Selasa, 27 Juli 2010

Logoterapi Jilid VIa: SIndroma Ketidakbermaknaan (Syndrome of Meaningless)

Bab berikutnya dalam buku Logoterapi memuat banyak hal yang begitu padat dan berisi sehingga lumayan banyak yang dikutip... oleh karena itu, bab berikutnya masih perlu dibagi lagi supaya tulisan di blog ini menjadi tidak terlalu panjang dan melelahkan untuk dibaca... semoga semakin bermanfaat... ^^
  • "frustrasi eksistensial" (existential frutration) --> satu fenomena umum yang berkaitan dengan keterhambatan dan atau kegagalan individu dalam memenuhi keinginan akan makna.
  • "neurosis noogenik" (noogenic neurosis) --> suatu manifestasi khusus dan frustrasi eksistensial yang ditandai oleh simptomatologi neurotik klinis tertentu yang terbuka atau tampak.
  • Bahwa sindroma ketidakbermaknaan mulai disadari sebagai masalah yang menonjol di masyarakat modern, ditunjukkan oleh pernyataan seorang psikiater terkemuka yang dicatat oleh Frankl bahwa masyarakat Barat sekarang telah berpaling dari pendeta kepada psikoterapuis. Sementara itu, menurut Frankl, seorang psikiater lainnya mengeluh bahwa dewasa ini banyak pasien yang datang kepada psikoterapis dengan membawa masalah yang semestinya dibawa kepada pendeta. -->
  • "kasus baru yang ditandai oleh hilangnya minat dan kurangnya inisiatif" -->
  • psikoanalisis konvensional ternyata tidak efektif. -->
  • "kasus frustrasi eksistensial atau disebut juga kehampaan eksistensial (existential vacuum) --> tahap awal dari sindroma ketidakbermaknaan.
  • "perasaan-perasaan absurd dan hampa" -->
  • ragu akan maksud dan tujuan atau makna hidup mereka sendiri.
  • frustrasi eksistensial itu muncul seiring dengan industrialisasi.
  • Frankl mengingatkan rekan-rekan seprofesinya untuk tidak melihat frustrasi eksistensial itu sebagai penyakit. Menurutnya, pencarian manusia kepada makna bukanlah sesuatu yang patologis, melainkan suatu tanda yang paling pasti dari adanya hasrat untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. -->
  • frustrasi eksistensial itu bukanlah suatu penyakit dalam pengertian klinis, melainkan suatu penderitaan batin.
  • "depresi endogenus" -->
  • keraguan akan makna hidup itu muncul bukan pada saat (dia) mengalami gangguan psikis (depresi endogenus) melainkan pada saat dia secara psikis merasa sehat.
  • frustrasi eksistensial itu sendiri sebagai fenomena umum muncul berkaitan dengan kehilangan ganda yang dialami manusia: kehilangan jaminan naluri dan kehilangan tradisi. --> manusia untuk selanjutnya tidak memiliki kepastian mengenai apa yang harus diperbuatnya. --> kehilangan dukungan dan bimbingan moral sehingga (dia) tidak lagi memiliki kepastian tentang apa yang sepatutnya diperbuat.
  • frustrasi eksistensial tidaklah tampak jelas.
  • beberapa manifestasinya: neurosis kolektif, neurosis pengangguran dan pensiunan, neursis hari Minggu, dan penyakit eksekutif.
  • "suatu karakter manusia masa kini" (neurosis kolektif) --> "sikap masa bodoh terhadap hidup" -->
  • Manusia masa kini hidup secara sementara (provisional) dari satu ke lain hari, tidak mengetahui persis apa yang hilang dari diri mereka, dan tidak menyadari kebenaran dari pernyataan Bismarck: "Di dalam hidup kita mengalami sedikit banyak hal yang mirip dengan ketika kita berhadapan dengan dokter gigi; kita selalu berusaha mempercayai bahwa sesuatu belumlah terjadi, sementara sesuatu itu telah terjadi."
  • "tes pengukuhan bagi keberadaan (mereka)"
  • "sikap fatalistik terhadap hidup" -->
  • para fatalis bahkan melihat masa depan sebagai sesuatu yang mustahil dan menganggap rencana masa depan sebagai sesuatu yang sia-sia. --> mereka membiarkan diri dialihbentukkan --> melihat dirinya sendiri sebagai korban dari berbagai mekanisme psikis atau sekadar sabagai produk lingkungan ekonomis.
  • "homunkulisme"
  • Frankl menduga bahwa renungan tentang hal-hal yang sifatnya spiritual ataupun agama diremehkan oleh manusia kontemporer dengan bantuan psikoanalisis yang disalahtafsirkan.
  • "pemikiran konformis dan kolektivis" -->
  • ciri ini menampakkan dirinya ketika manusia masa kini dalam kehidupan sehari-harinya melaksanakan hasratnya untuk sedapat mungkin tidak menarik perhatian dan atau sama rata dengan orang lain, melebur diri ke dalam massa. --> PERBEDAAN ESENSIAL ANTARA MASSA VS KOMUNITAS... -->
  • komunitas membutuhkan kepribadian para warganya demi terciptanya suatu komunitas yang sungguh2, dan para warga itu pun membutuhkan komunitas sebagai lingkup aktivitas. -->
  • Sedangkan massa, sebaliknya menghancurkan kepribadian dan menekan kebebasan individu-individu, dan pada gilirannya individu-individu itu mengingkari kepribadiannya sendiri. --> keunikan keberadaan atau individualitas bisa menjadi faktor yang merusak bagi massa. -->
  • Frankl menyamakan hubungan individu-komunitas dengan hubungan batu berlukis dan keseluruhan mosaik. Sedangkan hubungan individu-individu disamakannya dengan hubungan ubin yang distandardisasi dan lantai. -->
  • Massa menekan keunikan, nilai, dan martabat manusia, serta hanya memperhitungkan apa yang bisa digunakan dari manusia itu. -->
  • Pada pihak individu, dengan melebur diri ke dalam massa dia kehilangan kualitas yang paling intrinsik: tanggung jawab.
  • kecenderungan untuk melarikan diri dari tanggung jawab adalah motif dari semua bentuk kolektivisme. Komunitas yang sungguh-sungguh pada dasarnya adalah himpunan manusia yang bertanggung jawab, sementara massa hanyalah jumlah dari wujud-wujud yang didepersonalisasi, yang menyelaraskan diri dengan norma-norma, dan yang bisa dievalusasi menurut tipe. -->
  • Manusia tidaklah dideterminasi oleh asal-usulnya, dan tingkah lakunya pun tidak bisa diperiksa menurut tipe. --> Manuisa mulai menjadi manusia ketika dia menggunakan kebebasannya untuk melawan ikatan dengan suatu tipe. -->
  • Semakin standar individu, yakni semakin individu itu direndam dalam ras, kelas, golongan, atau tipe karakter, dan semakin selaras dia dengan standar rata-rata, maka semaikin rendah dia dari sudut etika.
  • "dosa kolektif"
  • "fanatisisme"-->
  • Jika para konformis dan kolektivis mengingkari kepribadiannya sendiri, orang yang fanatik mengingkari kepribadian orang lain. --> Orang yang fanatik itu tidak memiliki pendapat sendiri. Sebab yang mereka pegang hanyalah pendapat yang mencerminkan opini publik atau penguasa. Fanatisisme mengkristal dalam bentuk slogan-slogan yang mengasilkan suatu reaksi berantai. --> Jadi, orang yang fanatik itu bukan saja tidak memiliki pendapat, melainkan juga jusutru dimiliki (dikuasai) oleh pendapat. --> Fanatisisme selalu dan sewasa ini semakin mempolitikkan manusia, sementara politik itu sendiri seharusnya memanusiakan manusia.
  • sepanjang manusia sanggup mengalami konflik hati nurani, maka dia akan kebal terhadap fanatisisme serta terhadap neurosis kolektif pada umumnya. -->
  • neurosis eksistensial bisa menyembuhkan neurosis kolektif.
  • "penyakit fungsionaris"
  • kita tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dua ciri pertama, masa bodoh dan fatalisme, tampaknya lebih tersebar di dunia Barat, sedangkan pemikiran konformasis dan kolektivis lebih menonjol di dunia Timur.
  • politik yang fanatik berprinsip bahwa tujuan membenarkan cara, sedangkan politik yang humanis percaya bahwa ada cara-cara yang tidak bisa dibenarkan bahkan untuk mencapai tujuan paling suci sekalipun.
  • "bahaya nihilisme" -->
  • Dalam kenyataan yang aktual, kesemua ciri bisa menampakkan diri bersumber pada ketakutan akan dan pelarian dari kebebasan dan tanggung jawab yang menjadi ciri manusia sebagai makhluk spiritual. -->
  • Nihilisme itu pun tentunya patut dilihat sebagai sesuatu yang membosankan dan melelahkan roh. -->
  • Di samping nihilisme akademis dan teoretis, dijumpai nihilisme praktis dan "hidup", suatu bentuk nihilisme yang dianut oleh orang yang tidak bisa menentukan makna keberadaannya sendiri dan yang menilai keberadaan sebagai tak bernilai.
  • "bahaya yang ditimbulkan oleh otomatisasi" -->
  • bahaya homunkulisme baru, suatu bahaya yang kembali mendorong manusia ke arah penyalahartian dan penyalahtafsiran tentang dirinya sendiri sebagai sesuatu yang "tidak lain" (nothing but)
Bersambung...

Tidak ada komentar: