Rabu, 31 Oktober 2007

New Year 2007

2 Januari 2007

Happy New Year, Bapa...

Brrr... dingin. Serasa musim dingin di Alaska atau Antartika aja. Anginnya kenceng banget sehingga jadi kerasa dingin. Hujan belum turun meskipun dari tadi pagi mendung terus. Apa kabar, Bapa? Seharian kemarin aku nggak ngasih kabar berita tertulis sama Engkau karena firstly, capek. Secondly, agak males. Thirdly, aku merasa nggak enak hati. Apa sebab? Banyak. Here they are...

Aku merasa tersinggung & nggak enak hati karena perkataannya Om Yoyok yang menyiratkan bahwa aku lupa dengan sanak keluarga. Really? Am I? Aku emang lagi males rame2 & kumpul2 karena aku lagi pingin sendirian untuk menulis lebih banyak lagi. Makanya aku kemarin gak sepenuh hati ngikutin acara keluarga yang rame2. Nggak tahu kenapa pokoknya aku lagi pingin menyepi & nggak pingin diganggu. Terus aku lumayan kaget & shock juga waktu denger dari Baba yang bilang kalo anak2 PMKK 05 pada marah karena kemarin Sabtu aku nggak bisa ikut latihan. Lha gimana, aku dah janji duluan sama ibuku untuk ikut Natalan Marturia di Kalipenten. Salahku cuma lupa ngasih tahu Baba sebelumnya kalo kemarin Sabtu aku nggak bisa ikut latihan. Lagian minggu kemarin aku juga ada seminar hasil yang nganyelke itu, jadinya ya lupa deh mau ngasih tahu Baba. Pokoke serba nggak ngenakin deh, Bap... makanya aku jadi males nulis. (Akhirnya, hujan juga deh... Jadi tambah adem... brr).

Bap... aku sekarang kaya'nya lagi lupa sama yang namanya seni berkomunikasi. Nggak tahu lupa apa males, rasane aneh wae nek diajak ngobrol atau disapa sama orang lain. Kok bisa gitu, ya? Aku juga lagi nggak niat untuk tahu penyebabnya. Pokoknya cuma pingin nulis wae.

Bap... aku pikir aku ini mirip Kain, saudaranya Habel, yang jahat itu. Aku merasa marah pada diriku sendiri & nggak aman saat lihat saudaraku lebih berhasil & lebih baik daripada aku. Padahal seharusnya nggak boleh gitu, kan! Aku marah karena setiap kali ada yang tanya Yoyo mau kerja di mana (& Yoyo dah tahu dia mau ke mana), aku merasa seolah-olah aku ini orang paling bodoh sedunia. Pokoknya segala macam negative thinking yang self destructive itu membanjiri pikiranhku & siap menenggelamkanku dalam jebakan mental (aku belum dapat nama yang cocok) yang jauh lebih parah daripada sebelumnya. Semakin besar lagi kemarahanku saat inget2 hal2 yang nganyelke seperti saat menghadapi para klinisi yang memang pinter tapi nggak punya empati & nggak bisa memahamiku sebagai manusia seutuhnya. Urgh! Pokoknya sebel banget!

Bap... aku lupa gimana caranya jadi seorang sahabat. Terus aku marah dengan perasaan takut & kuatir yang mulai menghantui perjalananku ke depan. Aku marah! Aku pingihn mengcounter strike semua kebohongan yang membuatku bimbang ini! Tolong Bap, kasih aku senjata2 yang tepat untuk memenangkan pertarungan pribadi satu lawan satu ini. (Barusan aku mengalami 'de javu'). I need Your counsel & comfort, Father. Here I am. Please, help me...! I need You! Right here, right now. I want to win the battle! In the name of Jesus Christ, amen! Haleluya!

Aku masih marah (untuk mengcounter perasaan takut & bimbang) nih, Bapa! Aku marah memikirkan keharusanku untuk memberikan pertanggungan jawab kepada orang lain yang mempertanyakan dasar pengharapanku. Aku marah memikirkanh kemungkinan terburuk yang bakal aku hadapi di kemudian hari terutama saat impianku terwujud. Aku marah kalo aku sampai kehilangan lagi akses ke sumber pengharapan & sukacitaku (yaitu Engkau, Bapa). Aku marah mengingat kebodohan2 yang ada dalam keluargaku. Harus aku salurkan ke mana energi amarahku ini, Bapa? Habis marah biasanya aku capek. Kalo capek, aku gampang pusing. Kalo dah pusing, aku lebih baik tidur. Tapi apakah itu menyelesaikan masalah, Bapa? Ugh, aku pingin melampiaskan amarahku dengan melakukan sesuatu. Bagaimana kalo nggambar?\

I am angry...

O iya, gimana kabarnya Gladies, Bapa? Terakhir SMS keliatannya dia ada masalah berat & butuh hikmat. Dia cuma minta aku ndoain dalam roh aja. Satu kata yang menyadarkanku akan panggilanku adalah: ANGEL. Gladies mengingatkanku kembali akan sukacitaku yang besar saat aku berperan sebagai "angel" atau malaikat penjaganya orang lain lewat doa. Hmm... mungkin ini jawabanMu, Bapa... akan kusalurkan energi kreatif akibat amarah ini dengan berdoa syafaat... nggak lagi memikirkan diriku sendiri. Let's do it!

Bapa, aku marah & nggak terima dalam hati sama sikap Tante Asih (& Om Fifi juga) terhadap anak2nya, Veno & Yayan. Kenapa Tante Asih selalu bilang di depan anak2nya sendiri kalo mereka goblog, nggak pinter, dsb? Kenapa mereka selalou dibanding-bandingkan dengan orang lain? Apa Tante Asih & Om Fifi nggak tahu bahwa sikap seperti itu dapat menghancurkan semangat & membunuh impian anak2? Nggak heran kalo Veno begitu benci & pernah terlontar untuk membunuh ibunya sendiri (menurut cerita yang kudengar dari ibu). Tapi aku berdoa, Bapa, STOP semuanya ini! STOP kekerasan psikologis tsb! Apa pun akarnya, tolong cabut itu semua sampai bersih, Bapa, & gantikan dengan benihMu... benih cinta kasih surgawi yang benar & kudus sehingga keluarga Tante Asih & Om Fifi dapat menjadi keluarga kemuliaanMu. Bless them, Father... in the name of Jesus Christ! Amen!

Tidak ada komentar: