Kamis, 03 Desember 2009

Perkataan Jujur dari Sahabat

Kejujuran terpahit lebih baik daripada kebohongan termanis. Itulah slogan yang pernah kubaca beberapa waktu yang lalu di televisi. Siapa pun pasti tidak suka dengan yang namanya kebohongan. Dan siapa pun juga pasti tidak suka dengan yang pahit-pahit. Tapi bagaimana jika kebohongan itu terasa manis sedangkan kejujuran itu terasa pahit? Mana yang kita pilih? Maunya sih memilih kejujuran yang terasa manis... tapi apa mungkin semua yang jujur dan terbuka itu rasanya manis dan enak didengar?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar orang menyanjung-nyanjung orang lain dengan maksud tertentu. Semakin manis sanjungan itu, semakin busuk pula maksud yang tersembunyi di baliknya. Seperti ada pepatah mengatakan, ada udang di balik batu. Kita harus waspada dan tidak mudah tersanjung terhadap orang yang terbiasa bermulut manis karena manis di bibir belum tentu manis di hati. Justru sebaliknya, kita perlu buka telinga lebar-lebar terhadap perkataan jujur yang terdengar pahit dan kasar yang disampaikan secara terbuka oleh orang-orang yang tulus. Merekalah yang layak untuk dipercayai. Mereka yang tidak terbiasa menjilat dengan perkataan-perkataan manis, mereka yang berbicara apa adanya, mereka yang tidak biasa berdiplomasi. Ya, kepada merekalah kita seharusnya menaruh kepercayaan lebih.

Mereka yang berani berkata benar tanpa tedeng aling-aling itu layak untuk jadi teman, rekan, mitra, bahkan sahabat. Mungkin secara manusia mereka terlihat bodoh dan kurang berpendidikan, tetapi bukankah ada tertulis bahwa "yang bodoh dari Allah dipakai untuk memalukan yang berhikmat"? Dan ada satu lagi nasihat bijak yang mengatakan supaya kita tidak menilai seseorang beradasarkan penampilan luarnya saja. Memang saat perkataan jujur dari teman dan sahabat yang kita percayai itu kita dengar, rasanya akan sakit dan tidak enak. Tapi rasa sakit yang tidak enak itu akan menyelamatkan kita dari sikap yang salah, dari kesesatan, dari kesalahan yang tidak perlu.

Waktu aku SMP, aku pernah memimpin pujian di acara persekutuan. Rasanya benar-benar luar biasa waktu itu. Aku berusaha semampuku untuk memimpin teman-temanku memuji dan menyembah Tuhan. Ketika acara selesai, seorang temanku dengan jujur mengatakan bahwa gayaku dalam membawakan acara itu terlalu kaku. Sontak saja aku merasa tersinggung dan tidak terima waktu itu. Ada perasaan marah dan tidak terima. Tapi setelah lama berselang, baru aku menyadari bahwa perkataannya sungguh benar. Aku memang berpembawaan terlalu kaku. Dan dengan jujur namun penuh kasih, temanku itu telah menyampaikan hal-hal yang perlu kudengar. Aku pun menyadari bahwa mungkin bukan kapasitasku untuk memimpin pujian di depan. Aku mungkin lebih cocok untuk berdoa di belakang layar. Aku bersyukur dengan komentar jujur temanku itu. Karena dengan itu, aku dapat bercermin dan mengenali diriku sendiri dengan lebih baik.

Jadi, bagaimana dengan anda semua? Pernahkah anda merasa tersinggung oleh perkataan jujur teman atau sahabat anda? Bersyukurlah untuk kejujuran mereka. Bercerminlah dari apa yang mereka katakan dan terimalah diri anda apa adanya, bersyukurlah karena teman dan sahabat anda tidak membiarkan diri anda menjadi seadanya.

Tidak ada komentar: