tetapi begitu sesuatu atau seseorang itu bener2 ada di hadapanku, segala yang aku pikir telah kukenal & kuketahui dengan baik itu tiba2 hilang lenyap... diganti dengan ketakjuban yang membuatku nggak bisa berkata-kata atau berkomentar seperti biasanya. Jadi seperti merasa asing dengan diri sendiri... Apa yang ada nyata di depan mata bener2 menghapus bayangan2 yang aku susun dengan rapi dalam pikiranku selama ini... Hmmm.... seperti itu jugakah nanti saat aku ketemu face to face denganMu, Bapa? Aku jadi takjub, diam seribu bahasa, & malu2 mau untuk mendekat padaMu? Aku jadi bingung & nggak tahu lagi gimana mau mengekspresikan perasaan senangku padaMu? Wew... pinjam istilahnya Jamrud, ketoke aku perlu kursus merangkai kata untuk bicara nih... Di atas kertas mungkin aku bisa cerewet & cerita panjang lebar ngalor ngidul, tetapi begitu kertas & alat tulis nggak ada... aku jadi diem. Hmm... normal nggak sih, Bap? Normal donk, ya?^.^

Jam 15.20 di kamarku...
Bapa...
pertama-tama, biasa... bingung lagi nih mau nulis apa. Tapi paling juga ngalir sendiri setelah aku mulai nulis2... hehe... Mmm, ketoke temene Yoyo yang nitip laptop itu bukan mas tuuuut deh. Syukurlah... fiuh! ^.^ Terus nanti malem jam 7 katanya mau ada acara kebaktian keluarga di Bukit Surya Kaliurang. Nggak tahu siapa yang punya inisiatif tapi nggak ada salahnya untuk ikut... juga nggak terlalu banyak berharap.Entahlah, Bap... keluargaku emang agak2 unik,kalo nggak mau dibilang aneh. Semacam ada tembok yang tak tampak atau kabut misterius yang bikin aku merasakan semacam kecurigaan, iri hati, ketidaktulusan, dengki, dendam, benci, kemunafikan, dkk. Nggak tahulah... Aku agak bingung nih, Bap... Dari apa yang selama ini aku pelajari, yang namanya persekutuan itu bukan hanya pas ngumpul2 bareng waktu ada acara2 khusus melainkan gimana hubungan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari. Bapa tahu sendirilah, mungkin karena saking sibuknya, masing2 jadi jarang banget komunikasi atau silaturahmi (pinjam istilah tetangga). Aku dah lama nggak main ke tempat Pakde Tato & Bude Lingga, & mereka juga nggak pernah main ke rumah. Heran deh aku... aku dah lama nggak merhatiin gimana hubungan kasih antarkeluarga yang dulu sedemikian rupa akubela2in dihadapanMu. Aku dah lama ngggak gitu meduliin mau baik apa hancur hubnungannya... dah lama juga nggak ndoain secara khusus. Hmm, masih perlu nggak sih, Bap? Keadaan yang kelihatannya adem ayem seperti ini tuh sebenarnya gimana sih menurut pandanganMu? Kok kasihku terhadap mereka2 yang notabene adalah keluargaku ini menjadi dingin, ya? Hmm...

Seandainya nanti beneran ikut ke Kaliurang, aku masih bingung mau jadi diriku yang seperti apa... harus bagaimana... Apa biasa2 aja, datar2 aja? Atau berusaha bersikap sedikit lebih antusias? Hmm... belum tahulah, Bapa... Lagian kalo ada Yoyo, biasanya perhatian orang2 akan lebih banyak ke Yoyo... Aku selalu jadi bayangan yang nggak kelihatan deh, Bapa... Terus, rencanaku ke depan mau ngapain setelah lulus juga belum aku rumuskan secara mateng... masih mentah... Yang ada dalam pikiranku ya cuma nulis dan nulis... Aku masih belum tahu gimana njawab pertanyaan orang lain tentang hal ini nantinya... So, gimana nih, Bap? Pengalaman2 yang lalu membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku nggak sehebat & sekeren yang aku bayangkan... semua itu kadang bikin aku down & kecil hati. Hmm... Aku emang jarang ngeluh sih, tapi sekalinya ngeluh... wuih, bisa panjang banget! Tapi aku belajar untuk nggak terlalu banyak ngeluh/curhat tentang masalah pribadiku sama orang lain. Soale orang lain juga kadang punya masalahnya sendiri sehingga mereka bisaq capek & bosan ndengerin keluhanku. Tapi kadang banyak juga kok yang punya hati sebaik Engkau, Bapa, yang diem2 perhatian & ndukung aku dalam doa saat aku lagi ada masalah berat & butuh pertolongan. Well, aku cuma bisa bilang... mbuh ah! Biar Bapa sendiri yang mbales semua kebaikan mereka secara diam2 juga... Aku nggak gitu ambil pusing, tapi aku ikut seneng kalo Bapa & yang lain seneng.

Apa lagi ya, Bap? Nek tak baca2 lagi tulisanku barusan, kok mesakke juga ya? Hehe... anak yang patut dikasihani nih, Bapa... nggak banyak orang yang tahu & mau mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Berusaha mati2an untuk nggak jatuh dalam sikap mengasihani diri sendiri & berusaha meyakinkan diri bahwa dia nggak sendirian meskipun kadang2 merasa kesepian tapi akhirnya jatuh tertidur juga karena kecapekan sendiri (biasanya). Hmm... gimana kalo sesuatu yang nggak biasa terjadi ya, Bapa? Gimana kalo tanpa disangka-sangka, Engkau sudah siapin "something special" yang menjadi kejutan yang membangkitkan sukacita si anak tsb? Wow... keren!

Tidak ada komentar: