Rabu, 21 Juli 2010

Pinjam Buku Logoterapi

Kemarin aku secara nggak sengaja, tapi pasti bukan kebetulan ^^, menemukan buku berjudul "Logoterapi: Psikoloterapi Viktor Frankl" yang ditulis oleh E. Koeswara terbitan Kanisius di perpustakaan RS Bethesda lantai 3. Dalam waktu istirahat yang cukup panjang di antara waktu2 mengekor dr. Wikan di bagian anak, aku menemukan buku yang cukup menarik ini dan sempat kubaca-baca dengan antusias untuk kemudian kupinjam selama seminggu. Jadi ingat waktu pertama kali masuk koas dulu, aku pingin banget menemukan bukunya Viktor Frankl tentang Logoterapi berjudul "Man's Search For Meaning". Sayang sekali aku belum menemukan buku tersebut sampai sekarang. Mungkin lain waktu aku bisa menemukannya. Buku yang aku pinjam ini benar2 merupakan wujud berkat dalam samaran (blessing in disguise). Maksud hati sebenarnya mencari-cari buku bacaan tentang pediatri (tapi nggak ketemu), eh malah menemukan buku yang sangat menarik ini. Aku sedang mulai membaca buku ini saat ini dan sudah mulai mencatat-catat beberapa kalimat yang menarik hati. Siapa itu Viktor Frankl? Silakan cari di google, thank God buat kemajuan teknologi sekarang ini ^^. Yang jelas, logoterapi atau eksistensialisme yang dirumuskan oleh beliau ini sangatlah menarik perhatianku. Sangat sulit untuk menjelaskannya mengapa. Tapi di lain waktu mungkin aku akan mampu mengupas tuntas tentang itu. Amin ^^.

Berikut ini beberapa catatan yang aku buat... masih mentah sih... semoga berguna...
  • Menurut Frankl, kata-kata terakhir yang terucap dari mulut kedua orang rekannya yang malang itu menggambarkan bahwa yang mereka benci bukan manusia, melainkan sistem, sistem yang telah membawa sebagian manusia kepada dosa dan membawa sebagian manusia lainnya kepada kematian.
  • Menurut Frankl, kamar-kamar gas tersebut disiapkan bukan di kementerian tertentu di Berlin, melainkan di ruang kuliah dan ruang kerja pada ilmuwan dan filsuf nihilistik.
  • Selama kita menghakimi dan mempersalahkan, kita tidak akan pernah sampai kepada kebenaran yang mendasar.
  • Di kota yang penduduknya memiliki semangat hidup namun menyukai ketenangan dan keadaan santai...
  • eksistensialisme menyajikan konsep tentang kebebasan manusia, kebebasan dalam berkeinginan dan dalam memilih atau mengambil sikap, sebuah konsep yang bermuara pada keyakinan bahwa manusia adalah makhluk yang berkesanggupan melampaui, mengubah, dan menjadikan dirinya sendiri sebagai "sesuatu" yang diinginkannya.

Tidak ada komentar: