Minggu, 06 Desember 2009

Saat Sedih Bersama Sahabat


Saat seseorang sedang merasa sedih, apa yang dapat dilakukan oleh teman atau sahabatnya? Memberi nasihat? Memberi penghiburan? Mendorongnya untuk berhenti bersedih? Sebenarnya, cara yang paling tepat untuk menunjukkan simpati dan empati yang mendalam adalah dengan cukup menemaninya saja. Titik. Tanpa kata tanpa suara. Kehadiran seorang atau lebih teman atau sahabat itu sudah cukup menjadi penghiburan. Masih ingat cerita Ayub? Ya, Ayub yang di alkitab itu, bukan Pak Ayub tetangga sebelah... ^^. Ayub yang ditimpa kemalangan bertubi-tubi itu lho. Ya, benar. Dia mendapat penghiburan bersama sahabat-sahabatnya yang datang hanya untuk menemaninya duduk terpekur, meskipun pada akhirnya sahabat-sahabatnya tidak kuat juga "tapa bisu" bersama Ayub. Tapi setidaknya pasti Ayub sempat merasa terhibur dengan kehadiran mereka saat mereka masih berdiam diri dan belum mulai menyalahkannya. Siapa lagi yang bisa dijadikan contoh? Oh iya, Tuhan Yesus sendiri. Saat-saat menjelang penyalibanNya yang mengerikan, Tuhan Yesus sempat stres sedemikian rupa sehingga Dia mengajak tiga orang murid terdekatNya untuk menemaniNya berdoa, meskipun ketiga murid itu pada akhirnya jatuh tertidur. Bayangkan. Tuhan Yesus sendiri yang Raja segala raja, Tuhan semesta alam, begitu membutuhkan kehadiran sahabat-sahabatNya saat ia merasa sangat bersedih sampai mau mati rasanya. Apalagi kita yang hanya manusia yang begitu rapuh dan lemah ini.

Waktu aku sedang stres dan depresi, aku tidak tahu mau apa lagi. Masuk kuliah hanya sekedar lewat saja, tanpa ada sesuatu yang aku tuju. Pernah suatu ketika seorang sahabatku, sebut saja Yiska, mengajak aku untuk jalan-jalan saat aku sedang dirundung rasa sedih yang tiada taranya. Kami pun berjalan-jalan ke arah lembah UGM (tempat untuk rekreasi di sekitar kampus). Saat yang paling mengesankan bagiku adalah saat kami hanya duduk-duduk bersama tanpa kata di bangku taman. Yiska tidak berusaha mencairkan suasana, hanya menemaniku duduk saja. Dan aku pun menikmati kebersamaan kami yang sangat sederhana dalam diam yang khidmat itu. Seperti orang yang mengheningkan cipta saja suasananya waktu itu ^^. Dalam hati aku bersyukur pada Tuhan atas sehabatku Yiska yang setia menemaniku ketika aku sedang dalam kondisi terendah dalam hidupku. Kiranya Tuhan memberkatinya berlimpah-limpah dengan kasih setia dan rahmat. Dan sekarang setelah aku sudah baik kembali, aku selalu teringat akan saat-saat yang menyedihkan itu. Memang benar, sahabat sejati adalah sahabat yang tetap hadir saat kita sedang dalam keadaan yang tidak baik.

Sudahkah kita menjadi sahabat sejati bagi mereka yang sedang dirundung duka?

Tidak ada komentar: