Minggu, 07 Maret 2010

Grace II

Batin Grace berkecamuk. Antara rasa marah, benci, dongkol, dan berjuta perasaan negatif lainnya. Grace benci sekali dikasihani oleh orang lain. Grace sudah merasa kehilangan segala hal yang berharga dalam hidupnya. Cita-cita, pengharapan, masa depan, teman-teman, dan dirinya sendiri. Hilang sudah semua minat dan semangat hidupnya. Rasanya hidupnya hampa. Tidak ada lagi canda tawa. Tidak ada lagi sukacita. Semuanya muram. Masa depannya suram. Rasanya hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Hanya Tuhan yang tahu dan hanya Tuhan yang bisa menolongnya. Tapi bagaimana? Tanya Grace dalam hati. Semuanya tampak sia-sia.
Teman-teman yang dulu begitu dekat dengannya kini tidak ada lagi yang menyapanya atau sekedar menanyakan kabarnya. Komunikasi dengan mereka, dengan Melody, Martin, Bang Imanuel, dan teman-teman persekutuan telah terputus. Sepertinya keluarga Grace sengaja menjauhkan Grace dari mereka-mereka yang selama ini dianggapnya sebagai keluarga rohaninya. Dengan Bu Isadora pun hanya kadang-kadang saja Grace berhubungan, tapi Grace sedang tidak ingin bertemu dengannya. Yang paling dirindukannya hanyalah saat-saat tenteram di rumah sendirian. Ya, sendirian. Grace sedang tidak ingin diganggu dalam kesendiriannya itu.
Yang bikin Grace kesal dan marah adalah tidak adanya tanggapan dari orang yang selama itu dianggap sebagai sahabat, saudara sehatinya, Melody. Pagi itu dini hari Grace sudah mengirimkan SMS berisi permintaan tolong dan dukungan doa. Tapi sepertinya Melody diam saja, tidak ada balasan SMS atau telepon, apalagi kunjungan kasih. Grace benci mengakuinya, ia sebenarnya kesepian. Kesepian yang teramat sangat. Tidak ada teman yang dekat dengan Grace selama kurun waktu setahun sejak kejadian Grace kabur dari rumah. Ke kampus pun Grace hanya sekedar datang kuliah dan tidak menyapa teman-temannya. Grace benar-benar telah menjadi anak yang hilang. Namun Grace benci mengakuinya.
Kesibukan sehari-hari Grace hanyalah pergi kuliah, pulang, makan, mandi, dan tidur sepanjang hari. Begitu terus. Lambat laun badan Grace pun menunjukkan perubahan yang drastis. Grace menjadi kelebihan berat badan karena kurang aktivitas fisik. Seperti masuk ke lingkaran setan saja. Saat Grace merasa suasana hatinya memburuk, Grace lari ke makanan. Dan saat Grace menyadari bahwa berat badannya semakin bertambah, suasana hatinya pun semakin memburuk. Begitu seterusnya. Ditambah lagi Grace harus minum obat-obatan psikotropika yang Grace tidak tahu apa namanya, yang menyebabkan Grace jadi mudah mengantuk dan sulit berkonsentrasi seperti dulu. Kuliah Grace pun seperti tidak ada artinya lagi. Grace memang masih belajar dan membaca beberapa buku teks, tetapi tanpa semangat dan tujuan. Sehingga, tidak heran jika prestasi Grace tidak lagi menonjol seperti sebelum sakit. Indeks prestasinya pun pas-pasan saja. Semua itu membuat Grace jemu dan ingin mengakhiri semuanya. Tapi Grace tidak tahu bagaimana caranya.
“Tuhan, ambil saja nyawaku ini,” begitu doa Grace setiap hari bahkan setiap waktu. Mirip sekali dengan doa nabi Elia ketika beliau sedang depresi berat. Bedanya, Grace bukan nabi dan Grace tidak bertemu dengan malaikat Tuhan apalagi diberi penglihatan atau mendengar suara Tuhan secara audibel.
“Tuhan, di mana teman-temanku? Di mana saudara-saudaraku seiman? Di mana mereka saat aku membutuhkan?” jerit Grace dalam hati. Dan sepertinya Tuhan diam saja tidak langsung menjawab Grace seperti yang Grace mau. Sebaliknya, Grace malah sering sekali dikunjungi oleh Om Sammy dan keluarganya. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, Grace tidak peduli.
“Ibu dan bapakku tidak ada yang mengetahui apa yang kurasakan,” batin Grace, “Dan aku nggak mau repot-repot menceritakan apa yang kurasakan.Biarlah mereka sendiri yang mencari tahu dan kalau mereka berdoa pasti Tuhan menjawab mereka secara langsung,” begitu pikir Grace. Masih tersisa sedikit harga diri, atau mungkin kesombongan, yang membuat hati Grace keras bagai batu karang.
“Grace, ibu bukan Tuhan. Karena itu kalau Grace tidak menceritakan apa yang Grace rasakan, ibu juga tidak tahu,” begitu ibu Grace, Putri, pernah berkata kepada Grace saat Grace berdiam diri sepanjang hari. Namun karena Grace masih dipenuhi amarah dan kebencian yang amat sangat, Grace tidak menggubrisnya dan tetap melakukan aksi diamnya. Grace berpikir, biar saja mereka berdoa dan mencari tahu dari Tuhan secara langsung karena selama ini Grace masih tetap berkomunikasi dengan Tuhan dalam hati. Yang Grace lupa barangkali adalah adanya kebenaran firman Tuhan yang mengatakan bahwa tidak mungkin mengasihi Tuhan yang tidak dilihatnya kalau dia tidak bisa mengasihi orang lain yang bisa dilihatnya.
Grace semakin tenggelam dalam pikirannya yang suram. Apalagi dengan mimpinya semalam.
Sosok misterius.
Sosok yang mengancam.
Grace takut. Amat takut.

Tidak ada komentar: