Rabu, 21 Mei 2014

TPA, Tempat Persiapan Agung

Apa yang terlintas dalam pikiran kita apabila muncul kata TPA? Dalam konteks pengasuhan, TPA jamak dikenal sebagai Tempat Penitipan Anak. Tempat ini berguna untuk menitipkan anak-anak yang masih terbilang terlalu kecil untuk ditinggal maupun disekolahkan sementara kedua orang tuanya bekerja. Kondisi zaman yang semakin menuntut peran kedua gender dalam bekerja di luar rumah membuat jasa pengasuhan anak menjadi semakin laris manis. Selain dengan tenaga pengasuh domestik (baby sitter), jasa TPA menjadi salah satu pilihan strategis. Bagi saya dan suami, jasa TPA inilah yang kami pilih karena alasan kepraktisan dan pendidikan. Praktis karena kami juga mempunyai seorang pekerja rumah tangga (PRT) yang tidak bisa disambi pekerjaannya sambil momong anak. Mendidik karena pada umumnya anak-anak yang dititipkan di TPA lebih mandiri dan lebih biasa bersosialisasi dengan sesamanya.
                Bagi saya pribadi, TPA bukan hanya sekedar tempat menitipkan anak. TPA bisa juga berarti “tempat pemberdayaan anak”. Saya sebut pemberdayaan anak karena di situlah anak diberdayakan menjadi manusia yang utuh. Anak bukanlah barang yang bisa dengan seenaknya ditinggalkan, dititipkan, kemudian diambil lagi begitu saja. Selama dititipkan di TPA, anak mendapatkan pengasuhan yang cukup. Selain itu, anak mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi diri maupun lingkungannya. Anak biasanya dibiarkan bermain sendiri untuk mengembangkan imajinasinya. Anak yang lebih besar biasanya sudah dapat berinteraksi dengan sesama anak yang lain. Dalam interaksi ini, mereka dapat belajar mengenal satu sama lain. Meskipun masih terbatas, mereka dapat mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Pengasuh sigap mengawasi dan menolong anak-anak yang mengalami masalah misalnya menangis, terganggu oleh anak lain, lapar, BAB, BAK, dll. Kemandirian anak dapat terbentuk sejak ditinggalkan oleh orang tuanya bekerja. Mereka tidak lagi terlalu melekat atau tergantung pada kenyamanan dekapan orang tua manakala merasa tidak nyaman. Mereka juga sudah dibiasakan sejak dini untuk mengenal orang lain yang bermaksud baik untuk menolong.
                Selain tempat pemberdayaan, TPA bisa juga berarti “Tempat Persiapan Agung”. Saya namakan demikian karena di sinilah anak-anak disiapkan untuk menghadapi kehidupan yang lebih luas lagi. Tidak lagi berkutat pada lingkungan rumah dan sekitarnya yang sempit dan nyaman, anak mulai dipaparkan dengan lingkungan kehidupan yang lebih luas. Mereka diperkenalkan dengan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dari anak-anak lain. Mereka belajar  bagaimana mengemukakan isi hati dan pikiran kepada orang yang bukan keluarganya sendiri. Dengan pengasuh yang terlatih, anak dapat belajar mandiri dalam hal makan, minum, tidur, BAB, BAK, dll. Persiapan menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap diri dan lingkungannya begitu ditekankan di sini. Anak yang satu tidak boleh mengganggu anak yang lain. Anak yang satu tidak boleh mengambil barang kepunyaan anak yang lain tanpa izin. Jika mengganggu anak lain sampai menangis, maka ‘hukuman’ yang didapatkan adalah tidak boleh bermain bersama anak lain selama beberapa waktu. Pengasuh yang peka dan kreatif akan berusaha mengembangkan kepribadian anak sesuai dengan ciri khas masing-masing, bukan hanya menjaga mereka sementara menunggu dijemput.
                Saya dan suami sepakat menitipkan Asa, anak kami, ke TPA yang dikelola di bawah naungan rumah sakit di mana saya bekerja. Di situ, kami mempercayakan Asa untuk dijagai dan diasuh oleh para pengasuh yang kami nilai cukup berpengalaman dengan anak-anak kecil. Sebelum mulai menitipkan Asa, kami sudah mensurvey terlebih dahulu tempat dan suasananya. Beayanya sangat murah. Kami pun cocok. Maka, sampai saat ini pun kami mempercayakan Asa untuk dititipkan di sana. Kebiasaan yang kami lakukan sebelum meninggalkan Asa ‘sendiri’ di TPA adalah dengan menumpangkan tangan kami ke atas kepalanya sambil mengatakan, “Tuhan memberkati!”. Kami percaya tindakan iman ini berarti besar bagi pertumbuhan dan perkembangan Asa. Dan kami bersyukur karena dengan adanya TPA ini, kami dapat berfokus pada pekerjaan kami masing-masing. Puji TUHAN! ^^

(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, Rabu, 13 Maret 2013)

                

Tidak ada komentar: