Rabu, 10 Maret 2010

Gunawan

Malam itu Gunawan tidak bisa tenang memikirkan Grace, putrinya, yang entah kenapa rela diizinkannya untuk kembali mengikuti kegiatan persekutuan God’s Army. Persekutuan atau kegiatan keagamaan memang sengaja Gunawan hindarkan selama ini dari Grace karena Gunawan yakin kegiatan-kegiatan semacam itulah yang menyebabkan Grace stress berat setahun yang lalu. Gunawan memang bukan orang yang terlalu mementingkan hal-hal yang berbau rohani dalam hidupnya. Bahkan ia cenderung skeptis terhadap hal-hal rohani itu. Baginya, yang penting ia bekerja dan berusaha untuk kebaikan dan kelanggengan keluarganya, itu sudah cukup. Urusan doa dan ibadah cukup dilakukan setiap kali makan dan menghadiri kebaktian hari Minggu. Rasa-rasanya tidaklah terlalu perlu bagi Gunawan untuk menambah aktivitas kerohanian selain itu. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana hidup berdampingan dengan tetangga yang berlainan keyakinan tanpa harus terlalu fanatik terhadap keyaninan pribadinya. Karena itu Gunawan lebih banyak terlibat dalam aktivitas ronda dan tenis bersama tetangganya daripada bersekutu dengan jemaat di gereja atau persekutuan.
Gunawan yang sekuler dan Grace yang sangat rohani. Benar-benar dua kutub yang berlainan. Tapi biar bagaimana pun juga, Gunawan tetaplah ayah Grace yang sangat bertanggung jawab. Dia tidak akan pernah membiarkan Grace mengalami hal-hal yang membahayakan dirinya maupun orang lain. Karena itu, ketika Grace pertama kali stres berat setahun yang lalu dan kabur dari rumah, Gunawan dengan panik menghubungi semua keluarga dan kenalannya dan mencari Grace ke sana ke mari sampai ditemukannya Grace sedang duduk terpekur di rumah Ibu Isadora, guru sekolah Grace. Itu sudah setahun berlalu, tapi Gunawan merasa masih seperti kemarin saja. Dia tidak rela kehilangan Grace lagi. Karena itu, Gunawan tidak dapat tidur sebelum Grace pulang dari acara persekutuan malam itu.
“Aku pulang,” terdengar suara Grace yang masuk ke rumah setelah memarkirkan mobil Escudo yang biasa dikendarainya ke mana-mana.
Gunawan hanya berdeham tanpa berkata apa-apa untuk membalasnya. Memang dia tidak terbiasa untuk berkomunikasi verbal dengan anggota keluarganya. Gunawan cenderung dingin dan kaku dalam berkomunikasi, tapi dalam hatinya ia sebetulnya adalah ayah yang baik dan penyayang. Dilihatnya Grace tampak lebih cerah dan ceria. Mungkin acara persekutuan malam itu telah membangkitkan semangat Grace. Mungkin perkiraannya selama ini salah. Mungkin bukan persekutuan itu yang membuat Grace menjadi stress berat. Yah, kita lihat saja nanti, pikir Gunawan.
“Sudah makan belum?” tanya Gunawan kepada Grace yang sedang melepas sandalnya.
“Belum. Nggak lapar,” jawab Grace singkat kemudian langsung naik ke atas ke kamar tidurnya. Sepertinya Grace bakal langsung tertidur.
Gunawan kembali tenggelam dalam membaca koran hari itu. Pikirannya yang tadinya begitu mengkhawatirkan Grace lambat laun berangsur tenang. Sebenarnya Gunawan ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan Grace, tetapi ia tidak tahu bagaimana memulainya. Gunawan ingin tahu apa saja yang dilakukan Grace, bagaimana kuliahnya, dan apa sih sebenarnya yang disukainya dari kegiatan persekutuan. Ingin rasanya Gunawan kembali ke masa ketika Grace masih anak-anak, masih sekolah dasar. Dulu, Grace begitu dekat dan terbuka dengannya. Apa pun Grace ceritakan kepada Gunawan. Tentang sekolah, tentang teman-teman, tentang guru, dan tentang cita-citanya. Gunawan begitu bangga karena Grace sangat mengidolakannya. Tapi ketika Grace beranjak SMP, semua itu seolah berubah dengan drastis. Gunawan tahu betul apa sebabnya. Kenangan pahit. Gunawan tidak ingin mengingatnya. Cukup semuanya terkubur di masa lalu. Semuanya sudah berlalu. Yang penting sekarang keluarganya masih utuh.
Hari sudah larut malam ketika Gunawan selesai membaca koran. Waktunya untuk tidur. Gunawan pun naik ke lantai atas dan masuk ke kamar tidurnya yang terpisah dari kamar tidur Putri, istrinya. Sudah beberapa tahun ini mereka tidur terpisah meskipun masih satu rumah. Tidak ada yang tahu apa sebabnya. Hanya Gunawan dan Putri saja yang tahu. Dan Grace pun tidak pernah bertanya atau protes. Yah, inilah keluargaku, pikir Gunawan. Baik atau buruk, tetaplah keluargaku.

Tidak ada komentar: