Minggu, 18 Mei 2014

Kala Aku Menggendong Asa

Sore hari yang tenang dipecahkan oleh tangisan Asa yang membahana. Asa baru sakit batuk. Dari napasnya yang cepat terdengar bunyi ‘ngik ngik’. Mungkin ia menangis karena merasa tidak nyaman atau panik dengan kondisinya. Langsung saja kugendong dan kudekap erat-erat. Sambil kutenangkan, aku pun mendaraskan lagu-lagu pujian dan penyembahan yang menguatkan iman dan meninggikan TUHAN. Karena lagu pujian penyembahan itu, perhatianku tidak melulu terpusat pada tangisan Asa yang keras dan cukup mengintimidasi. Sebaliknya, ketenangan dan kedamaian yang kurasakan sepertinya dirasakan pula oleh Asa sehingga berangsur-angsur tangisannya mereda. Asa pun tertidur dengan nyamannya di dalam pelukanku. Namun jika mau kutaruh ke dalam boks atau ke atas kasur, Asa kembali terbangun dan menangis. Rupanya, Asa sedang ingin dipeluk-peluk. Maka, kugendong terus dan kudekap erat dengan bantuan selendang ia. Lagu pujian dan penyembahan terus kunyanyikan. Dengan iman, sambil menggendongnya, kutumpangkan tanganku ke kepala Asa dan kukatakan perkataan-perkataan positif yang menjadi doa pengharapanku, lebih seperti nubuatan pribadi. Kukatakan dengan lembut tapi tegas sampai telingaku mendengarnya.
                “TUHAN memberkatimu, Asa. Kamu akan tumbuh dalam pengenalan yang benar akan TUHAN. Kamu akan hidup bergaul dengan-Nya sampai kepada kekekalan,” kurang lebihnya itulah kata-kata yang kuucapkan waktu itu. Aku percaya bahwa perkataan yang diucapkan dengan iman yang benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan pasti tidak akan sia-sia. Untuk membuktikannya, mari kita lihat kehidupan Asa dalam waktu-waktu yang akan datang.
                Ada beberapa hal yang ingin kubagikan di sini. Dari pengalaman menenangkan Asa itu, aku mendapatkan hal-hal inspiratif. Yang pertama adalah tentang kuasa pujian dan penyembahan. Dengan memuji dan menyembah TUHAN secara sederhana yaitu dengan melantunkannya pelan-pelan, aku terbebas dari intimidasi yang dapat timbul manakala Asa menangis keras-keras. Pujian dan penyembahan itu membuatku fokus pada hal yang benar, yaitu hal-hal yang di atas, bukan di bumi, sehingga aku beroleh ketenangan yang luar biasa. TUHAN yang bertahta di atas pujian dan penyembahankulah yang berkuasa menenangkan dan meneduhkan tangisan panik Asa itu. Cara ini dapat dicoba bagi para orang tua sekalian yang mempunyai anak yang rewel atau sedang sakit. Tentu saja sesuai konteks lingkungan masing-masing. Cobalah untuk tidak menggunakan kekuatan manusia dalam menenangkan anak-anak yang sedang rewel karena sakit. Jika masih bayi, cara seperti di atas dapat dicoba. Daripada menyanyikan lagu-lagu ninabobo yang kadang percuma karena si bayi susah tidur, lebih baik menyanyikan lagu-lagu rohani yang liriknya membangkitkan iman dan memuji kebesaran TUHAN. Selain membuat kita tenang, kita juga sudah mengenalkan aspek pujian penyembahan kepada anak sejak dini. Ada yang mengatakan bahwa pujian dan penyembahan itu membuat kecanduan atau ketergantungan. Tapi menurutku, bukan ketergantungan. Lebih tepat dikatakan bahwa pujian dan penyembahan itu adalah kebutuhan bagi roh kita sebagai sarana bersekutu dengan Roh TUHAN.
                Hal kedua yang melintas dalam benakku saat aku menggendong dan menenangkan Asa adalah gambaran saat Musa mengangkat tongkatnya manakala Israel berperang melawan Amalek. Saat Musa mengangkat tongkatnya, Israel mampu memukul mundur Amalek. Namun, saat tangan Musa penat dan tongkatnya turun, ganti Israel yang dipukul mundur oleh Amalek. Maka, TUHAN mengirimkan bantuan Harun dan Hur untuk menopang tangan Musa sehingga Israel pun dapat memenangkan pertempuran. Kisah ini dapat dibaca dalam kitab Keluaran. Aku membayangkan bahwa ketika aku menggendong Asa, bagianku adalah terus menggendongnya jangan sampai jatuh sambil menyanyi lagu-lagu pujian penyembahan. Sedangkan pertempuran yang sedang terjadi adalah pertempuran antara kuasa kegelapan yang berusaha merenggut damai sejahtera melawan kuasa TUHAN yang melingkupi kami. Bala tentara kegelapan melawan bala tentara TUHAN yang berjaga sekeliling aku dan Asa. Memang tidak terlihat secara kasat mata, tapi dengan iman aku percaya hal itu dapat terjadi. Bagianku kulakukan dengan tekun dan setia tanpa perlu memikirkan jalannya pertempuran karena aku percaya TUHAN selalu menang. Dan memang benarlah demikian. Terbukti dengan damai sejahtera yang melingkupi aku dan Asa sehingga suasana menjadi tenang terkendali. Puji TUHAN!
                Hal yang ketiga adalah tentang hak istimewaku sebagai ibu kandung Asa yang bagaikan malaikat pelindung tanpa sayap terdekat yang paling berhak untuk melindungi, mendoakan, dan meberkati Asa. Jika sebelum ini biasanya aku cenderung menyerahkan hak istimewa ini kepada orang lain, misalnya ibuku atau Lek Sar, kali ini aku sadar akan hal penting ini. TUHAN telah menganugerahkan dan mempercayakan Asa untuk kujagai dengan statusku sebagai ibu kandung, yang bagaikan malaikat pelindung terdekat. Dengan status itu, tugas dan tanggung jawabku adalah melindungi Asa sedemikian rupa seperti pasukan pelindung khusus yang menjaga keselamatan presiden dari incaran musuh. Jika aku melalaikan tugasku, maka TUHAN masih bisa memakai orang lain untuk menggantikanku. Sangat rugi sekali jika aku melepaskan tanggung jawab itu! Maka, mulai saat itu, aku bertekad untuk setia dengan panggilanku sebagai ibu kandungnya Asa. Dengan menjadi ibunya, aku punya hak istimewa untuk mendidiknya. Aku mau mendidiknya sehingga Asa dapat beroleh pengenalan yang benar akan TUHAN sehingga ia menjadi sahabat TUHAN dan menjadi penyembah TUHAn yang benar. Aku ingin Asa dapat mengenal TUHAN melalui tangan pertama, yaitu langsung dari TUHAN sendiri, bukan lagi dari perkataan orang lain.
                Itulah hal-hal inspiratif yang kudapatkan dari pengalamanku yang sederhana. Terima kasih kepada TUHAN yang berbicara melalui hal-hal sederhana kepadaku. Kiranya apa yang kuperoleh ini dapat pula memberkati setiap orang yang membacanya. Terpujilah nama TUHAN!

Bapa yang penuh kasih,
Terima kasih untuk kepercayaan-Mu terhadapku dengan menjadikanku ibu bagi Asa, putri –Mu yang sangat Kaukasihi. Terima kasih untuk pengalaman berharga menjadi ibu yang penuh perhatian dan bertanggung jawab. Kiranya segala hal baik dan indah selalu terjadi dalam interaksiku dengan Asa. Kiranya setiap perkataan dan perbuatanku dapat berdampak positif dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Mampukan aku untuk mendidik Asa sehingga ia dapat menjadi anak-Mu yang mengenal dan mengasihi-Mu selalu. Berkati juga para ibu dengan anak mereka masing-masing. Kiranya para ibu dapat menjadi malaikat pelindung terdekat yang mampu meneduhkan anak-anak mereka manakala sedang dalam kegaduhan hati. Kiranya hati para ibu dan anak mereka dapat terpaut satu sama lain dalam kasih yang mesra dan indah.
Dalam nama Tuhan Yesus.
Haleluya.
Amin.


(Rumah Kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Jumat 28 Desember 2012)

Tidak ada komentar: