Sabtu, 13 Maret 2010

Masalah-2

Grace masih penasaran dengan nasib kak Salomo. Seingatnya, kak Salomo adalah orang yang ramah dan pintar. Waktu Grace masuk kuliah pertama kali dulu, dan ikut acara orientasi kampus, kak Salomolah orang yang pertama kali menyapanya dengan hangat. Perkenalan yang cukup seru. Kak Salomo banyak sekali bercanda dan melontarkan humor-humor garing yang membuat Grace dan teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi waktu acara PMK. Kak Salomo suka sekali memeriahkan suasana dengan gayanya yang lucu dalam memuji Tuhan. Rasanya tidak mungkin kak Salomo bisa mengalami stress sampai harus dirawat di Puri Nirmala. Grace begitu simpati dan merasa empati yang amat dalam dengan nasib kak Salomo. Apalagi Grace juga pernah mengalami stress berat, meskipun tidak sampai harus dirawat di rumah sakit, sehingga setidaknya dia merasa senasib dan sepenanggungan dengan kak Salomo.
“Aku ingin menjenguk kak Salomo, setidaknya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengannya,” kata Grace setelah kuliah selesai.
“Aku juga, Grace,” timpal Yesi. “Tapi kapan ya? Kuliah padat, praktikum tiap sore, belum lagi mau ujian. Duh, bingung deh.”
“Bagaimana kalau besok Minggu? Nggak ada acara kan?” usul Grace.
“Sepertinya nggak ada. Mungkin habis dari kebaktian di gereja, siang-siang kalau begitu,” kata Nita.
“Okelah… berarti besok Minggu kita jenguk kak Salomo di Puri Nirmala bareng-bareng, ya,” kata Grace yang diiyakan oleh semuanya.
“Grace, kamu tadi menyimak kuliah nggak?” tanya Fifi tiba-tiba saat mereka berempat sudah duduk di bangku taman, di bawah pohon jambu monyet yang sedang berbuah lebat.
“Pertanyaan apa itu? Menyindir ya?” balas Grace dengan pura-pura tersinggung. Semua yang mendengarnya tertawa geli.
“Bukan, Grace,” kata Fifi dengan masih tertawa. “Aku cuma mau tanya dan sedikit minta pendapatmu.”
“Tentang apa?”
“Ya tentang apa yang disampaikan oleh dosen kita yang terhormat itu tadi. Tentang gangguan jiwa,” jawab Fifi dengan lebih serius. “Menurutmu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan jiwa?”
“Wah, ada banyak hal yang bisa bikin seseorang mengalami gangguan jiwa. Bisa karena masalah fisik, misalnya ada gangguan di otaknya. Bisa juga karena masalah psikologis, misalnya karena kepribadian seseorang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya,” kata Grace mengingat-ingat apa yang tadi didengarnya waktu kuliah.
“Cuma itu saja?” tanya Fifi.
“Maksudmu?” Grace balik bertanya.
“Bagaimana dengan adanya gangguan roh jahat?”
“Ooo, itu…” Grace diam sejenak. “Dosen kita tadi menyangkal dengan tegas adanya fenomena roh jahat.”
“Iya, beliau tidak percaya bahwa roh jahat itu benar-benar ada,” timpal Yesi yang disetujui pula oleh Nita.
“Dosen kita yakin seyakin-yakinnya bahwa yang namanya dirasuk roh jahat itu nggak ada, yang ada hanya gangguan mental,” terang Fifi dengan berapi-api. “Sehingga konsekuensinya, semua yang dianggapnya sebagai gangguan mental itu akan ditanganinya dengan terapi medis seperti yang selama ini dipelajarinya, yaitu dengan obat-obatan atau dengan terapi-terapi yang lain.” Semua mengangguk-angguk mendengarkan Fifi dengan seksama.
“Masalahnya, bagaimana kalau seseorang itu benar-benar kerasukan roh jahat, lepas dari kita mau percaya apa nggak percaya dengan adanya realitas tersebut?” Fifi mengajukan pertanyaan yang lebih terdengar sebagai retorika.
“Memangnya roh jahat benar-benar ada ya?” tanya Nita tiba-tiba.
“Tentu saja ada,” balas Grace dengan mantap. “Di Alkitab kita menjumpai bagaimana Tuhan Yesus sering sekali berkonfrontasi dengan roh-roh jahat.”
“Itu kan di zaman Alkitab, Grace,” kata Nita. “Memangnya zaman sekarang masih ada ya?”
“Tentu saja! Apa yang terjadi di zaman Alkitab itu masih berlaku sampai dengan masa sekarang, bahkan sampai kapan pun!” Grace berseru dengan lantang. Untuk urusan yang satu ini, Grace memang sangat radikal. Radikal dalam iman.
“Berarti mukjizat-mukjizat kesembuhah itu juga masih bisa terjadi sekarang ini, Grace?” tanya Nita. “Kok rasanya mustahil, ya…”
“Nggak ada yang mustahil bagi Tuhan, Nit,” jawab Grace. “Semuanya tergantung bagaimana iman kita, mau mempercayainya atau tidak.” Nita yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala.
“Kembali ke topik roh jahat,” kata Fifi kemudian. “Menurut kalian, apakah semua gangguan jiwa itu disebabkan oleh roh jahat?”
“Hmmm… sepengetahuanku, ada gangguan jiwa yang murni gangguan jiwa, ada juga yang karena dirasuk atau diganggu roh jahat, tapi ada juga yang kombinasi dari gangguan jiwa dan gangguan roh jahat,” kata Grace.
“Wow… lalu bagaimana kita bisa membedakannya?” tanya Nita ingin tahu. Topik ini rupanya telah menarik perhatiannya sedemikian rupa.
Susah sih untuk yang belum berpengalaman,” kata Grace. “Tapi sebagai orang Kristen, kita bisa minta pertolongan Roh Kudus.”
“Wah Grace, kita ini kan sekolah kedokteran, bagaiman kita bisa mengaplikasikan ilmu kita? Kalau masalah Roh Kudus, itu kan jatahnya para pendeta dan hamba Tuhan,” kata Fifi.
“Lho, kita kan bukan sekedar dokter, Kita kan dokter yang Kristen. Jadi, dalam mengaplikasikan ilmu kedokteran yang kita punyai, kita tetap harus berserah pada Roh Kudus,” jawab Grace dengan sabar.
“Ok deh, aku memang belum begitu berpengalaman dalam berhubungan dengan Roh Kudus,” kata Fifi. “Sekarang dari sisi medis aja dulu, apa yang kita lakukan kalau tiba-tiba diperhadapkan dengan seseorang dengan gangguan jiwa yang kita nggak tahu apakah itu murni gangguan jiwa atau karena kerasukan roh jahat?”
“Hmmm…” Grace sibuk berpikir,”Hei, Yesi, sedari tadi kok kamu diam saja? Bagaimana menurut pendapatmu?”
“Aku… aku agak ngeri kalau berbicara tentang roh jahat,” kata Yesi dengan malu-malu. Rupanya Yesi sedang merinding.
“Kenapa ngeri? Inikan realitas yang ada,” kata Grace.
“Yah, takut aja…”
“Yesi, Yesi… bukankah kita semua anak-anak Tuhan? Dan bukankah Roh yang ada pada kita itu lebih besar daripada roh yang ada di dunia ini? Lagipula Tuhan Yesus kan jauh lebih berkuasa daripada roh-roh jahat. Iblis aja takut sama Tuhan Yesus. Jadi, untuk apa kita takut terhadap roh jahat?” kata Grace lagi.
“Kamu nggak takut, Grace?” tanya Yesi.
“Yah, aku pernah takut. Tapi setelah aku mengenal kebenaran firman Tuhan dan percaya kepadaNya dengan sepenuh hati, entah bagaimana ketakutan itu menyingkir,” kata Grace.
“Wah, Grace… seharusnya kamu nggak masuk jurusan kedokteran ini. Seharusnya kamu masuk theologia atau sekolah pelayanan aja,” kata Yesi dengan terkagum-kagum.
“Aku juga sempat berpikiran begitu, tapi sepertinya Tuhan ingin aku di sini untuk rencanaNya yang mulia, entah apa itu,” jawab Grace dengan bijak.
“Terus, bagaimana dengan pertanyaanku yang belum terjawab tadi?” tanya Fifi kembali mengarahkan teman-temannya. “Apa yang dapat kita lakukan untuk menolong orang yang entah dia gangguan jiwa atau dirasuk roh jahat?”
“Menurutku…” kata Yesi mencoba menjawab,”Ada baiknya kita gunakan cara-cara medis seperti yang kita ketahui terlebih dahulu. Misalnya, kalau orang itu gaduh gelisah, kita beri obat penenang sesuai dosis yang diperlukan. Kalau ternyata tidak mempan juga, dan ternyata orang itu malah menunjukkan keganjilan-keganjilan yang tida mungkin terjadi pada orang normal, maka dapat dipastikan bahwa roh jahat terlibat di sana. Saat itulah kita baru menggunakan cara-cara yang dipimpin oleh Roh Kudus, maksudku cara-cara di luar medis… Misalnya dengan doa atau minta bantuan ke hamba Tuhan yang khusus melayani yang seperti itu…”
“Seperti pelayanan pelepasan, begitu kan?” sahut Grace.
“Iya, seperti itu…” lanjut Yesi. “Aku memang masih buta soal pelayanan pelepasan. Tapi sepertinya di masa mendatang kita perlu membuka diri terhadap hal-hal rohani lebih lagi, karena seperti kata Grace, kita ini bukan hanya dokter melainkan dokter Kriten. Mau tidak mau kita bakal berhadapan dengan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan oleh nalar manusia. Kita perlu bergantung terus pada Roh Kudus dan firman Tuhan. Begitu kan, Grace?”
“Iya, betul…” kata Grace terkagu-kagum oleh hikmat yang dimiliki Yesi.
“Jadi kesimpulannya, roh jahat itu benar-benar ada dan kita tidak boleh takut dalam menghadapinya. Jangan sampai kita salah mengobati orang yang gangguan jiwa atau dirasuk roh jahat,” kata Fifi mengakhiri diskusinya. Mereka berempat kemudian melanjutkan dengan makan-makan di kantin sambil merencanakan acara kunjungan ke Puri Nirmala menengok kak Salomo.

Tidak ada komentar: