Sabtu, 17 Mei 2014

Ajrih Asih

Hari Minggu kemarin aku mendapat pelajaran yang berharga. Aku belajar tentang arti dari mengasihi TUHAN. Dalam bahasa Jawa, terdapat ungkapan ajrih asih untuk menggabarkan bagaimana sikap kita seharusnya terhadap Pribadi TUHAN. Ajrih secara hurufiah berarti takut. Sedangkan asih berarti mengasihi. Jika digabungkan, maka dapat diartikan bahwa di dalam kita mengasihi TUHAN, sudah selayaknya terdapat rasa takut. Takut seperti apakah? Dari pengalamanku kemarin Minggu, setidaknya aku mendapatkan sedikit gambaran tentang sikap takut seperti apakah yang layak kita miliki terhadap TUHAN kita.
                Hari Minggu kemarin merupakan hari yang sangat sibuk buatku. Sejak pagi sampai sore aku disibukkan dengan kegiatan mengiringi ibadah dan latihan (gladi resik) untuk acara kebaktian Natal. Saking sibuknya, aku jadi kurang fokus terhadap hal-hal kecil tapi penting. Salah satunya adalah hal komunikasi dengan pasangan. Aku ditegur dengan keras oleh pasangan hidupku, Mas Cah, karena kemarin aku abai berkomunikasi dengannya. Apa pasal? Begini ceritanya. Mas Cah sudah berpesan supaya aku mengirim SMS padanya kalau latihan sudah selesai sehingga ia bisa menjemputku. Tanpa diduga, aku lalai meng-SMS-nya karena ketika latihan sudah selesai, aku langsung diajak ibuku naik kendaraan pribadinya untuk pulang. Perlu diketahui, ibuku adalah anggota paduan suara yang akan mengisi ibadah Natal sebagai pemandu pujian. Kami tidak bersama-sama berangkatnya karena kesibukan masing-masing yang luar biasa. Ibuku terbiasa pergi-pergi dengan naik mobil pribadinya, sedangkan aku terbiasa dengan diboncengkan Mas Cah naik motor. Kupikir kami, aku dan ibuku, akan segera pulang. Ternyata tidak. Ibuku mengajakku melayat salah seorang temannya. Ya sudah. Kupikir tidak ada salahnya untuk ikut.
                Ternyata, Mas Cah pun menjemputku. Aku tidak tahu. Ponselku tiba-tiba berbunyi. Ada SMS dari Mas Cah, menanyakanku apakah sudah akan pulang. Aku balas saja bahwa aku sedang diajak melayat oleh ibu. Tidak disangka, balasan Mas Cah selanjutnya menunjukkan kekecewaannya. Mas Cah kecewa mengapa aku tidak memberitahunya terlebih dahulu. Mas Cah sudah terlanjur bolak-balik ambil mantol karena mau hujan. Aku pun menjelaskan duduk perkaranya, bahwa aku diajak ibu untuk melayat. Tapi Mas Cah pun membalas bahwa bukan masalah melayatnya yang membuat dia kecewa, melainkan kelalaianku memberitahunya terlebih dahulu. Aku pun minta maaf atas kealpaanku. Dan selesailah sudah percakapan lewat SMS itu.
                Sepanjang perjalanan pulang dari melayat, aku sibuk berpikir dan merenung. Tidak enak sekali rasanya ditegur oleh pribadi yang mengasihi dan kita kasihi sedemikian rupa karena kita telah menyakiti hati atau mengecewakannya. Ada rasa takut karena membayangkan bagaimana reaksi Mas Cah jika bertemu setelah aku sampai di rumah. Aku pun mempersiapkan hati untuk menerima apa pun juga yang akan disampaikan Mas Cah. Sesampai di rumah, aku mendapati Mas Cah ternyata tidak semurka seperti bayanganku. Sebaliknya, Mas Cah menyambutku dengan hangat dan ramah. Tidak tersisa satu pun kemarahan ataupun kekesalan. Puji Tuhan! Melihat kebaikan hati Mas Cah, aku bertekad untuk tidak lagi menyakiti hati atau mengecewakannya, sekecil apa pun itu. Aku akan selalu ingat hal-hal apa saja yang tidak berkenan di hatinya untuk kuhindari. Aku akan berusaha untuk selalu menyukakan hatinya.
                Itulah pengalaman yang sangat berharga yang mampu membuatku mengerti sedikit akan rasa takut yang didasari oleh karena mengasihi pribadi yang juga mengasihiku. Jika dihubungkan dengan TUHAN, maka aku menghayati bahwa dalam mengasihi TUHAN, aku harus berusaha untuk tidak menyakiti hati-Nya. Sebab, TUHAN telah lebih dahulu mengasihi kita. Maka, hendaknya kita pun menunjukkan kasih kita kepada-Nya sebagai ungkapan syukur kita. Haleluya!

Bapa yang baik,
Terima kasih untuk pelajaran yang berharga. Aku belajar bahwa dalam mengasihi-Mu, terdapat rasa takut yang kudus. Terima kasih untuk pasangan hidup pemberian-Mu yang telah mengingatkanku akan hal penting ini. Kiranya aku dapat mengasihinya dan menghormatinya sebagaimana Engkau kehendaki. Berkatilah hubungan semua suami dan istri yang takut akan Engkau serta mengasihi Engkau di segala tempat dan waktu. Kiranya para istri dapat menunjukkan rasa kasih dan hormat mereka terhadap suami mereka dengan tepat.
Dalam nama Tuhan Yesus
Haleluya
Amin


(Rumah Kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Senin 24 Desember 2012)

Tidak ada komentar: