Minggu, 25 Juli 2010

Logoterapi Jilid IV

masih tentang logoterapi yang makin bikin terpana saja... Viktor Frankl benar2 hebat... pemikiran2nya bikin aku terkagum-kagum... thank God, buat penemuan yang berharga ini... selamat membaca-baca... ^^
  • Kerja biasanya merepresentasikan wilayah di mana keunikan individu tampil dalam hubungannya dengan masyarakat, dan individu pun menemukan makna. Bagaimanapun, makna itu terpisah dari kerja individu. Oleh karenanya tidak bisa dikatakan bahwa pekerjaan tertentu dipastikan memberikan peluang kepada individu untuk mencapai pemenuhan diri atau penemuan makna.
  • Jika terjadi bahwa pekerjaan tertentu ternyata tidak mengantarkan individu kepada penemuan makna, maka kekeliruan terletak pada si individu, bukan pada pekerjaannya.-->
  • yang menjadi soal dan patut diperhitungkan bukanlah jenis pekerjaan, melainkan bagaimana seseorang menjalankan pekerjaan itu.
  • Profesi kedoktera menurut Frankl hanyalah menyediakan kerangka yang dengannya seorang dokter memperoleh peluang yang berkesinambungan untuk memenuhi dirinya sendiri melalui pelaksanaan kecakapan profesional. -->
  • Makna pekerjaan dokter terletak pada apa yang dilaksanakannya di seberang tugas-tugas yang murni medis, yakni apa yang dibawa ke dalam pekerjaannya oleh sang dokter sebagai pribadi, sebagai manusia, yang memberinya suatu peran khusus. -->
  • "kerja pribadi yang sesungguhnya" -->
  • setiap bentuk pekerjaan bisa mengantarkan individu kepada makna asalkan pekerjaan itu merupakan usaha memberikan sesuatu kepada hidup (kehidupan diri dan sesama) yang didekati secara kreatif dan dijalankan sebagai tindakan komitmen pribadi yang berakar pada keberadaan totalnya.
  • di samping melalui realisasi nilai-nilai kreatif, individu bisa menemukan makna di dalam hidupnya melalui realisasi nilai-nilai eksperiensial atau penghayatan. -->
  • nilai-nilai eksperiensial adalah nilai-nilai yang direalisasi dengna mengambil sikap sebaliknya dari realisasi nilai-nilai kreatif (memberikan sesuatu kepada hidup), yakni sikap menerima (reseptif) dan atau menyerahkan diri kepada dunia (kehidupan). -->
  • "menemui keindahan, kebenaran dan sesama"
  • ketinggian sebuah gunung tidak diukur dari ketinggian beberapa bukit yang mengitarinya, tetapi dari salah satu puncaknya yang paling tinggi. Kehidupan pun demikian. -->
  • Momen puncak bisa menjadi ukuran kebermaknaan hidup, dan suatu momen tunggal bisa berbalik melimpahi seluruh hidup dengan makna.
  • individu bisa menemukan makna dengan menemui kebenaran, baik melalui realisasi nilai-nilai yang berasal dari agama maupun yang berasal dari filsafat hidup yang sekuler.
  • menemui sesama dengan segenap keunikan dan dalam ketunggalannya berarti mencintainya. -->
  • seseorang mengalami pengalaman seseorang yang lainnya dengan segenap keunikannya dan dalam ketunggalannya serta daripadanya dia memperoleh pemenuhan.
  • cinta tak harus berarti menerima, juga tak harus didapat. Sebab, ia adalah anugerah.--> "perluasan" --> ia meningkatkan penerimaan terhadap kepenuhan nilai-nilai. --> "pemerkayaan batin" -->
  • cinta (seharusnya) tidak membuat buta sebagaimana yang sering diduga, tetapi membuat melek, menjadikan orang yang mengalaminya mampu melihat nilai-nilai. Kemampuan melihat nilai-nilai inilah yang membuat batin seseorang kaya.
  • bahkan dalam keadaan kehilangan (ddeprivation) pun, baik kehilangan kreativitas maupun kehilangan penerimaan, manusia tetap bisa menemukan mana. -->
  • "nilai bersikap" --> Dengan merealisasi nilai bersikap ini berarti individu menunjukkan keberanian dan kemuliaan menghadapi penderitaannya. -->
  • "penderitaan itu memiliki makna pada dirinya" --> penderitaan menghasilkan suatu tegangan yang berbuah, menimbulkan kesadaran emosional atas apa yang semestinya tidak terjadi. --> penderitaan bisa menjadi pengoreksi kekeliruan, kendati kekeliruan itu tetap tak terhapus, yang membawa individu pada pembaruan moral (Scheler)
  • hidup manusia terombang-ambing di antara kesulitan dan kebosanan (Schopenhauer).-->
  • kesulitan dan kebosanan itu memiliki makna yang dalam (Frankl). -->
  • Kebosanan adalah pemelihara keterjagaan yang sinambung. Kebosana memang bisa mengarah kepada ketidakaktifan. Akan tetapi, keaktifan tidak muncul untuk tujuan melarikan diri dari kebosanan, tetapi muncul karena kita ingin menghindari ketidakaktifan dan berbuat yang semestinya bagi makna hidup kita. --> "kegelisahan"
  • Kesakitan atau penderitaan menurut Frankl juga bertindak sebagai pemelihara keterjagaan. Pada taraf biologis, penderitaan berperan menjada agar individu tetap sadar. Pada taraf psikospiritual, penderitaan itu memiliki fungsi yang sama. Penderitaan berfungsi memelihara individu agar tidak terjatuh ke dalam sikap apatis atau mengalami kematian psikis (psychic rigor mortis). -->
  • kita matang dalam penderitaan, tumbuh karena penderitaan. Penderitaan membuat kita lebih kaya dan lebih kuat.
  • Sesuatu yang tak dapat membunuhku membuat aku lebih kuat. (Nietzche)
  • terdapat bukti bahwa hidup atau keberadaan manusia tidak akan pernah secara intrinsik tak bermakna.
  • Selama manusia sadar, dia dituntut tanggung jawabnya untuk merealisasi nilai-nilai bahkan meskipun itu hanya nilai-nilai bersikap.
  • Kebermaknaan hidup atau keberadaan manusia berlandaskan pada sifat tak bisa diulang, selain pada keunikan dan ketunggalannya.
  • sifat fragmenter dari hidup tidak mengecilkan arti hidup itu sendiri. Kita tidak bisa menilai sebuah biografi dari panjangnya atau dari jumlah halamannya. Sebab yang paling penting pada biografi itu adalah kekayaan isinya. -->
  • Kehidupan yang heroik dari seseorang yang mati muda akan lebih berisi atau bermakna dibandingkan dengan kehidupan seorang dungu yang berumur panjang. --> ada kalanya simfoni yang tak selesai ternyata kemudian menjadi simfoni yang paling indah di antara simfoni-simfoni yang indah.
  • logoterapis bukanlah pemberi makna bagi pada pasiennya... logoterapis bukan seorang guru ataupun pengkhotbah, juga tidak bisa diperbandingkan dengan, katakan, seorang pelukis... logoterapis lebih tepat apabila diperbandingkan dengan dokter ahli mata ketimbang dengan pelukis. Artinya, logoterapis harus bertindak sebagai pembuka pandangan para pasiennya agar mampu melihat nilai-nilai yang ingin dan perlu direalisasinya. --> "katalisator"
Bersambung... ^^

Tidak ada komentar: