Minggu, 07 Maret 2010

Marry

Bertahun-tahun hidup bersama Sammy, suaminya, telah membuat Marry memahami dan semakin menghayati hidup bersahaja dalam Tuhan. Memang kehidupan rumah tangganya sangatlah sederhana, tapi di balik semua kesederhaan itu terdapat kekayaan rohani yang tak ternilai. Bersama Sammy dan kedua anaknya, Anna dan Joni, Marry menikmati kelimpahan kasih, sukacita, damai sejahtera, dan buah-buah Roh lainnya. Memang kadangkala Marry merasa kurang bersyukur dengan keadaan finansialnya yang serba pas-pasan dan bahkan kekurangan, tapi itu semua tidak menyurutkan semangatnya dalam menjalani hidup bersama Tuhan dan keluarganya. Kehidupan keluarganya memang tidak seberuntung kakak iparnya, yaitu keluarga pasangan dokter Gunawan dan Putri, orangtua Grace. Tapi setidaknya Marry bersyukur atas pemeliharaan Tuhan atas keluarganya yang begitu luar biasa.
Hari itu Marry mengajak Sammy untuk mengunjungi Grace. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana perkembangan kondisi Grace, terutama setelah setahun Grace mengalami goncangan jiwa. Marry tidak habis pikir bagaimana Grace bisa seperti itu. Marry sangat prihatin dan hanya bisa berdoa untuk kesembuhan jiwa Grace, karena Marry percaya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Segala macam penyakit dapat disembuhkan asal ada iman kepada Tuhan Yesus, apa pun penyakit itu, penyakit jiwa sekalipun. Marry tahu, kedua kakak iparnya yang adalah dokter memang jauh lebih berpengetahuan dalam dunia medis dan obat-obatan. Tapi dalam kasus Grace ini, Marry merasa bahwa obat-obatan bukanlah jawaban satu-satunya. Perlu ada sentuhan kasih dan komunikasi yang terbuka untuk menguraikan masalah yang terpendam dalam diri Grace.
Di rumah Grace di bilangan Jalan Gejayan, Marry dan Sammy beserta Ann dan Joni datang dengan membawa sedikit oleh-oleh berupa tahu bakso kesukaan Grace bikinan Marry. Didapatinya Grace sedang berbaring di kasur lipat di depan televisi ruang keluarga. Selalu begitu kondisi Grace setiap kali Marry berkunjung ke rumahnya. Tidak pernah dilihatnya Grace melakukan hal-hal lain selain tidur atau berbaring di depan televisi. Sudah setahun berlalu, kondisi Grace masih juga belum mengalami perkembangan yang berarti. Marry melihat hilangnya energi dan sukacita dalam diri Grace. Grace yang cerdas dan baik hati itu kini menjadi Grace yang murung dan apatis. Memang selama ini Grace jarang menceritakan isi hatinya kecuali kepada orang-orang yang benar-benar dipercayainya, dan Marry beruntung karena dia termasuk salah satu dari beberapa orang yang dipercayai Grace. Marry ingat bagaimana dulu sebelum sakit, Grace banyak bercerita mengenai cita-cita, harapan, dan impiannya. Begitu besar dan luar biasanya harapan Grace sehingga membuat Marry pun ikut terinspirasi. Marry yang tadinya agak minder karena hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga biasa akhirnya bangkit dengan membuat usaha membikin tahu bakso yang dijualnya dari rumah ke rumah. Semua itu juga karena inspirasi dari Grace yang banyak menceritakan mimpi-mimpinya itu. Tapi lihatlah sekarang. Sang sumber inspirasi itu tergolek lemah tanpa daya.
“Grace, ini om sama tante bawain tahu bakso. Ditaruh di meja, ya Grace…” kata Marry lembut. Grace hanya mengerang tanpa menoleh. Sepertinya Grace sudah tertidur agak lama.
“Grace, ini ada Ann sama Joni pingin main-main bola di halaman belakang. Boleh ya?” Tanya Marry lagi. Sekali lagi Grace hanya mengeluarkan erangan tanda setuju.
“Bapak ibu ke mana Grace?” tanya Sammy.
“Nggak tahu… Belum pulang…,” jawab Grace sekenanya.
“O belum pulang ya… Ya sudah, om sama tante nunggu di sini dulu ya…” kata Sammy sambil mengambil satu eksemplar koran Kedaulatan Rakyat yang ditata rapi oleh ayah Grace. Sambil duduk dan membaca, Sammy sebentar-sebentar melirik ke arah Grace.
Marry dan Sammy duduk terdiam di ruang keluarga rumah Grace. Tak ada yang memulai pembicaraan. Semuanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Grace pun tidak beranjak dari tempat tidurnya. Suasana hening. Dalam keheningan itu, Marry dalam hati berdoa kepada Tuhan, “Ya Bapa, tolong aku untuk bisa membantu Grace dan keluarganya. Tolong angkat kembali jiwa Grace yang patah ini, Bapa.” Kemudian Marry pun hanyut dalam pikirannya sendiri.

Tidak ada komentar: