Jumat, 25 Maret 2011

Mengelola Sampah, Memperindah Kota

Yogyakarta berhati nyaman. Bersih, sehat, indah, dan nyaman. Itulah semboyan kota Yogyakarta yang sudah sangat terkenal. Bagaimana mewujudkan semboyan itu? Salah satu program pemerintah kota yang sudah mulai dicanangkan adalah program menaruh sampah pada tempatnya. Gerakan ini bermaksud membentuk budaya masyarakat yang peduli akan kebersihan dan akan pengelolaan sampah mulai dari lingkup keluarga. Di tempat-tempat umum sudah disediakan tempat sampah-tempat sampah khusus untuk sampah organik dan sampah nonorganik. Tujuannya untuk membiasakan masyarakat memilah-milah sendiri sampah sesuai dengan bentuk dan sifat sampah sehingga mempermudah proses pengangkutan dan pengelolaan sampah selanjutnya.

Mengapa program memilah dan menaruh sampah pada tempatnya itu begitu penting? Sampah merupakan masalah kita bersama. Setiap hari kita memproduksi sampah di ruang lingkup keluarga. Ke mana sampah itu dibuang, diangkut, dan dikelola, tidak banyak yang tahu apalagi memperhatikan. Mungkin hanya segelintir orang saja yang mempunyai perhatian khusus terhadap pengelolaan sampah. Jika sampah tidak dikelola dengan tepat, maka akan menjadi masalah besar bagi kota ini. Kita tentu ingat beberapa waktu yang lalu tentang fenomena Bandung lautan sampah. Tentu kita tidak ingin Yogyakarta menjadi lautan sampah. Oleh karena itu, kesadaran untuk mengelola sampah perlu ditumbuhkan sejak dari ruang lingkup keluarga.

Yogyakarta memiliki tempat penampungan akhir (TPA) di daerah Piyungan. Diperkirakan, beberapa tahun ke depan, TPA Piyungan tidak akan sanggup lagi menampung seluruh sampah dari kota Yogyakarta. Jika pengelolaan sampah masih berjalan apa adanya tanpa inovasi atau usaha pembaharuan yang sungguh-sungguh, maka nasib Yogyakarta akan menjadi lautan sampah. Lalu bagaimana caranya supaya sampah tidak menjadi masalah besar bagi kota? Kita tentu dapat belajar dari negara maju seperti Jepang yang telah menerapkan pengelolaan sampah terpadu yang dimulai dari masyarakatnya sendiri. Masyarakat Jepang terbiasa memilah-milah sampah keluarga mereka sebelum sampah-sampah tersebut diangkut oleh truk pengangkut sampah. Sampah-sampah dipilah berdasarkan jenisnya. Ada sampah yang dapat membusuk, sampah botol, sampah plastik, sampah kertas, dll. Masing-masing jenis sampah dimasukkan ke dalam kantong plastik tersendiri. Truk pengangkut sampah pun mengambil jenis-jenis sampah tersebut sesuai jadwal harian. Hal ini sangat menuntut kedisiplinan dari warga masyarakat. Apabila ada yang lalai dalam memilah sampah, maka ada yang langsung membetulkan. Bagaimana dengan masyarakat kota Yogyakarta? Tidak perlu jauh-jauh, di kota Yogyakarta sendiri tepatnya di daerah Sukunan dan Gondomanan Lor ternyata sudah ada sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat. Kita tentu dapat belajar bagaimana mengelola sampah rumah tangga dan lingkungan sekitar dari saudara-saudara kita di Sukunan dan Gondomanan Lor itu.

Belajar dari pengelolaan sampah di Sukunan dan Gondomanan Lor, kita dapat mulai membiasakan diri memilah-milah sampah rumah tangga. Dimulai dengan menyediakan tempat sampah terpisah khusus untuk sampah organik (sampah yang dapat membusuk), sampah nonorganik (sampah yang tidak dapat membusuk), dan sampah yang dapat didaur ulang (kertas, plastik, dll). Kemudian, disiplinkan diri dan anggota keluarga untuk menaruh sampah sesuai dengan jenisnya di tempat yang susuai. Mengapa menggunakan istilah “menaruh” dan bukannya “membuang” sampah? Hal ini untuk menanamkan bahwa sampah semestinya tidak sekedar dibuang tetapi dikelola dengan tepat. Karena, sampah hanya dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain atau diubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Setelah sampah rumah tanggal dipilah-pilah, selanjutnya dikelola sesuai dengan jenisnya. Sampah organik yang dapat membusuk dapat dimasukkan ke dalam komposter khusus sampai terbentuk kompos. Setelah terbentuk kompos, sampah tidak lagi berbau busuk. Sebaliknya, kompos tersebut dapat dipakai untuk menyuburkan tanah pekarangan atau dapat dijual sebagai pupuk kompos. Jika diatur sedemikian rupa, maka dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi rumah tangga. Sedangkan sampah nonorganik yang masih dapat didaur ulang dapat dijual ke pengumpul sampah eceran sehingga dapat membantu memberdayakan para pengumpul sampah eceran tersebut. Akhirnya, yang dikumpulkan ke tempat pembuangan akhir hanyalah sampah yang tidak dapat didaur ulang dan tidak dapat membusuk. Jika masing-masing rumah tangga memberlakukan pengelolaan sampah rumah tangganya masing-masing secara demikian, maka sudah dapat membantu mengurangi beban TPA sehingga meringankan tugas pemerintah kota dalam mengelola sampah kota Yogyakarta.

Tidak ada komentar: