Rabu, 21 Mei 2014

Musyawarah Sangkakala

Setiap Jumat sore, di rumah ibuku, diadakan latihan rutin paduan suara Sangkakala. Paduan suara ini adalah paduan suara yang anggotanya sudah senior alias berumur setengah baya. Terbentuk dari persekutuan warga gereja wilayah Sagan beberapa dekade lalu, paduan suara Sangkakala masih solid dan bersemangat meskipun sudah senior. Yang aku suka dari paduan suara ini adalah suasana keakraban dan kekeluargaan yang begitu kental mewarnai setiap latihan dan pertemuannya.
                Seperti itu juga suasana kekeluargaan yang hangat dan ‘gayeng’ yang kurasakan saat bapak-bapak dan ibu-ibu anggota Sangkakala sedang musyawarah kemarin sore. Musyawarah tersebut membicarakan masalah jadi atau tidaknya Sangkakala mengisi pujian di GKJ Manahan Solo. Seminggu sebelumnya, bapak-bapak dan ibu-ibu Sangkakala telah menyatakan niat mereka untuk mengisi pujian, mengiringi Pdt. Siswadi dari GKJ Gondokusuman Yogyakarta yang dijadwalkan tukar mimbar. Tapi sore kemarin, beberapa ibu yang mengurusi uang kas menyatakan sesuatu yang perlu dibicarakan bersama. Maka, dilangsungkanlah musyawarah mufakat.
                Masalah yang dikemukakan adalah mengenai beaya dan ketersediaan uang kas. Beaya yang harus dikeluarkan untuk transportasi saja sudah sedemikian besar melampaui banyaknya uang kas. Belum lagi untuk konsumsi. Selain itu, diingatkan pula bahwa para anggota beberapa waktu sebelumnya pernah mencetuskan keinginan untuk merayakan HUT Sangkakala dengan pesiar ke luar kota sekaligus mengisi pujian di gereja setempat. Untuk membeayai HUT, para anggota sudah menabung dan terkumpul sejumlah uang kas. Jika uang kas dipakai untuk beaya transportasi ke Solo, lalu bagaimana dengan rencana HUT itu? Maka, perlu diputuskan apakah Sangkakala jadi menyanggupi atau tidak untuk mengisi pujian di GKJ Manahan.
                Musyawarah berjalan dengan sangat meriah. Ramai akan usulan dan masukan. Ada yang memberi masukan tentang jalan Yogya-Solo yang ramai dan jelek sehingga dikuatirkan waktu perjalanan menjadi lebih panjang. Ada pula yang menyangsikan ketepatan waktu berangkat yang sangat dini, sebelum matahari terbit. Kendala-kendala dipaparkan satu demi satu. Namun, ada pula yang menawarkann solusi yang masuk akal. Suasana sungguh ramai namun tetap diselingi ‘guyonan’ yang selalu mencairkan pembicaraan yang serius namun santai itu. Antara kedua kutub, bersedia dan tidak bersedia pergi ke Solo, sama-sama kuat alasannya. Karena belum dicapai pula kata mufakat, maka dilakukanlah pemungutan suara. Pemungutan suara sebenarnya memenangkan untuk berangkat ke Solo. Tapi, adanya satu dua pendapat yang menyatakan keberatan, maka demi kebersamaan, diputuskan secara resmi bahwa paduan suara Sangkakala tidak bisa pergi ke Solo. (Meskipun demikian, beberapa atau sebagian anggota tetap berniat pergi ke Solo karena merasa tidak enak kepada Pdt. Siswadi).
                Lepas dari apa pun keputusan yang diambil, aku sangat mengapresiasi dan merasa terberkati menyaksikan proses musyawarah itu. Aku belajar bagaimana suatu keputusan bersama itu diambil. Ada proses panjang yang harus dilalui meliputi curah pendapat, pemaparan masalah, perspektif dari berbagai sisi, pencarian solusi terbaik, yang semuanya itu harus dilandasi dengan akal sehat dan hati nurani yang murni. Dengan sabar mendengarkan setiap orang berbicara sampai selesai tanpa memotongnya, kita bisa memahami permasalahan dengan lebih baik tanpa harus menjadi hangus terbakar emosi. Perbedaan pendapat tidak menjadi masalah asalkan relevan dan disampaikan dengan mengutamakan prinsip kekeluargaan. Persatuan dan keakraban pun tetap terjaga meskipun perbedaan pendapat terjadi. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah humor atau canda tawa yang selalu tercetus manakala suasana tegang perlu dicairkan.
                Tanpa terasa, prinsip Pancasila sila keempat telah dilaksanakan dengan sedemikian apiknya di sini. Musyawarah untuk mencapai mufakat dalam proses pengambilan keputusan bersama ternyata begitu indah kusaksikan. Sungguh bersyukur aku menjadi bagian dari paduan suara Sangkakala (senior) yang telah memberi teladan luar biasa ini. Aku tidak lagi hilang harapan manakala menyaksikan proses rapat para wakil rakyat (di televisi) yang kadang diwarnai dengan gontok-gontokan perang urat saraf. Ternyata, secercah cahaya masih ada di negeri tercinta ini. Nilai-nilai luhur bangsa ini masih terpelihara dalam lingkungan dekatku. Maka, dengan bangga dan penuh syukur kunaikkan pujianku ke hadirat TUHAN atas kekayaan hikmah yang kusaksikan ini.

Terpujilah TUHAN semesta alam, yang telah menganugerahi bangsaku dengan kekayaan hikmah berupa nilai-nilai luhur Pancasila, musyawarah mencapai mufakat untuk kebaikan bersama dan kemuliaan nama TUHAN.


(Kebun anggur TUHAN di Yogyakarta, Sabtu 2 Februari 2013)

Tidak ada komentar: