Jumat, 04 Desember 2009

Duri dalam Daging


Hari ini aku kontrol lagi untuk kesekian kalinya. Kontrol kesehatan jiwaku yang semakin lama semakin membaik saja kondisinya. Dokter Mahar yang menanganiku selama ini masih tetap menganjurkan untuk minum obat secara teratur sekali setiap hari. Menurut perhitungan beliau, obat akan diturunkan dosisnya secara perlahan-lahan nanti setelah aku melawati masa-masa internship/magang. Waktu aku tanya pengobatannya nanti sampai seperti apa, beliau cuma menerangkan bahwa "penyakit" yang aku alami ini seperti penyakit gula atau hipertensi yang tidak dapat sembuh tetapi hanya terkontrol. Itu kesimpulan yang aku tarik sendiri dari penjelasan beliau. Yah, memang secara medis demikian adanya. Tetapi aku tetap positive thinking donk. Dalam Tuhan Yesus tidak ada yang mustahil. Penyakit apapun itu, termasuk penyakit jiwa kronis, dapat disembuhkan secara sempurna dan total, entah bagaimana prosesnya, asalkan ada iman yang teguh dan ketaatan yang sungguh2 terhadap TUHAN. Sudah dua tahun ini aku nggak kambuh lagi kumatnya, suatu kemajuan yang luar biasa. Kalau dua tahun lagi aku juga nggak kambuh, maka pengobatan dapat dikurangi secara bertahap dan semoga dapat berhenti.

Aku menargetkan dalam empat tahun ini, aku dapat berhenti minum obat, mbuh dasarnya apa. Tapi itu adalah target yang aku canangkan supaya aku bersemangat dalam menjalani proses terapi yang panjang ini. Mengapa? Aku ada beberapa pertimbangan. Empat tahun lagi aku sudah 29 tahun. Mungkin aku sudah menikah dan berkeluarga. Aku sudah tidak lagi ditanggung oleh bapak ibuku. Sementara, harga obat yang kuminum itu mahalnya ajubile. Satu blister bisa sampai 500 ribuan. Padahal dalam sebulan aku minum tiga blister. Bisa sampai 1,5 jutaan. Iya kalo suamiku besok kerja di Bethesda, bisa dapat kortingan. Kalau enggak? Repot kan? Belum lagi kalo seandainya suamiku besok bukan dokter, semakin repot saja menjelaskan seluk beluk "penyakit" yang didiagnosa ada padaku ini.

Secara pribadi, aku sudah nggak ambil pusing lagi dengan "penyakit" itu. Aku anggap saja sebagai "duri dalam daging". Kalau toh TUHAN berkenan untuk mencabutnya, ya puji TUHAN. Kalau enggak, ya tetap puji TUHAN. Sama seperti nasihat TUHAN terhadap Paulus, cukuplah kasih karuniaNya padaku. Maka, aku akan tetap bersyukur akan kasih setia TUHAN padaku. Selama aku masih bisa bernafas, memuji, dan menyembah TUHAN, aku akan terus meninggikan namaNya dalam seluruh kehidupanku. Terserah orang mau bilang apa. Yang penting, ada Yesus dalam hatiku. Hehe... Segala kemuliaan hanya bagi TUHAN saja. Haleluya!!!!!!!

Tidak ada komentar: