Senin, 26 Juli 2010

Logoterapi Jilid V: Pengalaman Pribadi dan Psikoterapi di Dalam Kamp Konsentrasi

Masih berkutat dengan all about logoterapi, mari kita lanjutkan baca membaca... semoga bukan termasuk kegiatan plagiarisme ya... maaf maaf... ^^
  • "masalah spiritual di dalam psikoterapi" --> "psikoterapi berawawasan spiritual"
  • di dalam kamp konsentrasi, keberadaan manusia mengalami suatu deformasi -->
  • boleh dikatakan bahwa para tawanan sulit untuk membuat deskripsi yang memadai tentang apa yang terjadi pada diri mereka sendiri sebab mereka mengalami distorsi mental. -->
  • pengukuran bagi kehidupan yang dideformasi tidak bisa digunakan karena standar pengukuran itu sendiri mengalami deformasi.
  • Semua minat yang lebih tinggi dikesampingkan demi kelangsungan hidup di dalam kamp, kecuali minat-minat politik dan agama.
  • "kebekuan budaya"
  • "megalomania en miniature"
  • apakah perubahan tersebut mendukung pandangan bahwa manusia dibentuk oleh lingkungannya? Apakah itu membuktikan bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari ketentuan lingkungan sosialnya? Jawaban Frankl adalah: tidak. --> Artinya, di lingkungan yang secara sosial terbatas dan membatasi kebebasan pribadi seperti di dalam kamp konsentrasi itu, manusia masih memiliki kebebasan, kebebasan asasi untuk memebri bentuk pada keberadaan atau membentuk karakternya sendiri. --> Nyatanya di dalam kamp konsentrasi bisa dijumpai sejumlah tawanan yang heroik, yang menunjukkan bahwa di dalam situasi serba kekurangan pun manusia masih bisa bertindak secara "berbeda", tidak menyerah begitu saja kepada kekuatan lingkungan yang bisa mengarahkan pada deformasi psikis atau primitivisasi.
  • kekurangan objek pemuas kebutuhan dasar tidak selalu mengarahkan manusia kepada kemunduran, tetapi bisa juga mengarahkan kepada kemajua moral atau kesalahan.
  • Di dalam kamp konsentrasi terbukti bahwa berbagai gejala bisa dibentuk atau ditentukan oleh roh (spirit). Artinya, berbagai gejala itu tidak bisa ditafsirkan semata-mata sebagai konsekuensi faktor somatik atau ungkapan psikis, tetapi sepatutnya ditafsirkan pula sebagai ungkapan roh, sebagai cara manusia meng-ada atau menunjukkan keberadaannya.
  • ketidakpastian mengenai akhir penawanan itu mengarahkan para tawanan kepada perasaan terpencil.
  • ketidakpastian mengenai akhir penawanan ditambah kehidupan yang berjalan monoton mengarahkan para tawanan kepada perasaan tak bermasa depan (futurelessness).
  • manusia tidak bisa sungguh2 meng-ada tanpa suatu titik yang pasti di masa depan.
  • Dengan tiadanya waktu batin, waktu yang dialami secara pribadi dan subjektif, hidup manusia kehilangan segenap strukturnya.
  • "perasaan tak bermasa depan"
  • dengan tidak bisa melihat akhir fase privisional dari hidupnya, para tawanan tidak mampu mengarahkan diri kepada tujuan-tujuan yang bisa dan perlu dicapainya, tidak mampu menyerahkan maupun menerima tugas hidup.
  • "kekosongan batin"
  • degenerasi psikis yang menyertai kekosongan batin dan yang merupakan permulaan dari apati total adalah suatu fenomenon yang amat dikenal dan ditakuti oleh semua tawanan.
  • kekuatan atau kekebalan organisme amat bergantung pada keadaan afektifnya. Harapan, keberanian dan semangat hidup berpengaruh positif terhadap kekebalan organisme.
  • "hilangnya keberanian dan semangat hidup"
  • Tampak bahwa para tawanan yang berhasil dibebaskan dan bisa keluar dengan selamat dari dalam kamp tetap didominasi oleh perasaan depersonalisasi. --> Mereka tidak bisa sungguh-sungguh menikmati hidup, dan harus kembali belajar bagaimana berbahagia.
  • Bagaimanapun, perasaan yang positif itu tidak bisa dicapai begitu saja, dan tidak semua mantan tawanan bisa mencapainya.
  • keberanian dan semangat hidup yang memungkinkan sebagian tawanan mau dan mampu bertahan hidup hingga hari akhir penawanan tiba dapat terpelihara berkat kemampuan menemukan makna dari penderitaan yang mereka alami. --> Bagaimanapun, kemauan dan kemampuan untuk bertahan hidup di dalam kamp itu tidak selalu dilatarbelakangi oleh maksud yang baik. --> "hasrat membalas dendam"
  • "mencoba membuat jarak terhadap penderitaan yang dialaminya"
  • "suatu usaha kreatif"
  • Tugas psikoterapetik yang paling mendesak untuk dijalankan adalah menghindarkan para tawanan yang baru memasuki kamp dari keterkejutan berkepanjangan. --> pendekatan guna membantu mereka agar menemukan kembali diri mereka sendiri.
  • Yang dilakukan oleh Frankl dan stafnya dalam usaha mencegah percobaan bunuh diri itu adalah membangkitkan keberanian dan semangat hidup pelakunya. Akan tetapi, keberanian dan semangat hidup itu pada dasarnya bergantung pada apakah seseorang memiliki keyakinan akan makna hidup atau tidak. --> "mengkonfrontasikan si pelaku kepada makna"
  • di dalam kamp tempat manusia mengalami situasi serba kekurangan itu, makna yang bisa dan perlu ditemukan tentunya adalah makna tak bersyarat yang mencakup tidak hanya makna hidup, tetapi juga makna penderitaan dan kematian yang dihadapi. -->
  • "Akankah kita bertahan hidup?"
  • "Apakah semua pendekatan akan kematian yang dihadapi ini memiliki makna?"
  • kehidupan yang keberadaan dan ketiadaan maknanya bergantung pada mampu tidaknya seseorang bertahan hidup bukanlah suatu kehidupan yang pantas dijalani.
  • di dalam hidup memang ada situasi di mana seseorang tampaknya mustahil untuk kembali pada apa yang semula dikerjakannya atau kembali menemui orang tertentu yang dicintainya.
  • di dalam kesadaran orang itu terdapat sesuatu atau seseorang yang diharapkannya tetap hadir, meski tak tampak, sebagai Kamu yang berdialog secara intim. Kamu itu, bagi orang yang beragama, pertama-tama dan terutama adalah Tuhan. -->
  • Jika orang dalam penderitaannya menyadari kehadiran sesuatu atau seseorang yang menantinya, maka dia bisa diharapkan mengambil sikap positif terhadap penderitaannya itu, suatu sikap yang memungkinkan dirinya mampu menemukan bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan mengandung makna.
  • Di dalam kamp konsentrasi sebagaimana yang dialaminya telah terbukti, prinsip bahwa pertama-tama bertahan hidup, baru kemudian berfilsafat tentang kebertahanan hidup (primum vivera, deinde philosophari) tidak berlaku. Yang berlaku adalah prinsip sebaliknya: berfilsafat, baru kemudian mati (primum philosophari, deinde mori).-->
  • Dia yang mengetahui untuk apa dia hidup, akan sanggup mengatasi hampir semua yang terjadi atas dirinya (Nietzsche).
  • "epidemi psikis"
  • "sikap-sikap hidup provisional, fatalistik, konformisme, dan fanatisme"
  • Epidemi somatik adalah akibat yang khas dari perang. Sedangkan epidemi psikis bisa merupakan penyebab terjadinya perang dan, karenanya, memungkinkan terciptanya kamp-kamp konsentrasi baru.
Bersambung...

Tidak ada komentar: