Rabu, 28 Juli 2010

Logoterapi Jilid VIc: Neurosis Hari Minggu, Penyakit Eksekutif, Neurosis Noogenik

semangat... semangat... sudah lewat setengah jalan... hihi...

NEUROSIS HARI MINGGUP
  • hubungan yang wajar antara manusia dan pekerjaan sebagai medan realisasi nilai-nilai kreatif ataupun pemenuhan diri sering didistorsi oleh kondisi kerja yang terbentuk menguasai manusia.
  • orang kini sering terpaksa menjalani pekerjaan yang jauh dari sifat pribadi, yang menempatkan manusia sebagai sarana proses kerja dan atau alat produksi belaka sehingga pekerjaan itu jauh dari menyenangkan. -->
  • di lingkungan kerja yang dibentuk oleh mekanisasi dan otomatisasi semacam itu, kerja bisa diartikan sebagai sekadar cara uuntuk mencapai satu tujuan: mendapat uang.
  • hari Minggu bisa mendorong orang yang terkondisi dalam tempo kerja yang cepat dan mengalami frustrasi eksistensial itu kepada pengalaman neurosis seperti yang dialami oleh para penganggur.
  • Para penderita neurosis hari Minggu biasanya berusaha mengatasi kekosongan batinnya dengan berbagai cara antara lain mendatangi tempat-tempat hiburan. -->
  • Kesemua cara yang ditempuh itu lebih merupakan pelarian ketimbang merupakan aktivitas yang menghasilkan makna.
  • sama halnya dengan olahraga, seni pun bisa disalahgunakan secara neurotik. --> Sementara seni yang sesungguhnya atau pengalaman artistik yang sejati memperkaya batin individu dan membimbingnya ke arah potensi-potensi dirinya yang terdalam, penyalahgunaan seni secara neurotik hanya akan menjauhkan individu dari dirinya sendiri, dan seni akhirnya berfungsi sekadar sebagai sarana pemabukan dan pembiusan diri.
  • bagi orang yang lapar akan kesenangan negatif, sensasi yang paling besar adalah kematian, baik di dalam dunia fiktif maupun di dalam dunia nyata. --> Karena ittu mereka lebih suka memilih bacaan (koran) yang dipenuhi oleh cerita kemalangan dan kematian. Akan tetapi, kemalangan dan kematian yang ada di dalam bacaan itu kemudian tidak memuaskannya karena para korbannya anonim atau terlalu abstrak.
  • "vicarious death"
  • Kepastian akan mati ditakuti hanya oleh orang yang pada dasarnya bersalah atas hidupnya sendiri, dan kematian sebagai akhir hidup ditakuti hanya oleh orang yang tidak memenuhi hidupnya dengan makna.
PENYAKIT EKSEKUTIF
  • Mereka begitu sibuk mencari nafkah bagi hidupnya namun melupakan hidupnya sendiri. --> hidup mereka tidak lagi memiliki arah
  • "suatu lingkaran setan dalam hubungan dengan pekerjaan mereka"--> Para eksekutif itu mengalami frustrasi eksistensial sebagai konsekuensi dari aktivitas kerjanya yang berlebihan, dan kekosongan batin yang menyertai frustrasi eksistensial itu mendorong mereka untuk mengatasinya dengan jalan membenamkan diri lebih dalam lagi ke dalam pekerjaan sehingga mereka menjadi workaholic (gila kerja) dan, karenanya, frustrasi eksistensialnya pun menjadi lebih intens. -->
  • pada Penyakit Eksekutif, frustrasi eksistensial atau frustrasi keinginan akan makna dikompensasikan dengan keinginan akan kekuasaan, dalam hal ini kekuasaan ekonomis atau, dalam bentuknya yang paling primitif, dengan keinginan akan uang.
  • "Penyakit Nyonya Eksekutif" (Mrs. Executive Disease)
  • "aktivitas kompensatori"
  • "pembiusan diri"
  • jika para eksekutif mengkompensasikan frustrasi keinginan akan maknanya dengan keinginan akan kekuasaan, istri mereka cenderung untuk mengompensasikan frustrasi keinginan akan maknanya itu dengan keinginan akan kesenangan.
  • Dorongan seksual bisa merajalela di bawah kondisi kekosongan batin.
  • "dipsomania"
  • "kegilaan kepada kecepatan" -->
  • Semakin kurang mampu orang menemukan makina di dalam hidupnya, semakin cepat mereka memacu tempo hidupnya.
NEUROSIS NOOGENIK
  • frustrasi eksistensial itu tidak bisa dipastikan akan merupakan awal kemunculan suatu "penyakit" (neurosis noogenik)
  • setiam zaman memiliki neurosisnya sendiri, dan setiap zaman membutuhkan bentuk psikoterapinya sendiri.
  • neurosis yang bersumber pada gangguan-gangguan psikoseksual yang timbul pada masa kanak-kanak pun bisa disembuhkan melalui terapi spiritual (logoterapi) pada masa dewasa.
Bersambung...

Tidak ada komentar: