Rabu, 21 Mei 2014

Restorasi Karakter

Siang itu di ruang kopi pecah (coffee break) ladang TUHAN di Yogyakarta, aku dan sesama rekan sejawat mengikuti acara pendalaman Alkitab. Acaranya cukup seru dan menarik. Dipimpin oleh pak pendeta Christian Sutopo, kami semua berdiskusi dan saling berbagi cerita dan pergumulan seputar kehidupan pelayanan di dunia medis. Pada akhir acara, aku membagikan apa yang menjadi semacam visi atau harapanku untuk ladang TUHAN ini. Dengan antusias aku ceritakan bahwa kami para dokter muda alias junior ini telah membentuk diri sebagai satu tim yang kuat dan kompak. Kami menamakan diri kami sebagai “Medical Dragon Team”, mengambil nama dari sebuah judul komik Jepang. Masing-masing kami mempunyai julukan unik yang menggambarkan ciri khas kami masing-masing. Aku yang jarang kelihatan di area pelayanan klinis dinamakan “invisible dragon”. Yohan yang suka memberikan kata-kata bijaknya dinamakan “wise dragon”. Julukan-julukan yang lain adalah “brave dragon”, “smooth dragon”, powerful dragon”, “incredible dragon”, “honest dragon”. Dengan kesatuan hati ini, kami dengan bangga mengusung visi yang kusebut sebagai “restorasi”.
                Restorasi adalah mengembalikan sesuatu ke kondisi semula sebelum rusak, bahkan menjadikannya lebih baik lagi daripada aslinya. Sebutan lainnya adalah pemulihan. Apa yang perlu dipulihkan atau direstorasi? Banyak! Di rumah sakit ladang anggur TUHAN ini ada banyak hal yang bisa dan harus dipulihkan. Mulai dari hubungan antara karyawan dengan atasannya, hubungan senior dengan junior, hubungan antar bagian, sampai rasa memiliki yang bertanggung jawab alias “handarbeni” terhadap lingkungan kerja. Ada banyak mekanisme negatif yang selama ini berlangsung sekian lama dan sudah dianggap sebagai kewajaran. Contohnya adalah mekanisme gosip, favoritisme, saling menyalahkan, tidak transparan yang berujung kecurigaan, dan lain sebagainya. Semua itu harus diubah! Tidak bisa tidak! Ciri khas ladang TUHAN yang dilandasi kasih dalam pelayanan ini harus dikembalikan ke posisinya semula.
                Bagaimana caranya? Untuk mengubah lingkungan, orang-orangnya harus berubah terlebih dahulu. Supaya orang-orang mau dan dapat berubah, harus ada yang memberi contoh. Siapa yang mau menjadi contoh atau teladan? Ternyata jawabannya bukanlah dengan menunggu apalagi menyuruh orang lain berubah. Diri sendirilah yang harus berubah terlebih dahulu. Apa yang harus diubah? Karakter! Sifat dan sikap yang ada pada diri sendiri harus diubah sesuai dengan firman TUHAN. Harus ada kemauan dan sikap bertobat terus-menerus setiap hari. Pembaharuan budi harus terjadi dalam diri pribadi.
                Karena itulah, Pak Pendeta Christian Sutopo mengusung satu kosa kata lagi untuk melengkapi kata restorasi. Sehingga, jadilah visi kami dilengkapi menjadi “restorasi karakter”. Kami pun semakin tercerahkan dan tersemangati. Semua menjadi bertambah dahsyat karena Pak Christian menutup acara pendalaman Alkitab itu dengan doa yang penuh kuasa. Dalam doa itu, beliau meneguhkan supaya restorasi karakter sungguh-sungguh terjadi dan dimulai dengan kuasa TUHAN. Memang, kita tidak bisa melakukan sesuatu tanpa kekuatan dari TUHAN.


(Ladang TUHAN di Yogyakarta, Senin 13 Mei 2013)

Tidak ada komentar: