Kamis, 10 Desember 2009

Makan Bersama Sahabat

Saat-saat yang paling pribadi dan hangat untuk mengenali sahabat kita lebih dekat lagi adalah saat-saat makan bersama dengannya. Tidak peduli di mana dan siapa yang mengajak makan (baca: mentraktir), saat-saat berharga itu tetaplah ada dan terasa. Bukan masalah harga maupun jenis makannya yang menjadi pokok utama, melainkan bagaimana kita dapat saling berbagi dan menghabiskan waktu bersama. Mungkin bagi saya yang tidak biasa ngobrol sambil makan, hal itu akan terasa agak sulit dan janggal. Maklum, bagaiamana orang bisa makan sambil bicara? Mulut kan cuma satu, kalau penuh dengan makanan yang sedang dikunyah, perkataan menjadi susah untuk dilafalkan. Betulkan? Hehe.... Meskipun demikian, saya sangat menghargai dan menyukai orang-orang yang terbiasa untuk ribut waktu makan. Maksudnya bukan ribut-ribut seperti orang bertengkar, melainkan ribut karena asyik bercerita ini itu.

Makan bersama sahabat karib dapat membuat kita lebih santai dan rileks dalam membagikan hidup dan pengalaman. Dari yang seharian sepaneng kerja atau belajar, urat saraf akan sedikit dikendorkan dengan memasok asupan bergizi sambil mendengarkan celoteh sahabat kita. Apalagi jika makannya rame-rame bersama lebih dari satu orang sahabat. Pasti tambah seru dan hangat saja suasananya. Makin mantap jika ada doa bersama sebelum dan sesudah makan, asal jangan kelamaan. Hehe...

Semakin sering kita bersama-sama dengan sahabat kita, termasuk saat-saat suka seperti saat makan bersama, akan semakin mempererat hubungan persahabatan yang terjalin. Makan bersama bukanlah kegiatan yang melulu jasmani saja lho. Buktinya, Tuhan Yesus di dalam Wahyu 3 mengatakan bahwa Dia mengetuk pintu orang dan barangsiapa yang membukakannya, maka Tuhan akan masuk mendapatinya dan... makan bersama-sama dengannya... Nah, betul kan? Tuhan saja hobby makan, mengapa kita tidak? Asal jangan rakus saja ya... Hehe...

Tidak ada komentar: