Sabtu, 17 Mei 2014

Pelajaran Berharga dari Lek Sar

Hari ini dan kemarin, aku mendapatkan pelajaran yang berharga dari Tuhan. Pelajaran yang sederhana tetapi tidak mudah juga untuk kulakukan secara sempurna. Apakah itu? Ini tentang sikap yang benar antara atasan dengan bawahan, antara majikan dengan pembantunya. Bagaimana ceritanya? Beginilah ceritanya. Dimulai dari hari kemarin sore, ketika aku sedang mandi sore. Asa, putri kami—anugerah TUHAN—tiba-tiba menangis keras. Tidak ada satu pun yang langsung sigap menenangkannya karena aku sedang mandi. Mas Cah, sang suami dan ayah Asa, sedang pergi bekerja. Asa terbangun dari tidur sorenya. Aku masih di kamar mandi. Kira-kira lima menit Asa menangis keras sampai sesenggukan. Cepat-cepat kuselesaikan ritual mandi soreku, dan segera menuju ke boks tempat tidur bayi. Hampir bersamaan dengan itu, Lek Sar—sang pekerja rumah tangga—pun masuk ke kamar kami. Dengan pembawaan yang tidak pernah kalem dan selalu menomorsatukan teriakan, Lek Sar pun berkomentar begini,
                “Ya ampun, kok ditinggal! Mbak Mimi…!!!”
                Tanpa membalas komentarnya yang cenderung menyalahkanku, padahal aku sudah tahu kalau aku salah, aku segera bertindak menenangkan Asa. Ternyata Asa mengompol. Segera kulakukan prosedur menolong bayi mengompol. Karena Asa belum mandi, sekalian saja kumandikan dia. Lek Sar pun membantu mempersiapkan air. Karena komentar-komentar yang sebentar-sebentar muncul dari Lek Sar, yang cenderung menggangguku, aku berusaha keras tidak menghardik Lek Sar. Secara manusiawi, atau lebih tepatnya disebut kedagingan, aku ingin marah-marah terhadap Lek Sar. Aku tidak suka dikomentari padahal aku sudah tahu kesalahanku. Maka, aku dengan cepat memandikan Asa dan kusuruh Lek Sar diam.
                “Wis, tidak usah komentar!” begitu kataku dengan nada yang tegas dan cenderung galak. Memang, aku sedang menahan kemarahan yang timbul.
                Lek Sar pun diam. Namun Asa terus menangis dan semakin keras menangis. Segera kusiapkan susu. Kuberikan pada Asa. Lumayan menolong. Tapi tangis Asa masih belum berhenti. Lek Sar pun berinisiatif menggendong Asa dengan selendang. Tapi karena kemarahan dan cemburu sudah menguasaiku, kularang niat Lek Sar. Kusuruh Lek Sar pergi ke luar kamar. Lek Sar pun pergi. Sepertinya agak kecewa Lek Sar karena niat baiknya kutepis dengan amat kasar. Setelah Lek Sar pergi, kucoba segala cara untuk menenangkan Asa. Berhasil memang. Tapi suara lembut Tuhan terus berbicara dalam hatiku.
                “Seharusnya kamu tidak boleh begitu, Mi,” kata-Nya. “Kasihan Lek Sar. Kamu harus membuang semua geram amarah dan api cemburu yang tidak pada tempatnya itu! Ingat, kasih itu sabar. Kasih itu tidak cemburu…” kurang lebihnya begitulah suara dalam hatiku berkata-kata menyadarkanku.
                Aku sadar aku tidak boleh marah, tidak boleh cemburu pada Lek Sar. Aku tahu aku telah bersikap arogan dan sombong. Mentang-mentang Lek Sar adalah PRT keluargaku, maka aku pun merasa berhak memarahinya dengan sewenang-wenang. Dengan susah payah aku menenangkan diriku kembali. Aku minta ampun pada Tuhan. Aku pun melepaskan pengampunan untuk Lek Sar. Hari kemarin berakhir dengan kemenangan yang susah payah kurebut kembali.
                Puji Tuhan, hari ini aku kembali berdamai dengan Lek Sar. Aku ingatkan diriku berkali-kali untuk tidak marah. Kuusahakan diriku untuk bersikap baik dan ramah terhadap Lek Sar. Kubuang jauh-jauh sikap angkuh dan aroganku kemarin. Sikap yang ketus dan galak kuganti dengan sikap yang baik dan ramah. Puji Tuhan, berhasil! Tentu saja bukan dengan kekuatanku sendiri, melainkan dengan kekuatan Roh Tuhan. Kesalahan hari kemarin tidak kuulangi lagi. Ketika sudah selesai memandikan Asa, dengan bantuan Lek Sar yang menyiapkan air, aku meminta Lek Sar untuk menjagai Asa sementara aku pergi mandi sore. Dan sungguh luar biasa. Kesalahan tidak terulang. Asa banyak tertawa. Kupotret ketika Asa sedang tertawa, dan kuunggah ke Facebook. Sangat menghibur. Kubiarkan Lek Sar menggendong Asa sampai Asa tertidur. Aku tahu, ini pun merupakan hiburan tersendiri bagi Lek Sar yang hidupnya tidak seberuntung hidupku. Lek Sar pun kupersilahkan untuk pergi setelah meletakkan Asa di boksnya. Desakan yang kuat tapi lembut dari Tuhan dalam hatiku menyuruhku untuk mengucapkan terima kasih pada Les Sar. Aku pun taat.
                “Matur nuwun…” kataku.
                “Iyaaa…” jawab Lek Sar riang, seolah tanpa beban.
                Dan sisa hari ini pun berlalu dengan penuh sukacita kemenangan. Haleluya!
                Apa yang kupelajari dari kejadian ini? Aku belajar untuk bersikap baik, sopan, dan ramah terhadap orang-orang di bawahku. Tentu saja dengan tulus dan jujur. Seperti apa karakter kita itu salah satunya ditentukan dengan  melihat bagaimana sikap kita terhadap orang-orang di bawah kita. Aku belajar bahwa keseharian kita di rumahlah yang membentuk karakter dan perilaku kita. Jika di rumah kita sudah terbiasa bersikap baik sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka di mana pun kita berada, kita akan membawa kebiasaan itu pula. Termasuk di tempat kerja. Jika kita merasa diperlakukan sewenang-wenang oleh atasan kita, mungkin kita perlu introspeksi diri, apakah sikap kita di rumah juga seperti atasan kita yang kita nilai sewenang-wenang. Dengan berkaca diri sedemikian rupa, maka niscaya terhindarlah kita dari sikap-sikap negatif yag memperkeruh suasana di lingkungan kerja. Dengan pimpinan dan bimbingan dari Roh Kudus, maka kita dimampukan untuk bersikap benar terhadap bawahan kita. Terpujilah nama Tuhan!

(Rumah Kemuliaan TUHAN di Pelem Kecut, Rabu 19 Desember 2012)

Bapa yang baik,
Terima kasih untuk pelajaran-Mu melalui interaksiku dengan Lek Sar. Terima kasih telah menegur dan mengajariku secara lembut untuk bersikap sabar dan penuh kasih. Terima kasih untuk kesabaran-Mu dalam mendidikku. Kiranya karakterku di rumah dapat terbentuk semakin indah di mata-Mu. Berkati Lek Sar, Bapa. Kiranya Lek Sar pun beroleh kesempayan untuk mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya secara pribadi.
Dalam nama Tuhan Yesus, haleluya.

Amin.

Tidak ada komentar: