Rabu, 21 Mei 2014

Sang Pustakawan Sejati

Aku mengenal namanya hanya sebatas Bu Ari. Bu Ari penjaga perpustakaan. Kesan pertama mungkin agak jutek atau kurang senyum. Tapi lama kelamaan seiring berjalannya waktu, aku semakin mengenal beliau. Ternyata beliau orang yang sangat perhatian. Sangat teliti, berdedikasi tinggi. Suka membaca juga rupanya. Jelas, kan pustakawan eh pustakawati! Lucu jika seorang pustakawan atau pustakawati tidak gemar membaca. Hidupnya pasti akan membosankan sekali karena sehari-harinya berkutat di antara buku-buku. Tapi, kalau seorang yang gemar membaca pasti akan merasakan perpustakaan sebagai surganya. Bahkan, bagi seorang kutu buku, surga baginya pastilah akan dipenuhi dengan beribu-ribu bahkan berlaksa-laksa buku yang tidak akan habis dibaca sepanjang kekekalan. Wow, luar biasa!
                Kembali ke Bu Ari. Setiap hari aku biasanya menyempatkan diri untuk ke perpustakaan rumah sakit, tempat mangkal beliau. O iya, aku lupa bercerita. Di rumah sakit di mana TUHAN menempatkanku ini terdapat sebuah perpustakaan yang sangat nyaman dan terus berfungsi hingga saat ini. Letaknya di lantai tiga. Isinya? Jangan ditanya! Buku-buku dari berbagai macam tema ada di situ. Buku kesehatan, perawatan, theologi, psikologi, novel, majalah, dan lain sebagainya tersusun dengan rapi dan apik di sana. Siapa lagi kalau bukan Bu Ari yang setia menyusun dan menjaga buku-buku itu sehingga selalu terawat dengan baik?
                Dulu Bu Ari ditemani oleh Bu Sri dan Pak (aduh lupa namanya, maaf). Tapi sekarang Bu Sri sudah pensiun dan Pak (lupa namanya) sudah meninggal. Tinggallah Bu Ari seorang diri berjibaku menjaga perpustakaan rumah sakit supaya tetap eksis dan berfungsi. Jangan anggap remeh pekerjaan Bu Ari! Jika tidak ada Bu Ari, maka siapa yang akan melayani para peneliti dan para pencari ilmu di rumah sakit ini? Mereka bakalan kebingungan mencari-cari sumber referensi yang lengkap dan mudah ditemui. Meskipun sekarang sudah zaman mbah Google, tetap saja referensi berupa buku masih sangat bertuah kuasanya. Bu Ari selalu siap melayani kami-kami para penggila pengetahuan ini dengan menunjukkan sumber-sumber bacaan yang tepat atau kurang lebih pas bagi kebutuhan kami. Namun, karena sekarang Bu Ari sendirian di perpustakaan, maka beliau tidak bisa lagi berkeliling ruangan ‘menjajakan’ buku bacaan kepada pasien dan keluarganya. Dulu, sewaktu masih ada temannya, Bu Ari sering berkeliling ruangan sambil mendorong lemari kecilnya yang berisi buku-buku menarik yang dipajang sedemikian rupa. Beliau menawarkan kepada setiap pasien atau keluarganya buku-buku yang dirasa pas bagi mereka. Pelayanan ini kelihatan sepele, tapi sangat luar biasa lho! Coba bayangkan diri kita sebagai seorang pasien yang harus menunggu waktu tindakan medis atau waktu untuk pulang. Tentu bosan dan jenuh melanda, bukan? Nah, bayangkan dalam kebosanan itu tiba-tiba datanglah seorang ibu dengan baiknya menawarkan bacaan-bacaan yang kita sukai. Lenyaplah bosan, hilanglah jenuh. Bertambahlah sukacita dan pengetahuan kita. Jiwa kita disegarkan. Dan, kita tidak lagi merasa kuatir, takut, atau galau manakala menunggu waktu pulang atau tindakan medis itu.
                Selain urusan perbukuan, ternyata Bu Ari punya hal lain yang juga menjadi nilai lebihnya. Bu Ari suka bersekutu, bersehati, dan berdoa bersama-sama dengan sesama ibu-ibu yang tergabung dalam korps civitas hospitalianya. Bu Ari suka mendengarkan keluh kesah sesama rekan kerja di ladang anggur Tuhan ini manakala mereka berkunjung ke perpustakaan sekedar melepas kepenatan dan kejenuhan kerja. Tidak jarang orang-orang yang datang ke perpustakaan itu sebenarnya orang yang membutuhkan siraman air kehidupan karena sehari-harinya terpapar kegersangan padang gurun dunia. Di dalamnya termasuk aku juga. Aku sering ‘melarikan diri’ ke perpustakaan hanya sekedar untuk mendinginkan suasana hati atau sekedar ingin ngobrol dengan Bu Ari. Rasanya plong atau lega sekali setelah ngobrol ngalor ngidul dengan Bu Ari. Bahan obrolan berkisar seputar kehidupan keluarga dan pekerjaan sehari-hari. Tidak ada yang terlalu wah. Tapi, itu semua sangat membantu kami menemukan oasis kehidupan.
                Dari bahan-bahan obrolan itu, aku jadi tahu informasi-informasi penting seperti siapa saja pegawai yang sedang sakit atau hamba Tuhan yang sedang  dirawat di rumah sakit. Pernah aku mengunjungi salah seorang pasien yang adalah anak pegawai rumah sakit yang sedang sakit atau dalam terapi di ruangan. Aku berkunjung untuk sekedar berdoa bersamanya. Berdasarkan informasi dari Bu Ari, aku jadi bisa berdoa dengan lebih spesifik dan sesuai dengan situasi. Pengalaman-pengalaman ini sangat berkesan bagiku.
                Sungguh luar biasa peran Bu Ari bagi kelangsungan kesejahteraan pegawai rumah sakit ini. Meskipun tidak banyak yang mengetahui, aku tahu dan percaya bahwa TUHAN pasti sangat menghargai apa yang diperbuat Bu Ari. Upahnya pasti sangatlah besar di surga. Aku banyak belajar dari Bu Ari tentang sepi ing pamrih rame ing gawe. Meskipun kecil di hadapan manusia, jika kita bekerja dengan segenap hati untuk TUHAN, maka segala pekerjaana kita itu tidaklah sia-sia. Itulah yang kudapatkan dari interaksi dengan seorang pustakawati sejati ini.

(Ladang anggur TUHAN di Yogyakarta, Sabtu, 09 Maret 2013)

Tidak ada komentar: