Rabu, 21 Mei 2014

Kopi Pecah, Sang Saksi Bisu

Tempat itu luas dengan pencahayaan ruang yang cukup terang. Dikelilingi empat dinding dengan terdapat tiga pintu dan sederetan jendela. Di tengah-tengah terdapat meja persegi panjang yang disusun melingkar membentuk susunan seperti untuk konferensi. Kursi-kursi empuk dan nyaman tersusun mengelilingi susunan meja tersebut. Di ruangan inilah aku sering menghabiskan sebagian waktu luangku. Mulai dari sekedar ‘ngadhem’, berbincang-bincang alias ngobrol, sampai mendengarkan alias menguping perbincangan seru antara sesama rekan sejawat para dokter. Ruangan yang nama aslinya adalah Ruang Komite Medik ini lebih terkenal disebut sebagai ruang coffee break alias kopi pecah, demikian aku menyebutnya (coffee=kopi, break=pecah), karena di sinilah para dokter rumah sakit ladang TUHAN mengambil waktu mereka untuk beristirahat sejenak sambil minum kopi, makan camilan, nonton televisi, berselancar internet, dan bermain kibor.
                Aku mencatat ada tiga fungsi yang paling menonjol dari ruang kopi pecah ini. Fungsi yang pertama adalah sebagai ruang belajar, berdiskusi, dan berbagi informasi seputar dunia kesehatan, obat, pelayanan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas pokok rumah sakit. Setiap hari Jumat siang sekitar jam dua belas sampai selesai, biasanya diadakan pertemuan rutin untuk meningkatkan pengetahuan para dokter, perawat, apoteker, dan petugas rekam medis yang terkait. Pertemuan tersebut dapat berupa presentasi produk obat paten, presentasi dokter yang sedang dalam proses pengangkatan menjadi karyawan tetap, presentasi program kerja rumah sakit, dan lain sebaginya. Yang menjadi daya tarik utama para peserta yang diundang bukan melulu pada materi presentasi itu sendiri melainkan pada makanan prasmanan yang disajikan dengan menu yang bervariasi. Sambil menikmati makanan lezat, sambil menyimak pula presentasi. Selain itu, biasanya terdapat acara pembagian hadiah kejutan alias doorprize yang cukup kuat menjadi iming-iming alias gratifikasi bagi para dokter untuk meresepkan obat-obat paten yang dipresentasikan itu. Tidak masalah bagiku dengan adanya praktek “suap” terselubung itu, asalkan aku tetap berpedang pada prinsip. Prinsipku adalah tetap memegang teguh janjiku ketika dilantik sebagai seorang dokter, yaitu tidak mencelakai pasien dan terus meningkatkan kompetensi diri. Bahasa Inggrisnya adalah “do no harm” dan ”life long loearning”.
                Fungsi kedua ruang kopi pecah ini adalah sebagai tempat bersekutu yang nyaman bagi para dokter yang bekerja di rumah sakit ladang TUHAN ini. Setiap hari Kamis minggu kedua, bagian sosiopastoral rumah sakit mengadakan pendalaman Alkitab bagi para dokter. Difasilitasi oleh para pendeta rumah sakit sebagai moderator, terkadang mengundang pendeta dari luar sebagai pembicara, acara PA berjalan dengan sangat seru dan dinamis. Seru karena kadang dapat terjadi semacam debat pendapat dan pandangan antara dokter, fasilitator, dan pembicara. Dinamis karena diskusi-diskusi yang terjadi tidak dapat diprediksi hasil akhirnya. Dokter-dokter senior maupun junior, laki-laki maupun perempuan, umum maupun spesialis, tumpah ruah dengan segala macam uneg-uneg, pengalaman, dan pendapat mereka. Aku sangat senang mengikuti kegiatan PA rutin di kopi pecah ini karena aku dapat menambah wawasan dan pengetahuanku dalam bidang pelayanan medis yang holistik untuk kemuliaan TUHAN. Bagianku yang terbesar adalah mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian setiap ucapan para peserta PA, merenungkan, mengendapkannya, untuk kemudian kurefleksikan dan kukontlempasikan bagi diriku sendiri sehingga menambah kaya khasanah  batinku. Tidak jarang, aku pun juga mengungkapkan isi hatiku dengan jujur, tulus, dan terbuka di PA ini dengan berpegang bahwa yang hadir semuanya sudah kuanggap sebagai bagian keluarga rohaniku.
                Fungsi ketiga mungkin hanya berlaku bagi diriku secara pribadi. Di sini, aku bisa memperoleh berbagai macam informasi penting yang sifatnya bukan untuk konsumsi umum. Misalnya, diskusi-diskusi sesama dokter senior perihal pasien yang ditanganinya, bagaimana kondisi mereka, masalah-masalah apa yang dihadapi dokter dan rumah sakit, dan bagaimana seolusi terbaiknya. Selain itu, ada juga masalah-masalah di luar tembok rumah sakit yang dibicarakan secara sepintas lalu seperti masalah keamanan kota, kesejahteraan masyarakat, kebijakan pemerintah, kasus-kasus yang melibatkan dokter di Indonesia, dan lain-lain. Aku banyak mendengar bagaimana para dokter senior mengungkapkan pendapat mereka dengan cukup santun meskipun tidak jarang terjadi perbedaan-perbedaan di sana sini. Sumber informasi itu dapat berasal dari mana saja, pada umumnya adalah media massa seperti koran dan televisi. Aku belajar bahwa hal-hal yang kubaca dan kuperhatikan di media massa itu merupakan mozaik kehidupan yang jika dirangkaikan dengan tepat, akan memberikanku wawasan yang cukup kaya untuk mengambil keputusan strategis. Aku juga belajar bahwa dengan duduk diam mendengarkan baik-baik itu jauh lebih bermakna dan berarti daripada terlalu banyak bicara dengan motivasi sesumbar untuk menunjukkan kepintaran atau kepiawaianku dalam berolah pikir.
                Kopi pecah menjadi saksi bisu dinamika kehidupan personal dan profesional para dokter di rumah sakit ini. Di sinilah sejarah disaksikan dan dibentuk kembali oleh pribadi-pribadi yang terpanggil dan terpilih sesuai dengan rencana TUHAN. Bagi mereka yang menyadarinya, sungguh amat menjadi berkat yang luar biasa bukan hanya bagi diri sendiri dan kelompoknya melainkan juga bagi seluruh civitas hospitalia, masyarakat, bangsa, dan negara. Kiranya melalui hal-hal sederhana yang disaksikan dan diperbincangkan di ruangan ini, banyak hal besar dapat terjadi yang menjawab setiap permasalahan yang membelit bangsa Indonesia tercinta ini. Hidup kopi pecah! Hidup ladang TUHAN! Hidup Indonesia!

(Rumah Cahaya, Minggu 14 April 2013)

                

Tidak ada komentar: